5 Mitos menyesatkan tentang smartphone quad-core

Sabtu, 28 Juni 2014 10:00 Reporter : Bramy Biantoro
5 Mitos menyesatkan tentang smartphone quad-core 5 mitos smartphone quadcore. ©2014 Verizon & Wired

Merdeka.com - Tidak ada konsumen yang mau mengeluarkan uang sia-sia, terutama untuk membeli perangkat komunikasi mobile yang cukup mahal. Oleh sebab itu, banyak yang harus berpikir dua kali saat ingin membeli smartphone dengan teknologi prosesor kelas 1, quad-core. Apakah otak berinti empat itu bisa meningkatkan performa gadget kita?

Singkatnya, teori kerja prosesor dengan inti ganda dapat diibaratkan sebagai proses perakitan barang di pabrik. Dengan mempunyai banyak inti, berarti tugas yang seharusnya dikerjakan oleh satu orang bisa diselesaikan oleh 2 orang atau lebih. Oleh sebab itu banyak yang menilai jika prosesor quad-core mampu mengeksekusi aplikasi lebih cepat hingga mendapatkan kualitas grafis yang lebih menawan.

Tetapi ternyata tidak kenyataannya tidak semudah itu. Ada beberapa hal yang dapat merusak opini publik terhadap kemampuan prosesor quad-core. Berikut adalah mitos salah yang selama ini membayangi penggunaan prosesor quad-core.

1 dari 5 halaman

Semua smartphone berprosesor quad-core lebih baik dari pada dual-core

5 mitos smartphone quadcore. ?2014 Verizon & Wired

Teknologi multicore (inti ganda) pada prosesor memang belum muncul terlalu lama. Banyak orang yang akhirnya menganggap hal tersebut sebagai inovasi terbaru yang bisa meningkatkan kemampuan dari perangkat mobile.

Tidak salah memang, tetapi harus diketahui jika keempat inti yang ada pada prosesor quad-core terdiri dari chip-chip individu yang berbasis chip ARM. Kualitas chip itu lah yang pada akhirnya juga menentukan kecepatan prosesor, seperti ARM A9, A11, atau A15. Bayangkan jika dalam proses perakitan barang kita mempunyai empat orang, tapi dua dari mereka tidak terlalu berkompeten. Hasilnya pasti kerja secara kelompok tidak akan maksimal.

Pada teorinya, prosesor dual-core dengan chip A15 akan mempunyai kemampuan yang setara dengan prosesor quad-core ber-chip A9. Alhasil, smartphone HTC One X dengan prosesor quad-core Tegra 3 milik Nvidia yang berbasiskan chip ARM Cortex-A9 mempunyai kemampuan setara dengan Samsung Galaxy S4 yang hanya dibekali dengan prosesor dual-core Snapdragon berbasis chip ARM Cortex-A15.

2 dari 5 halaman

Inti dobel, performa smartphone bertambah 2 kali lipat

5 mitos smartphone quadcore. ?2014 Verizon & Wired

Ketika merubah prosesor dual-core menjadi quad-core, produsen hardware otomatis harus menambah chip hingga dua kali lipat. Ingat, mereka hanya melipatgandakan inti, tanpa melakukan penambahan di sektor lain.

Keempat inti dari prosesor quad-core sejatinya masih akan tetap berbagi dalam banyak sumberdaya pada smartphone. Baterai hingga memori (baik RAM maupun ROM) merupakan contoh sumberdaya yang harus dibagi dengan adil untuk proses yang dijalankan oleh masing-masing inti.

Jangan lupa faktor lain yang juga sangat berpengaruh, yakni sistem operasi. Akan sangat sia-sia bila penambahan inti tidak diikuti oleh sistem operasi yang mampu memaksimalkan performa prosesor dengan inti ganda. Jika OS yang digunakan tidak terlalu kompatibel, maka pembagian tugas di keempat inti akan tidak merata. Ujung-ujungnya proses data tetap lemot.

Jadi meskipun terdapat penambahan performa, sebaiknya Anda tidak terlalu berharap hasil peningkatannya hingga dua kali lipat layaknya prosesornya.

3 dari 5 halaman

Smartphone quad-core menjalankan banyak aplikasi dengan lancar

Ilustrasi memakai smartphone. ?Shutterstock.com/CREATISTA

Banyak yang mengira dengan bertambahnya inti dari prosesor, kemampuannya untuk menjalankan multitasking menjadi lebih baik. Padahal, berapapun jumlah inti yang ada pada prosesor, beban yang dapat dibagi pada tiap intinya tetaplah ada batasnya.

Untuk membuat prosesor quad-core mampu mengeksekusi banyak aplikasi da game dalam satu waktu diperlukan kode khusus pada tiap aplikasi yang mampu menghubungkannya dengan sistem dan aplikasi yang lain. Hal ini ditujukan untuk efisiensi beban pemrosesan data oleh prosesor.

Aplikasi yang mempunyai sistem jaringan yang baik nantinya tidak akan mudah crash atau berhenti di tengah jalan.

Oleh sebab itu, penggunaan prosesor quad-core pada sebuah smartphone tidak akan banyak merubah performa jika aplikasi yang dijalankan tidak didesain dengan baik untuk berjalan di prosesor tersebut.

4 dari 5 halaman

Smartphone quad-core lebih boros dalam urusan konsumsi baterai

3 Persepsi salah seputar baterai smartphone. ? Androidauthority.com

Semakin cepat sebuah motor pastinya semakin banyak pula bahan bakar yang dibutuhkan. Paham seperti ini juga mampir ke smartphone dengan prosesor quad-core.

Banyak yang beranggapan bahwa sebuah prosesor quad-core mampu mendorong olah grafis yang lebih halus dan tajam, koneksi internet yang lebih cepat, dan akses ke beragam aplikasi dengan lebih cepat. Tentunya semua itu membutuhkan pengorbanan berupa daya baterai dalam jumlah besar.

Sebenarnya hal tersebut tak sepenuhnya salah, tetapi perlu dipahami jika untuk menjalankan beragam fungsi di smartphone, prosesor tidak berjalan sendirian. Bisa jadi hardware lain seperti layar lah yang menjadi sumber masalah dari konsumsi baterai yang boros.

Terlebih kini banyak produsen prosesor quad-core mulai menambahkan sistem optimalisasi pada prosesor agar mampu menyesuaikan konsumsi daya dengan beban pengolahan data. Contohnya, Nvidia Tegra 3 yang diklaim mampu menurunkan konsumsi daya saat prosesor tidak 'sedang' dibutuhkan untuk memakai performa terbaiknya.

5 dari 5 halaman

Hasil benchmark smartphone quad-core selalu yang paling unggul

Samsung Galaxy S5 Benchmark AnTuTu. ?2014 Softpedia.com

Saat pertama kali membeli smartphone atau mencari smartphone yang pantas untuk dibeli, konsumen masih banyak yang menggunakan situs atau aplikasi benchmark untuk menentukan kualitas smartphone tersebut.

Tapi ternyata tidak semua hasil benchmark menampilkan fakta dari performa si prosesor. Dalam tes-tes performa itu mayoritas data dipenuhi oleh hasil tes fitur-fitur yang sejatinya tidak terlalu berpengaruh terhadap performa smartphone. Parahnya, nilai untuk tes dari fitur yang tak berpengaruh biasanya tinggi. Hal ini dipercaya sebagai salah satu strategi untuk mendorong konsumen membeli produk tertentu. [bbo]

Baca juga:
Fakta dan mitos mistis soal daun kelor yang melegenda
Jangan percaya 5 mitos seputar performa internet ini
Duo Capres pun tak sanggup bendung euforia Piala Dunia 2014
Selamat ulang tahun Rakuten Indonesia

Topik berita Terkait:
  1. Smartphone
  2. Teknologi
  3. Top List
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini