4 Hal yang jadi tonggak sejarah dalam meluncurnya Satelit BRI

Kamis, 14 Juli 2016 20:00 Reporter : Indra Cahya
4 Hal yang jadi tonggak sejarah dalam meluncurnya Satelit BRI Tonggak sejarah peluncuran BRIsat. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - PT. Bank Rakyat Indonesia Tbk., telah meluncurkan satelit pada 19 Juni 2016 dini hari waktu Indonesia. Satelit milik BRI dengan nama BRIsat tersebut akan menjangkau wilayah layanan Indonesia dan negara-negara ASEAN, Asia Timur, sebagian wilayah Pasifik, serta Australia Barat. Meski mencakup wilayah besar, transponder yang dimiliki satelit ini akan secara khusus dialokasikan bagi kepentingan negara Indonesia.

Dengan adanya BRIsat yang dioperasikan sendiri oleh SDM yang dimiliki BRI, pemerintah pun akan memiliki sarana komunikasi lebih aman, mampu terhindar dari penyadapan karena kontrol saluran komunikasi dan enkripsi yang sepenuhnya ada di tangan Indonesia.

Berikut adalah beberapa hal yang jadi tonggak sejarah dalam peluncuran satelit yang jadi kebanggaan bangsa Indonesia ini.

1 dari 4 halaman

Penandatanganan kontrak

Tonggak sejarah peluncuran BRIsat. ©2016 Merdeka.com

Keputusan BRI untuk mengadakan proyek BRIsat bukanlah keputusan yang diambil secara tiba-tiba. Keputusan ini diambil setelah dilakukan studi kelayakan yang komprehensif, serta RFI (Request for Information) yang merupakan proses yang dilakukan untuk mencari informasi tertulis dari kapabilitas suplier yang akan menjalankan proyek ini. Proses ini dilakukan selama lebih dari satu tahun lamanya.

Proses ini juga meliputi studi kelayakan yang mengevaluasi penyewaan transponder satelit yang selama ini digunakan oleh BRI untuk kebutuhan komunikasi data dengan Kantor Wilayah, Kantor Cabang, KCP, BRI Unit, Kantor Kas, Teras BRI, Teras keliling, serta ATM yang berjumlah hampir 23 ribu jaringan yang tersebar di seluruh Indonesia. Dari studi kelayakan ini akhirnya disimpulkan bahwa penggunaan satelit untuk kebutuhan BRI sendiri sifatnya layak.

Dari semua hal tersebut, BRI menyadari bahwa pengadaan satelit memerlukan kompetensi tersendiri dengan dukungan SDM yang ahli di bidangnya. Maka dari itu BRI memutuskan untuk mencari personil yang merupakan para ahli di tingkat nasional yang berpengalaman, untuk didapuk sebagai konsultan BRI.

Dengan bantuan tim konsultan tersebut, dilakukan pekerjaan-pekerjaan pembuatan RFI satelit dan kendaraan peluncur, pengiriman Request for Proposal kepada kandidat manufaktur satelit, evaluasi proposal yang diterima, pemilihan pemenang sebagai hasil evaluasi tersebut, serta negosiasi kontrak yang diakhiri dengan penandatanganan kontrak.

Penandatanganan kontrak ini akhirnya tercapai setelah diperoleh pemenang atas tender yang diikuti oleh berbagai perusahaan manufaktur satelit. Pengadaan satelit BRIsat akhirnya dilakukan oleh SS/L (Space System/Loral) dari Amerika Serikat, serta pengadaan kendaraan peluncur dilakukan oleh Arianespace dari Perancis.

Penandatanganan kontrak dilakukan di Kantor Pusat BRI di Jl. Jendral Sudirman no. 44-46 pada tanggal 28 April 2014.

2 dari 4 halaman

Manufaktur satelit

Tonggak sejarah peluncuran BRIsat. ©2016 Merdeka.com

Satelit BRIsat diproduksi oleh SS/L, atau lebih dikenal sebagai Space Systems/Loral, dan pengerjaannya dilakukan di Palo Alto, California. SS/L adalah salah satu perusahaan manufaktur kendaraan luar angkasa yang terbaik di bidangnya, dengan 80 buah GEO-satelit buatan mereka yang kini sedang mengorbit di angkasa.

Sementara peluncur satelit BRIsat, diproduksi oleh Arianespace dari Perancis. BRIsat menggunakan peluncur terbaik dari Arianespace, yakni Ariane 5. Arianespace juga terbaik di bidangnya, di mana perusahaan Perancis ini memegang 50 persen pasar dunia untuk melontarkan satelit ke angkasa.

Ariane 5 adalah kendaraan peluncur yang saat ini merupakan kendaraan peluncur terbesar, dan mampu membawa beban/payload seberat 10 ton ke orbit GTO (Geostationary Transfer Orbit) dengan perigee 250 kilometer, dan apogee 36.000 kilometer. Selain itu Ariane 5 dapat meluncurkan 2 buah satelit dalam satu kali peluncuran.

Namun sebelum SS/L dan Arianespace yang ditentukan sebagai perusahaan manufaktur dan pengadaan peluncur satelit, pihak BRI membentuk Pengadaan Konsultan Teknik Nasional bersama organisasi profesi yang berkaitan dengan satelit, antara lain Mastel (Masyarakat Telekomunikasi Indonesia) dan ASSI (Asosiasi Satelit Seluruh Indonesia). Tujuan dari program ini adalah untuk membentuk tim konsultan yang bisa membantu pengawasan pembuatan satelit dan persiapan kendaraan peluncur.

3 dari 4 halaman

Peluncuran

Tonggak sejarah peluncuran BRIsat. ©2016 Merdeka.com

Hasil seleksi yang dilakukan BRI terhadap kendaraan peluncur menjatuhkan pilihan pada perusahaan asal Perancis, Arianespace. Dengan salah satu produknya yang bernama Ariane 5, kendaraan peluncur ini punya rasio kesuksesan tertinggi di dunia. Ariane 5 mencatat 72 kali berturut-turut mengalami kesuksesan.

Ariane 5 yang membawa satelit BRIsat, telah diluncurkan dari Kourou, sebuah kota di French Guyana yang terletak di bagian utara Amerika Selatan. Negara yang bersebelahan dengan Suriname ini cocok untuk lokasi peluncuran karena posisinya yang berada di 5 derajat Lintang Utara, membuatnya lebih dekat dengan Khatulistiwa. Hal ini akan mempermudah satelit GSO untuk mencapai orbit.

Selain itu, peluncuran dari Kourou memerlukan lebih sedikit bahan bakar ketimbang meluncurkannya dari lokasi yang biasa jadi lokasi peluncuran, yakni Cape Canaveral di Florida, AS. Hal ini dikarenakan peluncuran Ariane yang menghasilkan inklinasi 6 derajat, sementara peluncuran dari Cape Canaveral memberikan inklinasi sebesar 28,5 derajat.

Satelit-satelit ternama yang dilontarkan dari Kourou menggunakan roket seperti Soyuz buatan Rusia dan Vega dari Italia, yang semuanya merupakan bagian dan dioperasikan oleh Arianespace.

4 dari 4 halaman

Sukses mengorbit dan handover

Tonggak sejarah peluncuran BRIsat. ©2016 Merdeka.com

Setelah diluncurkan, BRIsat akan memulai perjalanan menuju destinasi akhir di slot 150.5 Bujur Timur. Masa perjalanan ini sangat krusial dan menentukan kesuksesan misi BRIsat. Proses perjalanan menuju orbit yang dikenal dengan istilah 'Orbit Raising' memerlukan waktu paling lama 10 hari. Setelah melakukan perjalanan menuju orbit, BRIsat akan menjalani uji coba untuk beroperasi dan melayani seluruh nusantara. 

Misi peluncuran BRIsat yang telah mengorbit tepat di atas langit Papua ini, sudah bisa dikatakan sukses karena satelit ini kini sudah berada di orbit geostasioner.

Sementara H+60, kira-kira bulan Agustus 2016, uji coba di orbit telah tuntas, dan pihak SS/L akan melakukan serah terima kepada tim BRIsat untuk selanjutnya ditangani sendiri oleh tim BRIsat. Tahap ini disebut tahap 'handover.'

Harus ada beberapa hal yang jadi syarat handover misi BRIsat, yaitu satelit harus sudah pada tempatnya, satelit sudah bisa berkomunikasi dengan pusat kendali, satelit telah berfungsi sebagai jaringan komunikasi, dan tim dari pihak BRI yang didukung seluruh infrastrukturnya telah siap mengoperasikan satelit BRIsat tersebut.

Tentu komitmen teguh dalam menyiapkan infrastruktur dan persiapan tim untuk pengelolaan BRIsat sudah dipersiapkan dengan sangat matang. Pusat pengendalian BRIsat yang dilengkapi dengan fasilitas 'full redundancy,' memastikan kualitas dan keamanan layanan akan lebih baik lagi.

[idc]
Topik berita Terkait:
  1. Satelit BRI
  2. Satelit Indonesia
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini