4 Faktor Gagalnya Mobil Otonom, Teknologi yang Tak Akan Pernah Ada?

Rabu, 9 Oktober 2019 13:34 Reporter : Indra Cahya
4 Faktor Gagalnya Mobil Otonom, Teknologi yang Tak Akan Pernah Ada? Alasan mengapa mobil otomatis masih sulit diterapkan. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Mobil otomatis atau mobil otonom, adalah sebuah teknologi yang rasanya masih sangat-sangat jauh. Saat ini, mobil listrik saja masih belum dipasarkan dengan masal, terlebih lagi mobil otomatis.

Berbagai hal seperti kondisi infrastruktur hingga dukungan Pemerintah, jadi hambatan tersendiri adanya teknologi ini di Tanah Air.

Pegiat mobil otomatis pun sudah sangat banyak. Mulai dari Waymo yang merupakan besutan perusahaan induk Google Alphabet, Cruise besutan perusahaan otomotif GM, Aurora yang didanai oleh Amazon, hingga Uber. Namun hambatan pun tetap ada dan membuat teknologi ini terasa jauh dari pelupuk mata.

Dalam survei yang dihelat Ansys, dilansir dari Mashable, disebut bahwa masyarakat dewasa pun pesimis akan hal ini, serta lebih dari separuh punya ketakutan jika teknologi ini akan membawa petaka.

Nah, berikut deretan faktor pesimistik yang membuat mobil otonom terasa masih jauh. Simak Yuk!

1 dari 4 halaman

Teknologinya Belum Siap

Menurut Mike Demler, analis teknologi dari Linley Group yang dikutip Mashable, mobil otonom level 5 (mobil otomatis secara keseluruhan, tanpa monitoring manusia), memang telah dipresentasikan dan mungkin akan datang dalam 5 tahun mendatang.

Namun disebut, saat ini teknologi tersebut belum siap. Ia menyebut bahwa mimpi soal mengubah segalanya jadi otomatis adalah fantasi. Meski demikian, ia menandai bahwa selalu ada tonggak sejarah kecil yang diukir untuk menuju hadirnya mobil otonom.

2 dari 4 halaman

Kesiapan Masyarakat

Chris Jacobs, VP di perusahaan prosesor mobil otomatis Analog Devices, menyebut bahwa deretan faktor penting untuk berhasilnya mobil otonom adalah penerimaan masyarakat, penerimaan dan regulasi pemerintah, serta diubahnya infrastruktur.

"Kita butuh membuat orang lebih terbiasa (dengan konsep mobil otonom) dan lebih nyaman," ungkap Jacobs.

3 dari 4 halaman

Mahal

Harga dari mobil otonom sangatlah mahal. Sensor kit saja, tanpa kendarannya, harganya bisa USD 100.000 atau setara RP 1,4 miliar. Terlebih lagi, mobil dengan sensor ini cukup sulit untuk diproduksi secara masal.

Ini berkebalikan dengan mobil konvensional yang dengan mudah diproduksi sehingga harganya terjangkau.

4 dari 4 halaman

Memasukkan Emosi Manusia Dalam Kecerdasan Robot

Mobil otomatis yang menggantikan peran manusia dalam menyetir, punya satu keharusan: manusiawi.

Dalam hal ini, banyak sifat dan kecerdasan emosi manusia yang harus diadaptasi oleh sebuah software dari mobil otomatis dan menerapkannya di jalan.

Ambil contoh gaya mengemudi di jalanan kota dan di kampung. Bagaimana mobil otonom menyikapi hal yang sangat dipengaruhi oleh cara berkendara dan juga budaya lokalnya ini. Hal ini yang sebenarnya membuat ada banyak sekali gaya mengemudi di tiap orang. Tentu gaya mengemudi orang Jakarta dan orang Malang akan berbeda karena faktor ini.

Faktor berikutnya adalah bagaimana penyikapan software dalam kondisi tertentu, yang biasanya diputuskan dengan logika manusia. Contohnya jika mobil otomatis harus berkendara di cuaca yang tak menentu yang licin atau banjir terguyur hujan.

Bayangkan jika mobil otomatis harus mengarungi jalanan penuh lubang. Bayangkan mobil otomatis harus menaklukkan perempatan yang ramai dan tak teratur. Bayangkan jika mobil otomatis harus mengalah kepada ambulans. Apakah semua itu bisa dilakukan tanpa campur tangan manusia?

Menurut Anda? [idc]

Baca juga:
Jepang Kirim Robot ke Asteroid Ryugu
Elon Musk Umumkan Rencana Space X Bangun Kota di Mars Dengan Roket Raksasa
Ada Black Hole di Tata Surya Kita?
Siap-Siap! 26 Desember 2019 Gerhana Matahari Cincin Muncul di Indonesia

Topik berita Terkait:
  1. Teknologi
  2. Mobil Listrik
  3. Top List
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini