Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Profil

Surisman Marah

Profil Surisman Marah | Merdeka.com

Lahir sebagai anak ketiga dari empat bersaudara (Haida Nizar, Azwar Marah, Risman Marah, dan Dotty Suryati), Risman berasal dari keluarga tukang foto, karena di kampungnya, sejak jaman Belanda kakeknya Saleh Angku Pakamo, adalah seorang praktisi fotografi, mengelola sebuah studio foto keliling yang dibantu oleh kedua anaknya Dasima dan Nawazir.

Risman Marah mulai memotret sejak 1972. Kegelisahan dan kebosanan pada teknik fotografi membuat dia bereksperimen dengan fotografi buta yang melibatkan penyandang tunanetra guna memotret obyek-obyek yang biasa diabadikan oleh orang-orang dengan penglihatan. Maka, sejumlah penyandang tunanetra pun diajaknya memotret berbagai obyek. Khusus untuk itu, Risman memilih penyandang tunanetra sejak lahir. Sebab, mereka yang pernah melihat sudah tahu garis horizon sehingga saat diminta memotret, akan langsung mencari sumber suara dan memperkirakan komposisinya. 

Ia ingin mendobrak kreativitas dunia fotografi Indonesia dengan teknik fotografi buta yang diciptakannya. Sedangkan, di dunia internasional, berdasarkan catatan Kompas, Anja Ligtenberg, fotografer profesional yang sempat bermukim di New York, Amerika Serikat, juga melakukan hal serupa dengan proyek bernama Seeing The Unseen yang lalu dijalankan pula oleh Skyway Foundation pada 2004-2006. 

Riset dan analisa oleh Somya Samita

Profil

  • Nama Lengkap

    Surisman Marah

  • Alias

    Risman Marah Hidayat | Risman Marah

  • Agama

    Islam

  • Tempat Lahir

    Bukittinggi (Sumatera Barat)

  • Tanggal Lahir

    1951-06-03

  • Zodiak

    Gemini

  • Warga Negara

    Indonesia

  • Istri

    Diyah Widiyanti

  • Saudara

    Haida Nizar, Azwar Marah, Dotty Suryati

  • Biografi

    Lahir sebagai anak ketiga dari empat bersaudara (Haida Nizar, Azwar Marah, Risman Marah, dan Dotty Suryati), Risman berasal dari keluarga tukang foto, karena di kampungnya, sejak jaman Belanda kakeknya Saleh Angku Pakamo, adalah seorang praktisi fotografi, mengelola sebuah studio foto keliling yang dibantu oleh kedua anaknya Dasima dan Nawazir.

    Risman Marah mulai memotret sejak 1972. Kegelisahan dan kebosanan pada teknik fotografi membuat dia bereksperimen dengan fotografi buta yang melibatkan penyandang tunanetra guna memotret obyek-obyek yang biasa diabadikan oleh orang-orang dengan penglihatan. Maka, sejumlah penyandang tunanetra pun diajaknya memotret berbagai obyek. Khusus untuk itu, Risman memilih penyandang tunanetra sejak lahir. Sebab, mereka yang pernah melihat sudah tahu garis horizon sehingga saat diminta memotret, akan langsung mencari sumber suara dan memperkirakan komposisinya. 

    Ia ingin mendobrak kreativitas dunia fotografi Indonesia dengan teknik fotografi buta yang diciptakannya. Sedangkan, di dunia internasional, berdasarkan catatan Kompas, Anja Ligtenberg, fotografer profesional yang sempat bermukim di New York, Amerika Serikat, juga melakukan hal serupa dengan proyek bernama Seeing The Unseen yang lalu dijalankan pula oleh Skyway Foundation pada 2004-2006. 

    Riset dan analisa oleh Somya Samita

  • Pendidikan

    • Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia “ASRI” Yogyakarta
    • Jurusan Seni Lukis (Sarjana Muda - 1974)
    • Sarjana Penuh (1980)

  • Karir

    • Asisten dosen di Jurusan Seni Lukis STSRI “ASRI” Yogyakarta (1975)
    • Dosen Fotografi di Jurusan Fotografi Fakultas Seni Media Rekam (1994)
    • Pengajar Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta (sekarang)

  • Penghargaan

    Bibliografi:

    • Buku “Profil Kementerian RISTEK”, Menristek Jakarta 2004
    • Buku “Untukmu Kami Hadir” Ditjen Banjamsos, Departemen Sosial Jakarta 2006.
    • Buku “Soedjai di Tengah Belantara Fotografi Indonesia”, BP ISI dan LPP Yogyakarta 2007.
    • Buku “Bantul Bangkit” Penda Kab. Bantul Yogyakarta 2008
    • Buku “We Are Here for You” Ditjen Banjamsos, Departemen Sosial Jakarta 2009.
    • Buku “Meraih Masa Depan Melalui PKH” Direktorat Jaminan Kesejahteraan Sosial, Kemensos RI, Jakarta.2010.
    • Buku “Berdaya dan Mandiri untuk Sejahtera”, Direktorat Pemberdayaan Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan, Kemensos RI, Jakarta 2010.

Geser ke atas Berita Selanjutnya