Turun Temurun Menganyam Tikar Purun dari Lahan Gambut

Rabu, 15 September 2021 17:00 Reporter : Ibrahim Hasan
Turun Temurun Menganyam Tikar Purun dari Lahan Gambut Kerajinan Tikar Purun. ©2021 Merdeka.com/Syarif

Merdeka.com - Lahan gambut selalu dipandang sebelah mata. Tak bisa ditanami maupun dirawat sebagai lahan produktif. Tekstur tanahnya becek berair, memiliki kandungan asam yang tinggi. Padi, bahkan pohon sekalipun tak mampu hidup di atas kahan gambut. Namun semak-semak dan rumput liarlah yang dapat berkembang di kondisi tanah lah`an gambut. Bahkan pemanfaatannya hingga ke ranah industri oleh masyarakat sekitar.

Lahan gambut begitu mudahnya dijumpai di pulau Kalimantan dan Sebagian di Sumatera. Pemanfaatan rumput gambut dapat dijumpai berkat adanya kerajinan Tikar Purun. Kerajinan anyaman rumput gambut ini telah lama menjadi komoditas harian bagi warganya. Secara turun temurun dipertahakan dengan ciri khas warna yang natural.

Gulungan tikar inilah produk unggulan dari rumput gambut yang mereka ciptakan. Bahan baku yang berlimpah tumbuh dengan liarnya di lahan gambut yang sebelumnya dianggap tak bernilai.

kerajinan tikar purun

©2021 Merdeka.com/Syarif

Di Desa Palimbang Sari, Haur Gading, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan sendiri, punya berhektar-hektar lahan gambut. Bahkan bisa dibilang desa ini dikelilingi oleh lahan gambut di setiap batas wilayahnya. Purun atau Eleocharis dulcis merupakan sejenis gulma yang suka dengan lahan gambut basah seperti wilayah Kalimantan Selatan.

Seusai dipanen, purun akan segera dijemur hingga kering. Mengubah warnanya menjadi kecokelatan. Lantas purun ditumbuk untuk mengubah bentuknya yang semula bulat menjadi pipih memanjang. Penumbukan ini menggunakan alat semacam alu yang terbuat dari kayu, sehingga memudahkannya saat proses penganyaman.

Pembuatan Tikar Purun seolah sudah menjadi tradisi masyarkat selama bertahun-tahun. Jika dalam satu keluarga seorang ibu menganyam purun, maka akan mewariskan keahlian kepada anak putrinya.
kerajinan tikar purun

©2021 Merdeka.com/Syarif

Tidak serta merta dapat dianyam, batang purun yang telah pipih sebagian harus diberi warna. Untuk menjadikan tampilan tikar lebih menarik dengan beberapa motif sederhana. Pewarna yang digunakan bukanlah pewarna tekstil. Melainkan sumbo, sejenis pewarna alami yang berasal dari getah, daun, maupun buah.

Seperti kulit manggis yang menghasilkan warna merah, kunyit menghasilkan warna kuning, hingga daun suji atau daun pandan yang menghasilkan warna hijau. Teknik pewaranaan begitu sederhana, hanya dengan meramunya ke dalam panci berisi air dan merebusnya bersama helaian batang purun. Selepas diwarnai, lantas purun dijemur hingga mengering.

Purun memiliki ciri khas batang yang panjang dan berongga. Mampu tumbuh tinggi hingga menyamai orang dewasa. Di lahan gambut, tanaman ini tumbuh secara berkelompok menutupi seluruh permukaan lahan gambut. Bagian bawah batang dan akarnya bersemayam di dalam gambut yang berair.
kerajinan tikar purun

©2021 Merdeka.com/Syarif

Proses menganyam purun bukanlah hal mudah, namun dapat dipelajari dengan teliti. Menganyam purun sepenuhnya dengan cara manual. Menggunakan kedua tangan, bahkan melibatkan kaki untuk menjaga posisi rangkaian anyaman purun.

Perpaduan warna diterapkan secara berselang seling bergiliran untuk membuar motif warna yang sederhana. Rata-rata purun sepanjang 3 meter mampu dianyam selama 2 jam. Dengan catatan sang pengrajin benar-benar sudah handal dalam menganyam purun.
kerajinan tikar purun

©2021 Merdeka.com/Syarif

Mayoritas perempuan menjadikan purun sebagai penunjang penghasilan rumah tangga. Mereka biasa menjualnya di pasar dadakan sekitar daerah mereka. Menanti pembeli, hingga pengepul yang siap mengangkutnya untuk dijual ke luar kota.

Selain tikar, purun dapat diubah menjadi kerajinan nampan, hingga keranjang belanja. Harga tikar purun beragam, tergantung motif dan ukuran. Berkisar antara Rp 30 ribu hingga ratusan ribu.

Kini komoditas tikar purun berada di ambang kekhawatiran. Sering terjadinya kebakaran lahan gambut membuat stok purun semakin terbatas. Belum lagi, pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit yang juga meengancam keberadaan pengrajin purun untuk tetap lestasi secara turun temurun [Ibr]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini