Lahan Pertanian dan Perkebunan Rusak Parah Usai Banjir, Begini Nasib Petani di Madina

Kamis, 20 Januari 2022 10:38 Reporter : Fatimah Rahmawati
Lahan Pertanian dan Perkebunan Rusak Parah Usai Banjir, Begini Nasib Petani di Madina petani gagal panen. ©2019 Merdeka.com/Arie Basuki

Merdeka.com - Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatra Utara (Sumut), dilanda banjir pada Desember 2021 lalu. Bencana banjir tersebut kini membuat kerusakan cukup parah di sektor pertanian dan perkebunan. Banyak tanaman padi dan palawija yang mengalami gagal panen.

Kepala Dinas Pertanian Madina, Siar Nasution mengatakan, kerusakan tanaman padi sawah itu tersebar di 12 kecamatan, yakni di Kecamatan Natal, Muara Batang Gadis, Sinunukan, Ranto Baek, Lingga Bayu, Batahan, Batang Natal, Panyabungan Barat, Hutabargot, Panyabungan Utara, Panyabungan dan Kecamatan Siabu. Seluruhnya mencapai total 1.369 hektare.

"Yang paling parah kerusakannya di Desa Tangga Bosi Kecamatan Siabu dan Kecamatan Hutabargot. Karena waktu itu pas pada masa panen, padi petani hanyut dan tertanam lumpur," ujarnya pada Rabu (19/1).

Tak hanya tanaman padi sawah, tanaman padi gogo yang ada di enam kecamatan juga mengalami kerusakan hingga mencapai 442 hektare. Kemudian kerusakan juga terjadi pada tanaman jagung yang luasnya mencapai 157 hektare, kacang tanah 46,56 hektare, cabai merah 36,6 hektare, cabai rawit 7,4 hektare, pepaya 11,8 hektare, semangka 0,4 hektare, jeruk 20 hektare. Jaringan irigasi 20 unit pun ikut rusak serta ternak banyak yang mati.

Terkait kondisi ini, Siar mengakui pihaknya belum bisa memberikan solusi untuk membantu para petani.

Melansir dari ANTARA, berikut informasi selengkapnya.

2 dari 3 halaman

Upaya Pemerintah Setempat Bantu Petani

Untuk membantu para petani usai bencana banjir tersebut, Dinas Pertanian Madina telah membuat laporan (proposal) kepada pemerintah baik itu pemerintah pusat, provinsi maupun kepada pemerintah kabupaten untuk bantuan.

"Laporan kepada pemerintah pusat dan provinsi sudah kita sampaikan. Dari provinsi pun sudah turun ke lokasi. Sedangkan untuk Madina terkait jumlah luas yang puso atau lainnya sudah kita notakan kepada pimpinan, bahwasanya luas yang puso tersebut wajib kita ganti," jelas Siar.

Ia berharap, baik Dinas Pertanian Sumut maupun pusat agar bisa memberikan bantuan, khususnya bantuan benih, kepada para petani yang hingga kini nasibnya masih belum ada kepastian usai terdampak banjir.

"Kita berharap semua yang kami laporkan agar dibantu karena masyarakat saat ini sudah mengharapkan itu," ujar Kadis. 

3 dari 3 halaman

Pupuk Subsidi Sulit Didapatkan

Belum lagi, kondisi para petani semakin sulit lantaran sudah beberapa bulan terakhir mereka kesulitan mendapatkan pupuk urea bersubsidi di daerah itu. Stok yang ada pun harganya sangat mahal, yakni di atas Rp600 ribu per saknya.

Siar mengatakan, susahnya pupuk subsidi tersebut didapatkan sebenarnya disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah proses pengambilan pupuk saat ini yang dinilai sangat panjang dan ruwet. Selain itu juga disebabkan oleh minimnya kuota pupuk yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. Belum lagi soal masalah input data ke e-RDKK yang masih belum banyak diketahui petani.

"Masyarakat tidak tau masalah input menginput dan ini adalah persoalan yang kami hadapi. Kemudian masalah kuota pupuk. Kebutuhan pupuk kita sekitar 10 ribu ton, namun nyatanya kuota yang diberikan pusat hanya 3.778 ton," jelasnya.

Namun, pihaknya sudah berkoordinasi dengan pihak distributor dan meminta agar pihak distributor secepatnya mengambil terobosan-terobosan agar pupuk tersebut dapat diambil secepatnya ke produsen.

"Dari pernyataan pihak distributor pada saat kami panggil kedatangan pupuk bersubsidi ini diperkirakan paling cepat datang pada awal bulan dua," ujarnya.

[far]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini