Kisah Dokter 'Tanpa Tarif' di Medan, Rela Tak Dibayar demi Bantu Sesama

Kamis, 30 Juli 2020 16:46 Reporter : Fatimah Rahmawati
Kisah Dokter 'Tanpa Tarif' di Medan, Rela Tak Dibayar demi Bantu Sesama Kisah Dokter 'Tanpa Tarif' di Medan, Rela Tak Dibayar Demi Bantu Sesama. brilio.net ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Sebuah praktik dokter di kawasan Jalan Puri Medan, Kelurahan Kota Masum, Medan, Sumatra Utara, kerap kali terlihat ramai dikunjungi oleh pasien. Mereka adalah pasien seorang dokter bernama Aznan Lelo, yang merupakan dokter farmakologi.

Di kediamannya itu, Aznan yang juga merupakan guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara (USU) ini membuka praktik tanpa memasang papan nama dan tak pernah memasang tarif. Pasien yang datang untuk berobat kepadanya bisa membayar dengan seikhlasnya, bahkan bagi pasien yang tak mampu, Ia rela tak dibayar.

Kisah Aznan sebagai dokter 'tanpa tarif' ini sudah sangat fenomenal, bagi masyarakat di Medan, bahkan di Tanah Air. Berikut adalah kisah menginspirasi dari dr. Aznan, dilansir dari Liputan6.com.

1 dari 5 halaman

Tak Pernah Pasang Tarif

kisah dokter 039tanpa tarif039 di medan rela tak dibayar demi bantu sesama

Sumber: liputan6.com ©2020 Merdeka.com

Aznan bercerita, praktik pengobatan ini Ia mulai sejak 1978. Saat itu Ia membuka praktik di kediaman orangtuanya, yang hanya berjarak 2 rumah dari tempat Ia tinggal sekarang. Ia sempat berhenti menjalankan praktik pada 1983 karena berkesempatan mengambil gelar Ph.D di Australia.

Sejak awal membuka praktik pengobatan, Azan tak pernah sekalipun mematok harga barang sepeser pun. Baginya, profesi seorang dokter sejatinya untuk membantu orang sakit.

Ia tidak pernah meminta pasien yang berobat padanya untuk membayar dengan memasang tarif. Jika ada pasien yang memberi, Ia akan menerimanya namun istrinya lah yang akan membuka amplop dari para pasiennya.

2 dari 5 halaman

Mengisi Amplop Seikhlasnya

Aznan biasa membuka praktiknya pukul 17.00 WIB. Pasien yang datang kepadanya tidak pernah sepi, terus datang dan pergi silih berganti.

Di meja registrasi tempatnya praktik, disediakan amplop-amplop putih. Seperti sudah hafal, pasien yang sudah sering datang tahu cara dan jumlah pengisian amplop untuk tarif “ikhlas hati” itu. Amplop yang sudah diisi kemudian dibawa masuk ke ruang praktik saat diperiksa, dan seusai pemeriksaan ditinggal di meja Aznan.

Kadang Aznan memberikan obat hasil racikannya sendiri, kadang pula menuliskan resep. Obat-obat yang dipilihnya pun generik, bisa diperoleh di banyak apotek dengan harga terjangkau.

3 dari 5 halaman

Sempat Dicekal

Perjalanan Aznan saat hendak melanjutkan studi ke Negeri Kanguru ternyata tidak berjalan mulus. Saat hendak pergi, Aznan sempat dicekal oleh pemerintah karena Ia dituding sebagai aktivis Islam ekstrimis dan sempat disamakan dengan orang-orang yang dilarang ke luar negeri.

Namun, Ia tak menyerah sampai disitu. Aznan punya kepercayaan yang kuat, jika memang rezekinya belajar ke sana, maka bagaimanapun caranya pasti akan bisa. Dan benarlah, Ia akhirnya akhirnya tetap bisa berangkat ke Australia untuk melanjutkan studinya.

4 dari 5 halaman

Tekad Kuat untuk Mengabdi ke Masyarakat

Aznan kembali ke Indonesia pada 1987. Awalnya, Ia sempat tidak ingin membuka praktik. Namun, beberapa pasien yang pernah berobat kepadanya datang lagi, dan berharap agar Ia membuka praktik untuk membantu masyarakat yang sakit.

Terlahir dari ayah dan ibu yang berprofesi sebagai tukang jahit, Aznan tidak pernah memiliki cita-cita sebagai dokter. Sebagai anak yang suka pelajaran matematika saat di bangku sekolah, Ia justru mendambakan menjadi seorang sarjana nuklir.

Akhirnya, Aznan membuka kembali praktik pengobatannya. Namun, tetap dengan tekad yang sama, yaitu untuk membantu masyarakat yang sakit. Ia selalu berkata, "Kalau aku gunakan profesi dokterku ini untuk jadi kaya, aku pasti sudah kaya. Tapi aku enggak mau, bagiku orang miskin lebih menghargai profesi dokter, dibandingkan orang kaya. Itu yang buat aku senang jalani profesi seperti ini,".

5 dari 5 halaman

Dukungan Istri

Meski profesi yang disandangnya bisa saja dapat menghasilkan banyak uang, namun sang istri, Rahmayanti Yoesran, tak pernah mengeluhkan keinginan sang suami.

Ia bercerita bahwa setiap harinya sang suami mengajar dari pagi hari, lalu buka praktik sore harinya. Namun tak pernah mengeluh. Justru mengaku senang dengan yang dilakukannya. Hal inilah yang membuat Ia mendukung apa yang dikerjakan sang suami. [far]

Baca juga:
Penghasilan Rp20 Ribu/Hari, Badut Jalanan Ini Masih Jadi Donatur Panti & Orang Susah
Canggih, Mahasiswa Cerdas Ini Bikin Inovasi Jalankan Traktor Sawah Melalui Smartphone
Karier Cemerlang Mayjen TNI Dudung Kini Jadi Pangdam Jaya, Dulu Pernah Jual Klepon
Kisah Inspiratif Kampoeng Baca Rawa Bokor, Dulu Kumuh Sekarang Banyak Prestasi
Kisah Nenek Juleha, Perajin Terakhir Kain Tenun Khas Cirebon

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini