Diresmikan Wamen LHK, Kini Sumut Punya Pusat Penyelamatan Orang Utan Baru

Jumat, 14 Januari 2022 18:34 Reporter : Fatimah Rahmawati
Diresmikan Wamen LHK, Kini Sumut Punya Pusat Penyelamatan Orang Utan Baru bayi orangutan. ©2016 dok BOS Nyaru Menteng

Merdeka.com - Sumatra Utara (Sumut) menjadi rumah bagi sejumlah primata endemik, khususnya orang utan. Daerah ini juga menjadi pusat konservasi bagi orang utan di Indonesia.

Baru-baru ini, Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Wamen LHK) Alue Dohong meresmikan pusat penyelamatan orang utan, beruang, dan primata dilindungi lainnya di Desa Bukit Mas, Kabupaten Langkat, Sumut. Pusat penyelamatan ini menambah pusat konservasi yang ada di Sumut.

"Keanekaragaman hayati sebagai kekayaan bangsa, pengelolaannya dimandatkan kepada negara dan pemerintah untuk kepentingan seluruh masyarakat," kata Alue pada Kamis (13/1), dilansir dari Antara.

Alue menyebutkan, dalam konservasi satwa, pemerintah sangat terbantu dengan "filing the gap" oleh para pihak, dan dibutuhkan harmonisasi antara manusia dan satwa liar agar tidak terjadi konflik yang menyebabkan kerugian.

Alue berharap, konservasi yang telah dilakukan oleh para mitra Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Sumut, dalam hal ini YOSL-OIC melalui penyelamatan orang utan, beruang, dan primata dilindungi lainnya ini dapat memberikan manfaat lebih banyak pada masyarakat.

2 dari 3 halaman

Sudah Beroperasi Sejak 2021

Pusat penyelamatan ini mulai menerima satwa sejak tahun 2021. Meski baru diresmikan, namun pusat penyelamatan ini memiliki fasilitas memadai sebagai pusat penyelamatan satwa.

bayi orang utan di gembira loka zoo
©YouTube/Gembira Loka Zoo

Terdapat fasilitas yang terdiri dari kandang klinik/karantina, berbagai jenis kandang untuk primata dan beruang, serta peralatan medis yang lengkap untuk mendukung misi penyelamatan satwa.

Saat ini, di pusat penyelamatan ini sudah ada beberapa satwa yang dirawat. Satwa-satwa itu merupakan titipan Balai Besar KSDA Sumut. Satwa tersebut yakni empat owa ungko (Hylobates Agilis), 1 owa sarudung (Hylobates Lar), 14 siamang (Symphalangus Syndactylus), 2 orangutan (Pongo Abeli) dan 1 beruang madu (Helarctos Malayanus).

3 dari 3 halaman

Untuk Menyelamatkan Satwa di Sumut dan Aceh

Meski sudah baru diresmikan dan sudah beroperasi sejak 2021, namun ternyata pusat penyelamatan orang utan, beruang, dan primata dilindungi lainnya ini sudah didirikan sejak tahun 2020. Pusat penyelamatan ini merupakan kerja sama antara BBKSDA Sumut, BKSDA Aceh, Yayasan Orangutan Sumatera Lestari-Orangutan Information Centre (YOSL-OIC).

Pusat penyelamatan satwa ini dibangun untuk menampung, merehabilitasi serta berupaya melepasliarkan kembali satwa liar milik negara ke habitat alaminya. Misi ini tidak hanya di Sumut, tetap juga akan mendukung upaya penyelamatan satwa yang ada di Aceh.

Pusat penyelamatan ini sendiri memiliki 8 staf, yang terdiri 2 manajer, 1 dokter hewan, 1 ahli biologi, 1 head keeper dan 3 animal keeper. Semua staf menjalani pemeriksaan medis sebelum mereka bekerja, untuk memastikan tidak ada penyakit menular dari satwa ke manusia atau sebaliknya (Zoonosis).

[far]
Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Orangutan
  3. Sumut
  4. Berita
  5. Yogyakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini