Balum Bili, Makhluk Tak Kasat Mata Penunggu Perairan Aceh
Makhluk mitologi ini konon berwujud hamparan tikar berwarna merah mengambang di permukaan air.
Makhluk mitologi ini konon berwujud hamparan tikar berwarna merah mengambang di permukaan air.
Balum Bili, Makhluk Tak Kasat Mata Penunggu Perairan Aceh
Setiap daerah di Indonesia tentu memiliki suatu kepercayaan yang kemudian berkembang menjadi kisah atau cerita rakyat. Beberapa di antaranya masih terkait dengan dunia mistis atau makhluk tak kasat mata.
Mungkin banyak orang telah mengetahui jika Provinsi Aceh cukup kental dengan budaya Islam. Akan tetapi, dalam lapisan masyarakatnya masih tersimpan sebuah urban legend yang terus diceritakan dari generasi ke generasi.
Salah satu kisah mistis yang berkembang di masyarakat Aceh yaitu keberadaan Balum Bili atau disebut dengan Baluem Beudé. Mahkluk tak kasat mata ini dipercaya masyarakat Aceh sebagai penghuni suatu perairan baik itu muara sungai hingga perairan pantai.
Jelmaan Hantu Air
Melansir dari berbagai sumber, Balum Bili ini masih satu golongan dengan makhluk penunggu yang ada di Jawa. Dalam masyarakat Aceh, Balum Bili dikenal sebagai jelmaan hantu air yang sampai sekarang wujudnya masih misterius.
Balum Bili cukup terkenal di bagian pantai Utara bagian Timur Aceh. Namun, ada versi lain yang menjelaskan jika makhluk halus ini merupakan penunggu asli Sungai krueng Arakundo.
Bentuknya Seperti Tikar
Meski wujudnya sampai sekarang masih misterius, namun beberapa masyarakat Aceh percaya jika wujud dari makhluk ini adalah berupa gulungan tikar berwarna merah yang melayang di permukaan air.
Namun, percaya atau tidak ada kesaksian dari masyarakat lokal yang melihat penampakan Balum Bili yang menjelma seperti bongkahan atau potongan kayu. Biasanya, mereka menjelma untuk mengelabuhi manusia agar bisa dimangsa.
Mengincar Organ Tubuh Manusia
Dilansir dari akun Instagram @diosetta, konon Balum Bili akan mengincar organ manusia seperti bagian bola mata, hati, bahkan ginjal.
Kehadiran Balum Bili ini juga dianggap oleh masyarakat sekitar sebagai penanda sekaligus peringatan kepada manusia jika salah satu aliran sungai sudah mulai tercemar.