12 Tahun Hidup Tanpa Listrik dan Air Bersih, Kisah Satu Keluarga Ini Bikin Hati Miris

Sabtu, 16 Mei 2020 15:30 Reporter : Fatimah Rahmawati
12 Tahun Hidup Tanpa Listrik dan Air Bersih, Kisah Satu Keluarga Ini Bikin Hati Miris 12 Tahun Hidup Tanpa Listrik dan Air Bersih, Kisah Satu Keluarga Ini Bikin Hati Miris. liputan6.com ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Kisah memprihatinkan dialami oleh Ansar (47), pria yang berasal dari Lingkungan Tambayako, Kelurahan Simboro, Mamuju, Sulawesi Barat. Ia tinggal bersama enam anggota keluarganya yang harus mengalami hidup yang sulit karena selama 12 tahun hidup tanpa listrik dan air bersih. Sudah belasan tahun mereka tinggal di rumah yang hanya berukuran 3x4 meter.

Kondisi Ansar dan keluarga semakin parah akibat pandemi COVID-19 yang kini merebak di Indonesia. Ia semakin kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari karena tidak memiliki penghasilan dan tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah.

1 dari 7 halaman

Lokasi Rumah yang Sulit Dijangkau

Jarak antara tempat tinggal Ansar dengan Jalan Martadinata yang menjadi salah satu jalur utama di Kota Mamuju sebenarnya sangat dekat, hanya berjarak kurang lebih 400 meter. Namun, lokasi rumah Ansar yang berada di atas perbukitan membuatnya sulit dijangkau untuk mendapatkan aliran listrik.

Untuk sampai ke kediaman Ansar, harus melawati jalan setapak yang mendaki dan cukup curam. Maklum saja, ia membangun rumahnya tepat di atas puncak bukit, karena hanya sebidang tanah di puncak itulah yang menjadi lokasi miliknya.

2 dari 7 halaman

12 Tahun Hidup Tanpa Listrik

Ansar mengatakan, Ia dan keluarganya sudah 12 tahun hidup dengan kondisi seperti itu. Selama ini mereka hanya menggunakan pelita berbahan bakar solar sebagai alat penerangan ketika malam tiba. Sementara untuk kebutuhan air, Ia kerap mengambil dari sumur warga.

"Kalau untuk air, saya biasa turun ke sumur di bawah untuk ambil, kemudian dibawa naik ke rumah, biasa juga ke sungai yang di bawah," kata Ansar saat ia menerima bantuan COVID-19 dari sejumlah warga di kediamannya, Kamis (14/5), dilansir dari liputan6.com.

3 dari 7 halaman

Bekerja sebagai Buruh Bangunan

Untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari, Ansar bekerja sebagai buruh bangunan, sembari bercocok tanam memanfaatkan lahan di sekitar rumahnya. Namun, usaha bercocok tanam yang Ia lakukan kerap gagal, karena tidak adanya sumber air yang bisa menunjang tanamannya hingga masa panen tiba.

"Karena lagi musim hujan, saya tanam ubi, jagung sama lombok Pak. Saya juga bantu-bantu jagakan kambingnya warga," ujar Ansar.

4 dari 7 halaman

Tidak Lagi Bekerja Saat COVID-19

Namun, sejak merebaknya pandemi COVID-19, Ia tidak lagi bekerja. Hal ini karena tidak ada pemilik pekerjaan yang memanggil atau menggunakan tenaganya. Sehingga kini Ia hanya bergantung pada tanaman yang saat ini sedang ditunggu masa panennya.

5 dari 7 halaman

Tidak Pernah Menerima Bantuan Pemerintah

Yang lebih memprihatinkan, ternyata selama ini, Ansar tidak pernah menerima bantuan apapun dari pemerintah, bahkan Ia tidak terdaftar dalam program BPJS Kesehatan.

Masa pandemi COVID-19 saat ini, ia harusnya mendapatkan bantuan, apa lagi banyak jenis bantuan yang diberikan oleh pemerintah bagi warga yang terdampak. Namun, tidak satupun yang Ia terima.

"Tidak pernah Pak, barusan ini ada bantuan yang saya terima," tutur Ansar.

6 dari 7 halaman

Terkendala KK

Kepala Lingkungan Tambayako Nawawi Muin mengatakan, selama ini Ia sudah mengetahui keberadaan Ansar beserta keluarga di wilayahnya. Namun, karena Ansar tidak memiliki Kartu Keluarga (KK) Mamuju, sehingga Ia sulit mendapatkan bantuan dari pemerintah.

"Susah, karena kemarin KK dia itu, KK Poliwari Mandar. Jadi tidak bisa kita uruskan untuk masuk PKH dan BPJS Kesehatan," kata Nawawi.

7 dari 7 halaman

Tidak Mendapatkan Bantuan COVID-19

Menurut Nawawi, baru pada satu tahun terakhir ini Ansar memiliki KK Mamuju, sehingga Ia mulai diusahakan dan diuruskan untuk masuk kedalam program milik pemerintah. Namun, hingga saat ini Ia tidak juga terdaftar, sehingga bantuan warga terdampak COVID-19 kembali tidak Ia terima.

"Saya tidak tahu kenapa di dinas sosial tidak masuk-masuk, padahal selalu saya masukkan datanya," ujar Nawawi.

Tapi, Nawawi akan terus berusaha agar Ansar bisa mendapatkan apa yang sudah seharunya menjadi haknya. Utamanya masuk dalam program PKH dan BPJS Kesehatan milik pemerintah, sehingga punya sedikit jamin untuk hidup.

[far]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini