Kiprah Mengesankan PSS Sleman di Awal Milenium Menembus Kasta Tertinggi Sepak Bola Indonesia

Rabu, 20 Mei 2020 08:06 Repoter : Redaksi Bola.com
Kiprah Mengesankan PSS Sleman di Awal Milenium Menembus Kasta Tertinggi Sepak Bola Indonesia PSS Sleman logo.

Merdeka.com - Bola.com, Jakarta - Awal era milenium atau tahun 2000 silam menjadi saat-saat yang begitu sulit dilupakan oleh publik sepak bola Kabupaten Sleman. PSS Sleman mulai bicara di pentas sepak bola Indonesia sejak saat itu.

Tahun 2000 menjadi musim di mana PSS Sleman untuk pertama kalinya menyentuh kasta tertinggi yang saat itu bernama Divisi Utama. Tim berjulukan Elang Jawa berhasil menjadi runner-up kompetisi Divisi I atau kasta kedua di tahun tersebut.

Anggapan sebagai tim kelas dua yang hanya berkutat di level kedua, berhasil dipatahkan berkat perjuangan skuat yang mayoritas adalah putra daerah terbaik di Sleman. PSS promosi ke Divisi Utama dengan status runner-up Divisi I pada musim 1999-2000.

Perjalanan PSS hingga akhirnya merebut satu tempat di kasta tertinggi sepak bola Indonesia pada tahun 2000, tidaklah mudah. Rintangan dan lika-liku tetap dihadapi dengan tidak mudah oleh tim yang didirikan tahun 1976.

Sejak tahun 2000 itulah, kiprah PSS terus menanjak dan menjadi tim yang tidak dapat diremehkan. Meski sempat mengalami pasang surut prestasi, PSS kini sudah kembali berkibar di kasta tertinggi Liga Indonesia.

Bola.com merangkum sejumlah hal menarik tentang prestasi mengesankan PSS pada tahun 2000.

 

Perjalanan Hebat Melibas Lawan

Dengan persiapan tim yang bisa dibilang biasa-biasa saja, perjalanan tim Elang Jawa cukup mulus. PSS mengunci juara grup tengah di babak penyisihan.

Dengan mengantongi 16 poin dari delapan pertandingan yang kemudian melaju ke babak play-off berisi empat tim. Pada babak play-off ini PSS diuntungkan dengan menjadi tuan rumahnya.

PSS dengan perkasa mempecundangi Persiba Balikpapan (6-1), dan dua kali menahan imbang Perseden Denpasa (0-0) serta Persita Tangerang (0-0). Tim Elang Jawa pun lolos ke semifinal dengan nilai lima, di bawah Persita.

Pada fase semifinal, lagi-lagi PSS sulit dihentikan karena justru mampu menyingkirkan Persikabo Bogor. Laga yang digelar di Stadion Benteng, Tangerang, PSS unggul tipis 1-0 lewat gol Agus Budi.

Di partai puncak, PSS harus mengakui kekalahan dari tuan rumah Persita Tangerang lewat gol semata wayang Edi John. Meski menjadi runner-up, PSS menemani Persita untuk promosi ke Divisi Utama, disusul Persikabo dan Persijap Jepara.

 

Skuat Lokal yang Matang

Seto Nurdiyantoro (tengah) diapit kedua adiknya Fajar Listyantoro (kanan) dan Yohanes Yuniantoro (kiri) dalam sebuah laga amal di Ceper, Kabupaten Klaten, tahun 2018. (Bola.com/Vincentius Atmaja)

Jika melihat komposisi pemain PSS Sleman pada musim kompetisi tahun 2000, banyak pihak yang meragukan kualitasnya. Dengan skuat lokal seadanya, PSS dianggap bisa bertahan di Divisi I saja sudah bagus.

Dalam skuat Laskar Sembada berisi talenta-talenta lokal namun penuh potensi dari wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan sekitarnya. Mulai dari Yohanes Yuniantoro, Jatmiko, Muhammad Ansori, Lafran Pribadi, Prasetyo Sugiyanto, hingga Muhammad Eksan.

Sebagian besar pemain PSS merupakan hasil hasil seleksi klub-klub lokal di wilayah Sleman. Mereka diseleksi dari klub internal PSS seperti Gapura, Panji Putra, Triyoso, Pemda Sleman, PIM, Danagung, IKIP, AMS, PSK Primagama, Merapi Putra, serta POSS.

Perpaduan pemain lokal namun potensial menjadi kunci utama PSS melewati musik 2000 dengan hasil gemilang. Bahkan satu diantara pemain PSS yakni Muhammad Eksan mampu menjadi pencetak gol terbanyak di Divisi I kala itu.

Eksan mengoleksi 11 gol sepanjang musim 2000. Ia mendapat predikat sebagai striker ganas yang pernah dilahirkan oleh PSS, hingga beberapa musim berikutnya bermain untuk Elang Jawa. Termasuk saat ini dirinya menjadi asiten manajer di PSS.

 

Tangan Dingin Pelatih

Sepak terjang hebat PSS pada musim itu tak lepas dari racikan duet pelatih Bambang Nurjoko dan Herwin Syahrudin. Keduanya paham betul mengenai potensi pemain sepak bola dari wilayah Sleman, DIY dan daerah sekitarnya.

Keuangan PSS yang terbatas, karena saat itu masih menjadi klub amatir, membuat tim pelatih harus memaksimalkan potensi pemain lokal. Sehingga tak ada nama pemain bintang yang dipunyai PSS.

Pelatih Bambang Nurjoko dan Herwin Syahrudin harus menangkap potensi hebat pemainnya saat itu. Seperti seorang Ansori sebagai pemain sayap terampil, Yohanes Yuniantoro yang punya manuver permainan, hingga tajamnya Muhammad Eksan sebagai striker haus gol.

Hingga akhirnya target utama pada musim tersebut sebenarnya hanya tetap bertahan di kompetisi Divisi I alias tidak terdegradasi. Namun malah terpeleset promosi ke Divisi Utama.

Dukungan Penuh dari Slemania

Aksi anggota Slemania saat mendukung PSS melawan Tira Persikabo di Stadion Maguwoharjo, Minggu (8/3/2020). (Bola.com/Vincentius Atmaja)

Beruntungnya PSS Sleman memiliki animo pendukung yang begitu besar. Kiprah di tahun musim itu juga menjadi momentum lahirnya Slemania pada 22 Desember 2000.

Slemania dengan ciri khas warna hijau, semakin membesar seiring mulai banyaknya kelompok suporter dari berbagai daerah. Setelah lahirnya Jakmania, Aremania, Pasoepati, ikut lahirnya Slemania sebagai pendukung fanatik dari tanah Sembada.

Suporter yang dikenal fanatik, loyal, dan cinta damai ini selalu menemani perjuangan PSS setiap bertanding. Terutama di rumah sendiri yang kala itu PSS berkandang di Stadion Tridadi.

Stadion Tridadi yang berkapasitas tak kurang dari 20 ribu penonton, selalu penuh penonton berdesakan. Bahkan harus meluber jika lawannya juga datang dengan membawa suporter.

Video

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini