UNICEF ungkap 40 Persen Anak di 3 Negara Asia Tenggara Kurang Gizi karena Mi Instan

Kamis, 31 Oktober 2019 12:00 Reporter : Rizky Wahyu Permana
UNICEF ungkap 40 Persen Anak di 3 Negara Asia Tenggara Kurang Gizi karena Mi Instan Ilustrasi mie instan. Shutterstock/Olga Nayashkova

Merdeka.com - Pada sejumlah negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, mi instan merupakan makanan yang biasa dikonsumsi anak-anak. Namun hal ini ternyata diketahui menjadi penyebab jutaan anak mengalami masalah kekurangan gizi dan membuat banyak dari mereka terlalu kurus dan obesitas.

Laporan UNICEF menyebutkan, di tiga negara Asia Tenggara: Filipina, Indonesia, dan Malaysia, rata-rata 40 persen anak di bawah lima tahun mengalami kurang gizi. Angka itu lebih tinggi dari sepertiga rata-rata global.

"Mi mudah. Mi murah. Mi cepat dan mudah menggantikan apa yang seharusnya jadi diet seimbang," kata Mueni Mutunga, spesialis nutrisi UNICEF Asia seperti dilansir dari Channel News Asia.

Mutunga mengatakan bahwa mi instan yang sangat murah, rendah nutrisi yang sesungguhnya penting, serta zat gizi mikro seperti zat besi. Selain itu, produk semacam itu juga rendah protein dan memiliki kandungan lemak serta garam tinggi.

1 dari 1 halaman

Kemiskinan jadi Masalah Utama

Selain itu, konsumsi buah-buahan, sayur, telur, susu, ikan, dan daging yang kaya nutrisi memudar dari pola makan ketika penduduk pedesaan berpindah ke kota untuk mencari pekerjaan.

Selain itu, masalah ekonomi juga menjadi salah satu faktor kebiasaan tersebut. Menurut T Jayabalan, ahli kesehatan masyarakat di Malaysia, keluarga dengan pendapatan rendah seperti yang ada di negaranya, sangat bergantung dengan mi siap saji, ubi jalar, dan produk berbasis kedelai sebagai makanan utama mereka.

"Kemiskinan adalah masalah utama," kata Jayabalan.

Kurangnya perhatian dari orangtua soal masalah gizi pada anak juga menjadi salah satu masalah ini.

"Orangtua percaya mengisi perut anak-anak mereka adalah yang paling penting. Mereka tidak peduli soal asupan yang cukup untuk protein, kalsium, atau serat," kata Hasbullah Thabrany, pakar kesehatan masyarakat Indonesia pada AFP.

Maka dari itu, baik Jayabalan maupun Thabrany sepakat bahwa intervensi pemerintah dinilai penting untuk mengatasi masalah tersebut. Salah satunya terkait promosi dan iklan, serta distrbusi besar-besaran yang bahkan mencapai tempat-tempat terpencil.

Mi instan yang dikonsumsi secara berlebihan ini bisa menjadi masalah kesehatan serius terutama pada masa perkembangan anak. Oleh karena itu, sebaiknya dikurangi konsumsinya.

Reporter: Giovani Dio Prasasti
Sumber: Liputan6.com [RWP]

Baca juga:
Menurut Penelitian, Bekerja Terlalu Lama Bisa Membuatmu Mengalami Kebotakan
Ini Alasan Mengapa Kamu Kalap Makan Terlalu Banyak pada Malam Hari
Kehamilan Bisa Timbulkan Efek Setara Penuaan pada Wanita
Olahraga Sebelum Sarapan Bisa Bakar Lemak Dua Kali Lebih Banyak

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini