Tak Hanya Diderita Anak, Dermatitis Atopik Juga Bisa Dialami Lansia

Selasa, 20 Agustus 2019 16:00 Reporter : Rizky Wahyu Permana
Tak Hanya Diderita Anak, Dermatitis Atopik Juga Bisa Dialami Lansia Ilustrasi Dermatitis Atopik. ©the-dermatologist.com

Merdeka.com - Masalah kulit dermatitis atopik (DA) merupakan masalah yang sering muncul pada anak usia 1-5 tahun. Walau identik dengan anak-anak, penyakit ini bisa menyerang semua usia mulai dari bayi hingga orang lanjut usia.

Menurut dokter spesialis kulit dan kelamin Ronny Handoko, pasien lansia lebih rentan terkena dermatitis atopik. Lansia memiliki kondisi kulit yang lebih tipis, menurunnya daya tahan kulit, dan sistem imun yang rendah.

“Pasien lansia yang menderita DA juga memerlukan peran keluarga atau pengasuh yang benar-benar mengerti DA karena rutinitas yang higienis begitu penting,” ucap Ronny yang berpraktik di Klinik Pramudia dalam Seminar Waspadai Dermatitis Atopik Serang Semua Umur dan Jenis Kelamin, di Jakarta ditulis Jumat (16/8/2019).

Banyak faktor yang dapat menyebabkan DA pada orang dewasa dan lansia yakni udara panas, sinar matahari, keringat, debu, bahan pakaian polyester dan wool, stres, jenis kelembaan sabun, stress, pre-menstrual, penggunaan sesuatu yang mengandung logam imitasi, karet, dan plastik, bahkan detergen yang digunakan. Hal tersebut membuat pasien mengeluhkan kulitnya mengalami peradangan, gatal, kering, dan pecah-pecah.

Pada prinsipnya, pasien dewasa dan lansia akan merasakan gejala dan lokasi luka yang sama. Namun, ruam yang terjadi pada dewasa dan lansia berada lebih banyak titik daripada balita yakni pada siku, lutut, leher, sekitar mata, dahi, dada, punggung, sekitar mulut, tangan, kaki, dan puting susu.

Gejala utamanya berupa gatal kronis dengan variasi ringan sampai berat. Gatal tersebut dapat menimbulkan ruam di berbagai tempat. Terdapat rasa gatal yang dominan namun gejala kulit yang minim pada lansia. Kondisi ini disebut dengan pruritus senilis.

Pruritus senilis dapat merupakan masalah lokal dari kulit saja, namun juga dapat disebabkan oleh keterlibatan penyakit lain seperti gangguan ginjal, gangguan hati, atau keganasan seperti limfoma.

“Hal ini tentunya sangat mengganggu bagi kehidupan sosial. Karena akan menimbulkan rasa gatal dan tidak nyaman bagi pasien, bahkan dapat membuat pasien merasa minder karena luka yang ditimbulkan,” tandas Ronny.

Reporter: Diviya Agatha
Sumber: Liputan6.com [RWP]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini