Suka Membetulkan Bahasa Orang Lain? Barangkali Kamu Punya Masalah Kepribadian

Senin, 20 Mei 2019 08:14 Reporter : Rizky Wahyu Permana
Suka Membetulkan Bahasa Orang Lain? Barangkali Kamu Punya Masalah Kepribadian Ilustrasi gelisah. © SBS

Merdeka.com - Saat ini di media sosial sering kita orang-orang yang memiliki tendensi sangat besar dalam membetulkan kesalahan orang lain. Seseorang dengan kebiasaan yang sering disebut sebagai grammar Nazi mudah kita jumpai di mana saja bahkan di sekitar kita. Malah mungkin saja hal ini dilakukan oleh diri kita sendiri.

Tahukah kamu bahwa ternyata kebiasaan untuk membetulkan salah kata, salah ketik, dan lain sebagainya ini jadi penanda adalah masalah mental pada seseorang. Dilansir dari ScienceAlert, sebuah penelitian menyebutkan bahwa orang-orang dengan kecenderungan ini cenderung memiliki kepribadian yang tidak mudah menerima kesalahan.

Sebuah tes psikologi menyebut bahwa orang-orang yang biasa disebut grammar Nazi ini cenderung tidak begitu terbuka. Selain itu, mereka juga cenderung menilai orang lain dari kesalahan yang diperbuatnya.

Penelitian ini mencoba melihat bagaimana orang secara personal merespons salah ketik dan kesalahan gramatikal.

"Penelitian ini merupakan yang pertama menunjukkan bahwa sifat atau kepribadian dari pembaca atau pendengar memiliki efek terhadap interpretasi bahasa," jelas Julie Boland, peneliti dari University of Michigan.

"Pada eksperimen ini, kami mempelajari penilaian sosial yang dibuat pembaca terhadap penulis," sambungnya.

Untuk penelitian ini, Boland dan timnya meminta 83 partisipan untuk membaca respons email baik yang tak memiliki kesalahan maupun terdapat kesalahan. Mereka kemudian secara individu menilai orang yang menulis email tersebut berdasar prasangka mereka mengenai kecerdasan, keramahan, atau hal lain seperti bagaimana mereka memperlakukan orang lain.

Setelah menjawab sejumlah pertanyaan, peneliti kemudian meminta partisipan untuk mengisi pengukuran kepribadian. Mereka diminta untuk menilai keterbukaan, kesetujuan, introvert/ekstrovert, serta kesadaran.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh partisipan memikirkan bahwa orang yang menulis email dengan kesalahan memiliki kepribadian lebih buruk dibanding mereka yang menulis tanpa kesalahan. Untuk penelitian ini, partisipan juga dibagi dalam kelompok untuk memahami kepribadian mereka.

Orang dengan kepribadian ekstrovert diketahui cenderung mengesampingkan kesalahan tata bahasa dan ketik tersebut. Sedangkan orang yang introvert cenderung mengadili orang secara negatif karena kesalahan yang dilakukan.

Orang-orang dengan kesadaran lebih baik namun tidak begitu terbuka cenderung lebih sensitif dengan salah ketik. Sedangkan partisipan yang memiliki kepribadian tak mudah setuju dengan orang lain cenderung lebih terganggu dengan kesalahan tata bahasa. Peneliti berharap temuan mereka ini bisa membantu upaya lebih lanjut dalam menganalisis dan memahami bagaimana orang melakukan komunikasi atau salah berkomunikasi secara online. [RWP]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini