Suami Juga Bisa Alami Trauma usai Istri Melahirkan, Ini Penyebab dan Bentuknya

Rabu, 1 Juli 2020 08:00 Reporter : Rizky Wahyu Permana
Suami Juga Bisa Alami Trauma usai Istri Melahirkan, Ini Penyebab dan Bentuknya Ilustrasi trauma. ©holmes-hills.co.uk

Merdeka.com - Usai kehamilan, pengalaman traumatis atau Post-natal Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) ternyata juga bisa dialami oleh suami. Meski terbilang masih jarang bagi seorang ayah baru untuk mengalami PSTD.

Menurut psikolog Ajeng Raviando, salah satu faktor yang menjadi penyebab pria mengalami stres adalah menyaksikan proses melahirkan secara langsung.

"Banyak orang kan tidak menyangka, buat pria terutama, bahwa proses melahirkan semengerikan itu. Apalagi kalau misalnya dalam proses kelahiran itu terjadi sesuatu yang urgent dan di luar prediksi, jadinya suami ini bisa trauma," ujar Ajeng melalui keterangan resminya dilansir dari Antara.

Ajeng mengatakan para suami perlu mempersiapkan diri menjelang persalinan buah hatinya, seperti mempelajari hal-hal seputar proses melahirkan hingga persiapan mental agar bisa mendampingi istri selama persalinan. Kesiapan mental berguna untuk menghadapi kejadian yang tak terduga atau di luar perkiraan.

Kondisi-kondisi seperti pendarahan hebat, proses persalinan yang sangat lama atau reaksi istri saat melahirkan disebut bisa menjadi pemicu adanya trauma pada pria.

"Pas proses melahirkan istrinya kesakitan banget, jerit-jerit sampai menangis. Emosi ini kan bisa menular ke suami dan membekas setelahnya. Walau dia tidak merasakan secara langsung, tapi dia menyaksikan dan itu bisa sangat traumatis," jelasnya.

Selain itu, Ajeng juga mengatakan bahwa ketidakberdayaan untuk membantu istri dan bayi terutama saat proses persalinan yang disertai penyulit dan komplikasi juga menjadi pemicu trauma pada suami.

1 dari 2 halaman

Gejala Trauma pada Suami

Pria yang mengalami trauma setelah istri melahirkan mengeluarkan beberapa gejala seperti mudah cemas, sensitif hingga sering teringat pada kejadian saat persalinan. Psikolog Ajeng Raviando mengatakan jika tanda-tanda trauma atau stres pasca-persalinan atau PTSD (Post-natal Post Traumatic Stress Disorder) yang dialami pria tidak jauh berbeda dengan wanita.

Berbeda dengan istri yang sumber traumanya lebih banyak karena sensasi nyeri, suami cenderung teringat dengan seluruh suasana yang terekam di otaknya. Apa yang ia dengar dan lihat, sulit terhapus dari ingatan.

"Karena suami kan melihat langsung, jadi kemungkinan besar gambaran proses melahirkan itu terekam jelas. Misalnya, ketika melihat darah, ia jadi teringat saat istrinya perdarahan, atau saat mendengar anaknya nangis. Bahkan ingatan dari penciuman, seperti bau obat atau bau yang mengingatkan dengan rumah sakit, akan memicu rasa cemas," jelas Ajeng.

Ajeng menjelaskan untuk beberapa kondisi yang lebih ekstrem, suami dengan stres dan trauma pasca-melahirkan akan mengalami mimpi buruk. Post-natal PTSD juga bisa memicu perubahan perilaku. Beberapa pria menjadi super sensitif dan terlalu khawatir dengan kondisi sang istri serta anaknya.

Respons ini mungkin bisa tergolong cukup baik karena pada akhirnya suami menjadi lebih perhatian terhadap istri dan juga sang anak, selama tidak berlebihan. Respons tidak peduli juga mungkin ditunjukkan oleh pria yang mengalami kondisi ini.

2 dari 2 halaman

Cara Mengatasi Trauma pada Suami

Menurut Ajeng, ada suami yang menjadi pasif dan tidak peduli dengan istri yang sibuk merawat bayi mereka. Ajeng mengatakan dukungan istri sangat dibutuhkan untuk membantu suami melewati trauma meski mungkin dirinya sendiri juga membutuhkan bantuan.

"Meski sulit, istri harus paham dengan kondisi suami dan sebisa mungkin memberikan dukungan," ujar Ajeng.

Penanganan terbaik untuk mengatasi trauma pasca-melahirkan bagi suami adalah dengan berkonsultasi pada seorang profesional, psikiater atau psikolog. Menurut Ajeng, pendekatan terapi yang dilakukan adalah Trauma Focus Cognitive Behavioral Therapy (TFCBT).

"Terapi difokuskan pada traumanya. Memang akan tidak nyaman karena pasien dipaksa mengingat kembali kejadian. Tapi, ini membantu mereka untuk bisa lebih menerima kondisi dengan realistis, menghadapi dan bukan menghindar, yang pada akhirnya bisa melepaskan itu semua," jelas Ajeng. [RWP]

Baca juga:
Langsung Mandi Usai Berolahraga, Apakah Boleh Dilakukan?
Deretan Hal yang Bisa Menjadi Penyebab Munculnya Bau Ketiak

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini