Sering Konsumsi Es Teh Manis Bisa Pengaruhi Kondisi Kesehatan Jantung

Jumat, 30 September 2022 09:00 Reporter : Rizky Wahyu Permana
Sering Konsumsi Es Teh Manis Bisa Pengaruhi Kondisi Kesehatan Jantung Ilustrasi es teh manis. ©2018 Pixabay.com

Merdeka.com - Beberapa waktu belakangan, masyarakat kembali peduli terkait risiko yang mungkin muncul dari minuman manis dan tinggi gula. Hal ini dipicu permasalan di media sosial yang berujung dengan meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap konsumsi gula harian.

Mengonsumsi gula berlebihan dapat membawa dampak buruk bagi kesehatan. Terlebih, mengonsumsi minuman seperti es teh dengan gula secara rutin punya kaitan secara tidak langsung dengan penyakit jantung.

"Ini lagi viral ya menambahkan gula di teh, es teh. Indonesia memang sukanya es teh manis ya. Sebenarnya asosiasi langsung (antara minum es teh manis dengan penyakit jantung) tidak ada," ujar Ketua PP PERKI dr Radityo Prakoso dalam acara Peringatan Hari Jantung Sedunia (HJS) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI beberapa waktu lalu.

"Tetapi kembali lagi, penyakit jantung koroner itu ada faktor risiko. Salah satunya adalah diabetes melitus. Kalau diabetes melitus, penambahan gula, glukosa di es teh itu akan sangat cepat meningkatkan gula darah, dan itu yang menjadi komorbid," tambahnya.

Prakoso mengungkapkan bahwa korelasi secara langsung antara minum es teh manis rutin dengan penyakit jantung tidak ada. Hanya saja kebiasaan tersebut dapat menimbulkan faktor risiko penyakit jantung.

"Ini yang akan gula darah tidak terkendali dan akhirnya menjadi komorbid yang akan mem-promote terjadinya serangan jantung," kata Prakoso.

Dalam kesempatan yang sama, turut hadir Direktur P2PTM Kemenkes RI, dr Eva Susanti. Menurutnya, sangat penting untuk membatasi konsumsi gula yang masuk ke dalam tubuh.

"Itu tidak boleh lebih dari 50 miligram per hari atau sekitar empat sendok makan. Nah, ini sebenarnya marak di negara-negara yang memang sudah banyak obesitasnya. Lebih direndahkan lagi jadi sekitar 25 miligram per hari," ujar Eva.

"Kenapa? Karena gula ini akan menyebabkan obesitas yang akan memicu terjadinya diabetes. Nanti ketika tidak terkontrol, ini akan memicu juga terjadinya penyakit jantung. Memang agak panjang jalannya, tapi kita harus ingat kalau harus menghindari faktor risiko," tambahnya.

2 dari 2 halaman

Menurunkan Risiko Penyakit Jantung

Menurut Prakoso, 80 persen kasus penyakit jantung dapat dicegah lewat menurunkan faktor risikonya. Faktor risiko penyakit jantung sendiri terbagi menjadi dua, yang dapat diubah dan tidak bisa diubah.

"Yang tidak dapat diubah itu apa? Riwayat keluarga dengan penyakit jantung, usia, jenis kelamin, dan etnis atau ras. Tapi yang dapat diubah apa? Merokok, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, gaya hidup sedenter, obesitas, diabetes, kebiasaan makan makanan berlemak, dan konsumsi alkohol," kata Prakoso.

Prakoso mengungkapkan bahwa gaya hidup tidak sehat itulah yang menjadi penyebab paling umum dari penyakit jantung. Bahkan sebuah data menunjukkan bahwa orang yang mengonsumsi fast food dua kali dalam sehari juga dapat berkontribusi.

Hal tersebut dikarenakan mengonsumsi fast food dapat menginduksi terjadinya inflamasi yang berperan dalam pembentukan plak di pembuluh darah, yang mana bisa meningkatkan risiko penyakit jantung.

Di sisi lain, faktor-faktor seperti stres akademis, manajemen waktu yang buruk, kurang tersedianya opsi makanan sehat, kepraktisan pun dapat berkontribusi pada penyakit jantung terutama di usia muda.

Reporter: Diviya Agatha
Sumber: Liputan6.com [RWP]

Baca juga:
Nyeri Dada Merupakan Keluhan Umum yang Dialami Pasien Serangan Jantung
Ketahui Dua Jenis Skrining untuk Deteksi Penyakit Jantung Bawaan
Tidak Minum Obat secara Rutin Setelah Alami Serangan Jantung, Ini Dampaknya
Dokter Ingatkan untuk Jangan Lewatkan Pemanasan sebelum Berolahraga
Penyakit Jantung Bawaan Bisa Dikenali dari Gejala yang Muncul

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini