Senyum Terakhir Zaenal

Sabtu, 31 Oktober 2020 00:08 Reporter : Titah Mranani
Senyum Terakhir Zaenal Perawat Zaenal Khabib. ©Istimewa

Merdeka.com - Muslikah masih mencoba mengikhlaskan kehilangan Zaenal Khabib sang suami, yang berprofesi sebagai perawat Puskesmas Semanding, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Zaenal dinyatakan meninggal dunia dengan status Pasien Dalam Pengawasan (PDP) virus corona.

Zaenal tak berdaya melawan virus corona yang menyerang tubuhnya. Kondisi sang perawat terus melemah dan tidak ada tanda-tanda akan menunjukkan perbaikan. Pada hari ke-12 pun, Zaenal harus bertemu Sang Khaliq.

Zaenal yang berprofesi sebagai perawat sejak 90an akhir ini merupakan sosok yang baik dan memiliki banyak pengalaman. Sejak merebaknya virus corona, Muslikah menceritakan bahwa tugas sang suami menjadi semakin berat.

Meskipun tidak langsung berurusan dengan pasien covid-19, namun sejak awal Maret 2020 Zaenal mengedukasi bahaya virus corona. Berbagai penyuluhan gencar dilakukan. Seperti membagikan masker dan hand sanitizer ke pasar, warung, ke masyarakat pokoknya.

Muslikah sadar bahwa suaminya merupakan garda terdepan untuk menangani efek dari virus yang menyebar dari Wuhan, China ini. Muslikah sudah menyiapkan berbagai resiko yang akan dihadapinya, bahkan sampai hal yang terburuk.

"Hanya satu permintaan almarhum saat di ruang isolasi, Almarhum minta diikhlaskan, insya Allah sekarang saya ikhlas," kata Muslikah saat bercerita dengan merdeka.com, Selasa (22/9) lalu.

Muslikah menceritakan, setelah pulang dari penyuluhan kepada masyarakat untuk menggunakan masker dan hand sanitizer serta jaga jarak. Pada tanggal 19 Maret 2020, Zaenal mulai merasakan gejala flu. Mengeluhkan kondisi badannya yang mulai tidak fit. Muslikah dan tiga anaknya sudah mengkhawatirkan kondisi tersebut.

Selang tiga hari sang perawat mengalami demam tinggi dan sesak di dada. Muslikah dan anak-anaknya sempat berpikir bahwa sosok kepala keluarga itu terinfeksi virus corona, lalu membawanya ke rumah sakit.

Berdasarkan hasil rontgen dan rapid test, hasilnya non reaktif. Meski begitu Zaenal diminta untuk tetap melakukan isolasi mandiri sejak 25 Maret 2020. Saat masuk ke ruang isolasi, Zaenal tidak banyak berbicara kepada anak atau istrinya. Pria berusia 43 tahun itu hanya tersenyum dan menyampaikan pesan kepada keluarganya untuk selalu menerapkan protokol kesehatan.

Namun, selang empat hari berada di ruang isolasi, kondisi Zaenal semakin melemah. Muslikah meminta pihak rumah sakit untuk tidak perlu menyampaikan hasil swab test kepada sang suami. Apapun hasilnya, dia berharap suaminya sembuh.

Saat menjelang akhir hidupnya, Muslikah mengatakan, Zaenal ingin dirinya terus berada di sampingnya. "Almarhum hanya tersenyum. Dia (Zaenal) malah mengkhawatirkan saya dan anak-anak," ujar Muslikah disertai dengan isakan tangisnya.

Zaenal dan Muslikah sudah menikah selama 21 tahun. Sejak pertama bertemu, Muslikah mengatakan tidak ada perubahan pada diri Zaenal. Selalu dikenal sebagai perawat yang sangat baik budi. Buah dari pernikahan yang berlangsung pada 6 November 1999, menghasilkan tiga buah hati. Anak pertamanya kelas 3 SMA, anak keduanya kelas 1 SMA dan anak terakhirnya saat ini sudah duduk di bangku kelas 2 SD. Anak keduanya sangatlah dekat dengan ayahnya. Bahkan, sampai bercita-cita mengikuti jejak Zaenal menjadi perawat.

Baca Selanjutnya: Tenaga Kesehatan Mulai Kelelahan...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini