Seberapa Besar Dampak dari Cacar Monyet Jika Menyerang Manusia?

Rabu, 6 Juli 2022 09:00 Reporter : Rizky Wahyu Permana
Seberapa Besar Dampak dari Cacar Monyet Jika Menyerang Manusia? Cacar Monyet. ©CDC's Public Health Image Library

Merdeka.com - Penyakit monkeypox atau cacat monyet pada saat ini masih menjadi perhatian di Indonesia. Penyakit ini masih terjadi di sejumlah negara dan patut menjadi perhatian kita.

Sebenarnya, seberapa bahaya penyakit zoonosis ini jika menyerang manusia? Menjawab hal tersebut, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Penyakit Tropik Infeksi Hadianti Adlani mengatakan, monkeypox atau cacar monyet adalah penyakit virus zoonosis atau virus yang ditularkan darihewan ke manusia yang merupakan penyakit infeksi yang bersifat self-limiting disease atau sembuh dengan sendirinya.

"Gejala klinisnya pada manusia hampir sama dengan kasus smallpoxatau cacar yang pernah dieradikasi tahun 1980. Walaupun gejalanya lebih ringan daripada cacar, namun cacar monyet ini dapat menyebar secara luas di beberapa wilayah di Afrika," jelas dr Hadianti beberapa waktu lalu.

Menurut Hadianti, seperti halnya virus Variola--penyebab smallpox atau cacar, virus penyebab monkeypox juga merupakan spesies yang termasuk ke dalam genus Orthopoxvirus dan keluarga Poxviridae.

Pertama kali ditemukan pada tahun 1958 di State Serum Institute Copenhagen, Denmark, ketika ada 2 kasus mirip cacar yang diderita oleh koloni kera yang dipelihara untuk penelitian. Sehingga selanjutnya cacar ini dinamakan monkeypox atau cacar monyet.

Namun belakangan diketahui bahwa pembawa utama penyakit ini adalah hewan pengerat seperti tikus.

Di Afrika, infeksi ini telah ditemukan pada banyak spesies hewan seperti tupai pohon, Gambian giant rat, tikus bergaris, dormice, dan primata.

2 dari 3 halaman

Gejala dan Diagnosis

dr Hadianti menerangkan, monkeypox biasanya merupakan penyakit yang dapat sembuh sendiri dengan gejala yangberlangsung selama 14 - 21 hari.

Gejala awal berupa demam dan sakit kepala, pembengkakan kelenjar getah bening yang dapat dirasakan di leher, ketiak, ataupun selangkangan, nyeri otot atau punggung, dan badan terasa lemas.

Kemudian dalam 1-3 hari setelah gejala awal tersebut dapat muncul ruam atau lesi pada kulit dimulai pada wajah kemudian menyebar ke bagian tubuh lainya, lalu timbul bintik merah seperti cacar (makulapapula) lepuh berisi cairan bening ataupun lepuh berisi nanah. Setelah melewati tujuh hari pertama lesi/lepuh berlubang dan bernanah tersebut dapat berkembang di seluruh tubuh mulai dari wajah hingga kaki.

Diagnosis dibuat berdasarkan pada manifestasi klinis, dan pemeriksaan laboratorium. Secara klinis, diagnosis monkeypox dapat mempertimbangkan penyakit ruam lainnya, seperti smallpox (meskipun sudah dieradikasi), varicella, atau cacar air, campak, infeksi kulit akibat bakteri, kudis, sifilis, dan alergi terkait obat tertentu.

"Pembesaran kelenjar getah bening dapat menjadi gejala khas untuk membedakan monkeypox dengan penyakit cacar lain yang serupa, seperti cacar,cacar air, dan lainnya," katanya.

dr Hadianti mengingatkan, konfirmasi diagnosis hanya dapat dilakukan melalui pemeriksaan laboratorium, di antaranya menggunakan uji Polymerase Chain Reaction (PCR) pada spesimenswab tonsilar, swab nasofaringeal, cairan lesi, dan serum.

"Belum ada pengobatan khusus atau vaksinasi yang tersedia untuk infeksi ini pada manusia.P engobatan simptomatik dan suportif berdasarkan gejala yang ditimbulkan dapat diberikan untuk merigankan keluhan yang muncul," jelasnya.

Riwayat vaksinasi smallpox dikatakan dapat sangat efektif mencegah penularan dan memberatnya penyakit atau komplikasi pada monkeypox.

3 dari 3 halaman

Cara Mencegah Penularan

Penularan dapat dicegah dengan beberapa acara, antara lain:

- Menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti cuci tangan.

- Menghindari kontak langsung dengan tikus atau primata dan membatasi pajanan langsungdengan darah atau daging yang tidak dimasak dengan baik.

- Menghindari kontak fisik dengan penderita atau material yang terkontaminasi penderita.

- Pelaku perjalanan yang kembali dari wilayah terjangkit segera periksa jika mengalami demam tinggi mendadak, pembesaran kelenjar getah bening dan ruam kulit, dalam waktu kurang dari 3 minggu setelah kepulangan.

- Pasien cacar monyet wajib diisolasi

Virus Monkeypox ditularkan ke manusia dari beberapa binatang liar, sedangkan penularan antar manusia masih sangat jarang.

"Penularan antar manusia sangat mungkin tetapi dalam kasus yang jarang ini, dapat terjadi akibat kontak jarak dekat dengan sekresi saluran pernapasan, ataupun lesi kulit yang mengandung virus dari penderita," kata dr Hadianti.

Ia mengatakan, angka keparahan (case fatality rate/CFR) berkisar antara 1-10 persen dengan jumlah kematian terbanyak pada kelompok usia muda.

"Kasus yang parah lebih banyak terjadi pada anak-anak dan terkait dengan tingkat paparan virus, status kesehatan pasien, dan tingkat keparahan komplikasi. Kasus kematian sebagian besar terjadi pada kelompok usia yang lebih muda dianggap lebih rentan terhadap penyakit karena status imun yang kurang baik," jelasnya.

Yang perlu diingat juga, lanjut Hadianti adalah belum adanya pengobatan dan vaksin yang spesifik untuk infeksi ini pada manusia, walaupun riwayat vaksinasi smallpox dapat sangat efektif mencegah penularan monkeypox.

Reporter: Fitri Syarifah
Sumber: Liputan6.com [RWP]

Baca juga:
Ampuhkah Jus Jambu Menjadi Cara Menaikkan Trombosit saat DBD?
Amankah Mengonsumsi Daging dan Susu Sapi di Tengah Wabah PMK?
Kadang Tak Disadari, 6 Hal Ini Menandakan Bahwa Kamu Harus Makan
Jangan Lengah! Campak, Rubella, dan Difteri Masih Mengancam Anak
Cara bagi Orangtua Mengetahui Terjadinya Gejala Alergi pada Anak

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Fakta Kesehatan
  3. Cacar Monyet
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini