Sebagian Besar Pasien Ternyata Tak Jujur Kepada Dokter Tentang Penyakitnya

Rabu, 5 Desember 2018 13:00 Reporter : Rizky Wahyu Permana
Sebagian Besar Pasien Ternyata Tak Jujur Kepada Dokter Tentang Penyakitnya Ilustrasi dokter dan pasien. ©Shutterstock/wavebreakmedia

Merdeka.com - Ketika sedang berkonsultasi dengan dokter, seberapa sering kamu menjawabnya secara jujur? Apakah kamu sering merahasiakan sakit yang kamu alami atau malah melebih-lebihkannya? Ternyata berdasar penelitian, banyak orang yang tidak jujur ketika berhadapan dengan dokter.

Dilansir dari Science Daily, sebesar 60 hingga 80 persen dari orang yang disurvei mengaku tidak jujur ketika berkonsultasi ke dokter tentang kondisi mereka. Bahkan sebanyak sepertiga responden mengaku tak sepakat dengan rekomendasi yang diberikan dokter. Sebagian lainnya adalah karena mereka tidak dapat memahami instruksi dari klinik.

Ketika responden menjelaskan mengapa mereka tak jujur, sebagian mengatakan bahwa mereka berusaha agar tidak terlalu diadili dan diceramahi mengenai buruknya perilaku mereka. Lebih dari setengah mengaku terlalu malu untuk berkata jujur.

"Banyak orang ingin terlihat dihargai oleh dokter mereka," ujar peneliti senior, Angela Fagerlin, Ph.D., ketua ilmu kesehatan masyarakat dari U Health.

"Mereka takut dipandang sebagai seseorang yang tidak bisa membuat keputusan baik," tambahnya.

Penelitian ini dilakukan terhadap dua populasi berbeda. Penelitian pertama untuk melihat respons dari 2.011 pastisipan dengan usia rata-rata 36 tahun. Sedangkan penelitian kedua dilakukan pada 2.499 partisipan dengan rata-rata usia 61 tahun.

Pada kedua survei, responden wanita yang merasa lebih muda dan mengaku sakit-sakitan cenderung untuk gagal mendapat informasi medis yang relevan dari ahli medis mereka.

"saya terkejut bahwa ternyata sangat banyak orang yang tidak jujur dengan hal ini dan mereka juga mengakuinya," ujar salah satu peneliti lain, Andrea Gurmankin Levy, Ph.D., MBe, associate professor pada ilmu sosial Middlesex Community College in Middletown, Connecticut.

Masalah yang timbul dari ketidakjujuran pasien ini adalah dokter jadi tak dapat memberikan saran kesehatan yang akurat karena mereka tak mendapat fakta yang sesungguhnya.

"Jika pasien tidak memberikan informasi mengenai apa yang mereka makan, atau apakah mereka telah mengonsumsi obat yang diberikan, hal ini dapat berpengaruh signifikan pada kesehatan mereka. Terutama jika mereka memiliki penyakit kronis," jelas Levy.

Memahami masalah ini secara lebih dalam dapat berujung pada cara untuk menyelesaikan masalah. Levy dan Fagerlin berharap dapat mengulangi penelitian ini dan berbincang dengan pasien mengenai pertemuan dengan dokter ketika hal tersebut masih baru saja mereka alami.

Wawancara secara langsung dapat membantu mengenali faktor lain yang mempengaruhi interaksi antara pasien dan dokter ini. Sebagai contoh, apakah pasien akan lebih terbuka terhadap dokter yang telah mereka kenali selama bertahun-tahun.

Fagerlin juga mengungkap bahwa pasien bukanlah satu-satunya yang harus disalahkan dalam hal ini.

"Bagaimana komunikasi yang terjadi pada situasi tertentu mungkin menyebabkan pasien menjadi enggan untuk terbuka," jelas Fagerlin.

"Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah ada cara untuk melatih dokter untuk membuat pasien lebih nyaman," tandasnya. [RWP]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini