Pertanyaan Kapan Nikah Terus Menerus Tidak Membantu untuk Memecahkan Masalah

Minggu, 15 September 2019 18:00 Reporter : Rizky Wahyu Permana
Pertanyaan Kapan Nikah Terus Menerus Tidak Membantu untuk Memecahkan Masalah ilustrasi menikah. ©2014 Merdeka.com/Shutterstock/Denis Ponkratov

Merdeka.com - Salah satu pertanyaan basa-basi yang sering muncul dan digunakan di Indonesia adalah pertanyaan mengenai "kapan nikah". Pertanyaan ini hampir selalu keluar pada berbagai kesempatan dan ditanyakan oleh keluarga, teman, atau orang yang hanya sekadar kenal.

Melalui siaran Live Streaming Radio Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, seorang warganet rupanya khawatir bila tantenya (40) yang selalu ditanya dengan pertanyaan 'Kapan Nikah" berujung menimbulkan ide bunuh diri. Ini dikarenakan setiap kali ditanya "Kapan Nikah" raut wajah tante kesayangannya berubah kesal.

Menanggapi curahan hati warganet soal 'kapan nikah' tersebut, dokter spesialis kejiwaan Dian Pitawati memberikan jawaban. Bahwa kita harus memahami bagaimana permasalahan si tante.

"Usia 40 tahun dan belum menikah, mungkin dia (tante) mempertimbangkan sendiri hal-hal lain. Bisa juga masalah belum diberikan jodoh. Kita enggak perlu menanyakan pertanyaan 'Kapan Nikah' berulangkali," jawab Dian.

"Kesabaran seseorang (merespons pertanyaan kapan nikah) itu kan terbatas, dia mampu menahan atau enggak. Jangan sampai pertanyaan yang terus menerus itu menjadi pemicu seseorang melakukan hal yang tidak diinginkan," sambungnya.

Yang harus diperhatikan, kita bisa memberikan dukungan dengan mendampingi dan mendengarkan apa yang membuat dia belum juga menikah. Permasalahan apa yang ia alami dan rasakan.

"Pertanyaan 'Kapan Nikah" sendiri yang terus menerus itu justru tidak membantu memecahkan permasalahan orang tersebut," terang Dian yang berpraktik di RSUP Fatmawati Jakarta.

Di sisi lain, perlu juga memahami tanda adanya ide keinginan bunuh diri saat seseorang menghadapi suatu permasalahan. Gejala depresi berat ini menjadi indikasi orang yang bersangkutan mengalami putus asa.

Keputusasaan bisa memunculkan ide bunuh diri. Depresi timbul dari halusinasi yang semakin mendorong orang berkeinginan bunuh diri. Sebaiknya, saat depresi ringan dialami segera berkonsultasi, saran Dian.

Reporter: Fitri Haryanti Harsono
Sumber: Liputan6.com [RWP]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini