Penyakit Jantung Bawaan Bisa Dikenali dari Gejala yang Muncul

Selasa, 27 September 2022 10:21 Reporter : Rizky Wahyu Permana
Penyakit Jantung Bawaan Bisa Dikenali dari Gejala yang Muncul Ilustrasi Kesehatan Jantung. ©2015 Merdeka.com/shutterstock/Csaba Deli

Merdeka.com - Penyakit jantung merupakan salah satu masalah kesehatan yang ditakuti. Masalah kesehatan ini tidak hanya karena gaya hidup saja namun juga karena bawaan.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dr. Oktavia Lilyasari, SpJP(K), FIHA mengatakan cara mengenali penyakit jantung bawaan (PJB) pada bayi baru lahir dapat melalui gejala seperti sulitnya dia menyusu, napasnya cepat, biru dan berkeringat dingin.

Kemudian pada anak usia satu bulan ke atas, gejala mencakup seringnya dia tersedak atau terputus saat menyusu, berat badan susah naik, gangguan tumbuh kembang, keluhan biru, infeksi saluran napas berulang dan keterbatasan melakukan aktivitas.

"Biru biasanya di mukosa bibir, mulut, kadang di bawah area mata, bibir warna ungu, kalau berlanjut lebih lama akan timbul jari jendol-jendol seperti tabung dan biru," jelas Oktavia beberapa waktu lalu dilansir dari Antara.

Tanda lainnya bising jantung saat pemeriksaan jantung, nadi lemah dan ekstremitas teraba dingin.

Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik dan beberapa pemeriksaan penunjang seperti rekam jantung, rontgen dada, pemeriksaan lanjutan berupa kateterisasi jantung.

2 dari 2 halaman

Sementara pada remaja keluhannya antara lain mudah lelah, sesak napas, sering terbangun karena sesak, sakit dada, berdebar, pingsan serta bengkak di bagian perut dan kaki.

Berbicara faktor risiko PJB, antara lain kelainan gen, riwayat keluarga dengan PJB, sindroma-sindroma tertentu dan faktor ibu seperti mengalami penyakit rubella, toksoplasma, mengalami diabetes, sering menggunakan obat yang tidak direkomendasikan dokter kandungan, kebiasaan minum beralkohol, terpapar radiasi dan merokok.

Oktavia mengatakan sekitar 30 persen penyakit jantung bawaan dapat temukan pada bulan-bulan pertama kehidupan. Oleh karena itu, maka deteksi dini penting kemudian melakukan proses rujukan untuk mendapatkan diagnosis konfirmasi dengan jelas.

"Masalah terutama di negara berkembang keterlambatan diagnosis. Sebuah jurnal tahun 2016 menyebutkan sekitar 85,1 persen kasus PJB terlambat didiagnosis. Kalau terlambat kemungkinan tata laksana juga akan terlambat," tandasnya. [RWP]

Baca juga:
Dokter Ingatkan Bahwa Susu Tidak Bisa Gantikan Makanan Utama pada Anak
Cara Mencegah Stunting pada Anak, Penuhi Asupan Nutrisinya
Dokter Terangkan Bahwa Diagnosis Autisme Bisa Dimulai Sejak Anak Berusia Setahun
Anak dengan Autisme Tidak Disarankan Dokter untuk Langsung Masuk PAUD
Lebih Baik Mana, Air Hangat atau Air Dingin untuk Kompres Demam?
Kondisi Alergi pada anak Bisa Picu Masalah Nutrisi dan Gangguan Pertumbuhan

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini