Penyakit Autoimun Tidak Bisa Disembuhkan Namun Bisa Dikendalikan

Senin, 29 Juli 2019 16:00 Reporter : Rizky Wahyu Permana
Penyakit Autoimun Tidak Bisa Disembuhkan Namun Bisa Dikendalikan Ilustrasi lupus. ©2012 Shutterstock/Marcin Moryc

Merdeka.com - Penyakit autoimun di Indonesia diduga diderita oleh jutaan bahkan puluhan juta orang walau belum ada jumlah pastinya. Walau penyakit ini tidak bisa disembuhkan, namun dapat dicegah persebarannya.

Mantan penderita autoimun, Marisza Cordoba mengatakan bahaya penyakit tersebut sama dengan kanker. Namun penyakit autoimun yang termasuk mematikan itu bisa dikendalikan dan dicegah.

"Jika kanker itu adalah disebabkan mutanisasi sel yang merusak tubuh maka autoimun merusak tubuh dari sel imunitas tubuh itu sendiri. Jadi ada masalah dari filterisasi antibodi tubuh, antibodi ini menyerang benda asing masuk ke tubuh tapi tidak bisa membedakan mana yang membahayakan dan mana yang tidak," kata Marizsa.

1 dari 5 halaman

Penyebab penyakit Autoimun

Penyebab penyakit autoimun ini menurut Marisza disebabkan salah satunya terlalu banyak mengonsumsi makanan berbahan dasar terigu. Sehingga gluten yang terkandung dalam terigu ini merusak cara kerja sistem imunitas yang ada di usus dan lambung.

"Selain terigu yang? membahayakan ada bahan lain yang bisa menyebabkan autoimun ini, diantaranya adalah pewarna makanan, penyedap rasa, pemanis buatan, dan lainnya," kata dia.

2 dari 5 halaman

Mencegah Persebarannya

Meski autoimun ini tidak bisa disembuhkan tetapi kata Marisza penyebarannya bisa dicegah, caranya adalah dengan hidup sehat. Contohnya mengonsumsi kunyit atau sayur-sayuran yang baik untuk tubuh.

"Saya ini penderita autoimun sejak berusia 4 tahun. Hampir selama 25 tahun saya bolak-balik dokter, tetapi akhir-akhir ini saya tidak lagi mengonsumsi obat dan ke dokter karena hidup sehat," ujarnya.

3 dari 5 halaman

Berharap Adanya Organisasi Masyarakat

Marisza berharap ada kepedulian khusus dari pemerintah pusat dengan mendata para penderita autoimun. Sebab, hingga kini data penderita autoimun baru hanya dilakukan oleh komunitas dan organisasi masyarakat.

"Penderita di Amerika Serikat berjumlah 50 juta orang namun di Indonesia yang terdata positif terkena penyakit ini baru 5000 orang," kata Marisza yang juga sebagai founder dari Marisza Cordoba Foundation.

4 dari 5 halaman

Diharap Dukungan Pemerintah

Di tempat yang sama, Co founder dan Direktur Firda Athira Foundation, Firda Athira Azis mengatakan, pihaknya berupaya mendorong pemerintah agar lebih memerhatikan penderita autoimun. Salah satunya dengan menanggung biaya pemeriksaan awal ditanggung oleh BPJS.

"Pandangan saya terhadap pemerintah, penderitanya saja di Indonesia belum dapat didata. Minimal BPJS bisa mengcover biaya untuk tes awal, karena untuk periksa biayanya mahal, bisa sampai Rp1,9 juta untuk sekali periksa," kata Firda.

5 dari 5 halaman

Penderita Autoimun Lebih Sensitif

Salah seorang penderita, Maya Lestari, 29, harus menjaga emosinya dengan baik agar penyakit autoimunnya tidak kambuh. Menurut dia, penderita autoimun cenderung lebih sensitif.

"Terakhir sehabis Idul Fitri 2018 lalu saya sempat koma selama 4 hari karena kecapekan, saya kena penyakit ini sejak 2008 dan menyerang sendi, ginjal dan kulit otak. Kalau sekarang saya lagi galau maka saya melakukan zikir untuk meminimalisir emosi saya, karena kita penderita autoimun ini agak baperan," ucap Maya.

Reporter: Arya Prakasa
Sumber: Liputan6.com [RWP]

Baca juga:
Terjadinya Penyakit Jantung Bawaan pada Anak Bisa Dideteksi Sejak Kehamilan
Konsumsi Cabai Di Atas Batas Bisa Buat Seseorang Lebih Rentan Demensia
Kebiasaan Konsumsi Kafein Bisa Buat Gejala Kecemasan Seseorang Semakin Buruk
Memahami Apa Itu Hipotermia dan Bagaimana Cara yang Tepat untuk Mengatasinya
Amankah Sering Menggunakan Hand Sanitizer untuk Membersihkan Tangan?
Ini Hal yang bakal Terjadi pada Tubuh Usai Kamu Mengonsumsi Hamburger

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini