Pentingnya Skrining dan Deteksi Dini dalam Penanganan Kanker Paru

Rabu, 24 November 2021 11:00 Reporter : Rizky Wahyu Permana
Pentingnya Skrining dan Deteksi Dini dalam Penanganan Kanker Paru Ilustrasi kanker paru-paru. ©Shutterstock.com/creo77

Merdeka.com - Dalam rangka memperingati Bulan Kesadaran Kanker Paru, Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) mengadakan Diskusi Publik #LungTalk. Kegiatan ini dilakukan untuk membahas mengenai urgensi penyintas kanker paru terhadap akses pengobatan inovatif, serta mengedukasi masyarakat luas terkait situasi dan perkembangan terkini kasus kanker paru di Indonesia.

Saat ini, akses pengobatan penyintas kanker paru di JKN masih belum merata. Berdasarkan Laporan Keuangan BPJS 2019, hanya 3 persen dana dari JKN telah dialokasikan untuk pengobatan kanker, termasuk kanker paru.

Data GLOBOCAN 2020 menyatakan bahwa angka kematian akibat kanker paru di Indonesia meningkat sebesar 18 persen menjadi 30.843 orang dengan kasus baru mencapai 34.783 kasus. Angka tersebut membuat kematian akibat kanker paru baik di Indonesia maupun di dunia menempati urutan pertama diantara semua jenis kanker.

Saat ini, JKN hanya menjamin pengobatan personalisasi/ inovatif bagi penyintas kanker paru dengan mutasi EGFR positif. Padahal, hampir 60 persen dari penyintas kanker paru memiliki mutasi EGFR negatif yang memerlukan pengobatan atau terapi yang lain, seperti imunoterapi, dan belum ditanggung JKN.

“Prevalensi kanker paru di Indonesia memang masih tinggi. Akan tetapi, saat ini pengobatan yang bekerja spesifik sesuai tipe kanker paru sudah tersedia baik bagi penyintas dengan Mutasi Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR) positif ataupun negatif sesuai dengan pedoman internasional, termasuk pembedahan, kemoterapi, terapi target dan imunoterapi,” terang Dr. Sita Laksmi Andarini, PhD, Sp.P(K), Anggota Pokja Onkologi Toraks Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI).

Berbeda dengan pengobatan yang lain, sistem kerja dari pengobatan imunoterapi langsung menghambat sinyal negatif yang digunakan kanker untuk mengelabui sistem imun tubuh melawan kanker. Dengan begitu, sistem kekebalan pada penderita kanker akan jauh lebih aktif untuk melawan sel kanker tersebut. Imunoterapi diharapkan dapat menjawab kebutuhan penyintas dan dapat menekan laju pertumbuhan angka beban kanker paru.

“Dengan adanya terobosan dalam penanganan kanker paru, tentu saja saya berharap hal tersebut dapat meningkatkan harapan dan kualitas hidup penyintas kanker paru di Indonesia. Sebab, peningkatan kualitas hidup penyintas kanker paru tidak terlepas dari kemudahan mendapatkan akses dari tahap diagnosis, terapi dan tatalaksana paliatifnya,” tambah Dr. Sita.

2 dari 2 halaman

Pentingnya Skrining dan Deteksi Dini

Seringkali kanker paru hanya dikaitkan dengan perilaku merokok, sehingga ada anggapan bahwa upaya peningkatan akses pengobatan (kuratif) kanker paru belum memiliki urgensi seperti upaya promotif dan preventif. Namun ditemukan sebuah karakteristik unik di daerah Asia Pasifik, termasuk Indonesia, bahwa jumlah non perokok dan perempuan yang didiagnosis dengan kanker paru lebih tinggi dibandingkan dengan tempat lain di dunia (EIU, 2020). Sehingga, kita tidak dapat mengesampingkan pentingnya meningkatkan akses ke pengobatan yang paling direkomendasikan untuk setiap jenis kanker paru.

"Satu lagi terpenting adalah tindakan pencegahan (preventif) yaitu menjauhi rokok, skrining kanker paru dan deteksi dini kanker paru. Skrining kanker paru adalah upaya mendiagnosis kanker sebelum terjadi gejala. Skrining diharapkan dapat dilakukan pada usia dewasa, risiko tinggi yaitu riwayat merokok, perokok pasif, atau bekas perokok, riwayat pajanan pekerjaan, riwayat genetik kanker, dan riwayat fibrosis paru," terang dr. Sita.

"Sedangkan deteksi dini adalah upaya untuk mendeteksi kanker dalam stage yang lebih dini, saat terjadi gejala yaitu batuk, batuk darah, sesak napas, nyeri dada. Deteksi dini kanker paru hendaknya disatukan dengan program deteksi dini TB paru, sehingga dapat terdeteksi di stadium dini. Skrining dan deteksi dini dapat dilakukan melalui CT scan toraks dosis radiasi rendah (Low-dose CT thorax),” sambungnya. [RWP]

Baca juga:
Kanker Payudara Bisa Dialami Juga Oleh Pria, Kenali Gejalanya
Vaksinasi HPV Sebaiknya Dimulai Sejak Kelas 5 atau 6 SD
Kasus Kanker yang Pertama Tercatat dan Penyebabnya di Masa Lalu
Mengendalikan Stres Bisa Menjadi Cara Pencegahan Kanker Payudara
Kenali 3 Bentuk Malanutrisi yang Rentan Dialami Pasien Kanker Anak

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini