Pakar Perkirakan Penurunan Ekonomi Bisa Timbulkan Dampak Kesehatan

Rabu, 7 Desember 2022 09:00 Reporter : Rizky Wahyu Permana
Pakar Perkirakan Penurunan Ekonomi Bisa Timbulkan Dampak Kesehatan ilustrasi pandemi covid. ©Angela Ponce/Reuters

Merdeka.com - Pandemi COVID-19 yang terjadi selama lebih dari dua tahun ini telah menimbulkan sejumlah dampak di berbagai aspek kehidupan. Hal ini tak hanya menimbulkan dampak kesehatan saja namun juga ekonomi yang keduanya bisa saling berhubungan.

Australia-Indonesia Centre telah menerbitkan laporan model matematika yang ditulis bersama oleh para peneliti Monash University dan peneliti Universitas Hasanuddin, Makassar. Laporan ini fokus terhadap model matematika yang dapat mengukur dampak dari kebijakan yang fokus pada kesehatan dibandingkan dengan kebijakan yang fokus pada ekonomi selama kondisi pandemi.

Laporan yang berjudul ‘Health or economy in Indonesia? Making the best impossible decision during COVID-19’ berfokus pada delapan wilayah di Indonesia (Bali, Indonesia Timur, Jakarta, Jawa, Kalimantan, Papua, Sulawesi, dan Sumatera). Laporan ini menemukan bahwa intervensi yang sangat luas dari pemerintah akan dapat menyelamatkan 35.000 jiwa per tahunnya, tapi ini juga akan dapat mendorong penurunan ekonomi yang substansial, hingga mencapai 10% dari GDP.

Profesor Andreas Ernst dari Monash University mengatakan, “Penelitian baru ini mengintegrasikan model ekonomi dan epidemiologi ke dalam satu kerangka kerja untuk melihat dampak terhadap satu model ke model lainnya. Metode ini memberikan cara untuk mempelajari ketegangan antara pertimbangan ekonomi dan kesehatan secara objektif.”

Berdasarkan model tersebut, penurunan ekonomi yang tajam dapat menimbulkan konsekuensi kesehatan yang lebih buruk bagi Indonesia jika dibandingkan dengan pandemi COVID-19. Di sisi lain, model tersebut juga menunjukkan bahwa solusi kesehatan publik lainnya menawarkan konsekuensi yang berbeda, dan berpotensi untuk menyelamatkan lebih banyak jiwa.

“Studi ini menunjukkan bahwa ada opsi lain bagi pembuat kebijakan dalam menghadapi pandemi COVID-19. Dengan memanfaatkan keahlian para peneliti dari beberapa bidang dan analisis data kesehatan dan ekonomi, para pengambil kebijakan dapat memiliki berbagai opsi alternatif dalam pengambilan keputusan.” ujar dosen senior dan peneliti di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin, Makassar, Dr. Sudirman Nasir.

2 dari 2 halaman

Lebih lanjut model penelitian ini nantinya diharapkan dapat digunakan untuk mengelola pandemi yang sedang berlangsung ataupun wabah kesehatan lainnya yang mungkin terjadi di masa depan.

“Meskipun pandemi dan aktivitas ekonomi selama pandemi telah dipelajari secara luas, hingga saat ini tidak banyak yang membahas kedua topik tersebut secara bersamaan. Kami kira model ini bisa menjadi alat yang berharga bagi pembuat kebijakan, tidak hanya selama COVID-19 tetapi juga dalam krisis kesehatan lainnya di masa depan,” terang Dr Pierre Le Bodic, Dosen Senior di Monash University di Departemen Ilmu Data & Kecerdasan Buatan.

Laporan ini dihasilkan oleh Partnership for Australia-Indonesia Research (PAIR), sebuah program inisiatif riset besar di bawah naungan Australia-Indonesia Center, yang juga didukung oleh pemerintah Australia. PAIR mempertemukan 11 universitas dari Australia dan Indonesia untuk dapat melihat hasil temuan secara langsung tentang isu-isu sosial dan ekonomi yang menjadi kunci di masa pandemi, untuk kemudian dapat digunakan dalam pembuatan kebijakan. [RWP]

Baca juga:
Kenali 6 Faktor Risiko dan 4 Gejala dari Kanker Ovarium
Dari Sariawan Hingga Kuku Rapuh, Kenali Sejumlah Gejala dari Anemia
Walau Tak Bisa Sembuh, Namun Kanker Tetap Bisa Dikontrol
Ketahui Apa Sih Virus Zombie yang Baru Ditemukan Itu dan Benarkah Berbahaya

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini