Orangtua Perlu Jadi Sahabat Anak di Masa Membentuk Identitas Diri

Rabu, 29 Juli 2020 07:00 Reporter : Rizky Wahyu Permana
Orangtua Perlu Jadi Sahabat Anak di Masa Membentuk Identitas Diri Ilustrasi orangtua dan anak. ©Pixabay/skeeze

Merdeka.com - Masa pembentukan identitas diri pada anak merupakan sebuah momen yang perlu diketahui dan diperhatikan orangtua. Hal ini terutama pada anak yang memasuki usia remaja karena rasa stres dan cemas akibat permasalahan sehari-hari lebih rentan mereka alami.

Praktisi psikolog anak dan remaja Alzena Masykouri menyampaikan orangtua dapat menjadi sahabat bagi anak. Orangtua berperan mencari pengetahuan seluas-luasnya untuk memahami anak.

"Remaja itu sering merasa stres, cemas, dan depresi pada remaja. Hal ini bisa diatasi ketika kita sudah paham dan punya pengetahuan mengenai hal-hal yang membuat kita cemas juga depresi," terang Alzena saat sesi webinar Kesehatan Reproduksi Anak Remaja beberapa waktu lalu.

"Terlebih lagi masalah pertemanan dan sosialisasi, yang bisa membuat dia (remaja) merasa tertekan, tidak nyaman, mengurung diri di dalam kamar, tidak melakukan aktivitas fisik, tidak keluar kamar dan tidak berinteraksi dengan orang lain," sambungnya.

1 dari 2 halaman

Masalah Kesehatan Mental

Peran orangtua adalah membimbing anak. Ajarkan cara menyelesaikan permasalahan pada anak, sehingga anak dapat memilih lingkungan pertemanan yang baik. Komunikasi sehari-hari pun dapat dilakukan orangtua pada anak.

"Secara mental, remaja perlu mengenali pencetus (penyebab) stres. Jadi, apa aja sih yang membuat dia stres. Kemudian bagaimana bisa mengelola cemas dan stresnya. Kenali tanda-tanda depresi ini dan apa sih yang perlu diperhatikan ketika terjadi perubahan emosi," lanjut Alzena.

"Orangtua bisa sering ngobrol atau perhatikan raut wajah anak. Kalau anak berubah jadi murung, sering nangis, lantas lemas dan tidak bersemangat. Belum lagi hal-hal yang menunjukkan perubahan suasana emosi secara drastis dan sulit konsentrasi mengerjakan sesuatu. Maka, anak mengalami masalah dengan kesehatan mental."

Anak yang mengalami masalah kesehatan mental juga dapat dilihat dari perubahan pola makan atau berat badan serta gangguan tidur.

"Yang tadinya anak makan banyak, berubah jadi makannya sangat sedikit atau sebaliknya justru makin banyak makan ya. Kemudian ada gangguan tidur. Kalau orang ketika malam tidur, anak bisa saja malah terjaga saat malam hari. Nah, gangguan tidur yang terjadi secara secara intensif dan dalam jangka waktu kurang lebih sekitar dua pekan, itu mungkin menunjukkan ada masalah di kondisi psikologisnya," tambah Alzena.

2 dari 2 halaman

Tanggungjawab terhadap Tubuhnya Sendiri

Pada masa-masa anak mencari identitas diri, orangtua juga perlu punya pengetahuan agar anak bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri, terutama memasuki pubertas. Pengetahuan seputar kesehatan reproduksi dapat diberikan.

"Peran orangtua juga harus punya pengetahuan untuk diajarkan dan dilatih kepada anak, yakni sejak anak usia 10 tahun. Jadi, anak harusnya sudah bisa mulai merawat dirinya sendiri. 'Aku punya anggota tubuh apa aja sih.' Membicarakan payudara, misalnya dan anggota tubuh lain," Alzena melanjutkan.

"Ini termasuk langkah awal dengan mulai memerhatikan kesehatan atau merawat tubuhnya sendiri. Jadi, enggak langsung diajarkan atau dikasih tahu tentang ovarium, testis, dan segala macam. Lebih fokus tentang cara merawat dirinya sendiri."

Mulai merawat tubuh sendiri akan sangat membantu anak dan remaja bisa mengenali tubuhnya. Selanjutnya, anak memiliki kesadaran bahwa dia bertanggung jawab terhadap tubuhnya sendiri dan fungsi kesehatan reproduksi.

"Semua ini dikomunikasikan dan harus dibicarakan antara orang dewasa (orangtua) dengan remaja. Caranya ngobrol diskusi. Jadi, bukan menggurui, terus hanya berucap, ini tidak boleh, itu tidak boleh," tandas Alzena.

Reporter: Fitri Haryanti Harsono
Sumber: Liputan6.com [RWP]

Baca juga:
Tips Menjaga Imunitas Anak Agar Kebal Virus: Bahagia dan Kecukupan Nutrisi
Orangtua Perlu Ketahui Kondisi Anak yang Sehat secara Mental
Begini Cara Membuat Anak Bisa tak Lupa Waktu ketika Bermain
Tips yang Bisa Diterapkan oleh Orangtua agar Pembelajaran di Rumah Berjalan Lancar
Bantu Jaga Kognitif, Ini Jumlah Asupan Air Minum yang Tepat bagi Anak
Apakah Boleh Jika Anak Mulai Diajari Berdiri Sejak Usia 4 Bulan?

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini