Menguak fakta di balik 9 mitos seputar kolesterol

Rabu, 2 Mei 2018 09:13 Reporter : Merdeka
Menguak fakta di balik 9 mitos seputar kolesterol Ilustrasi kolesterol. ©2017 istock.com

Merdeka.com - Banyak orang menganggap kolesterol adalah zat berbahaya bagi tubuh sehingga perlu dihindari. Anda juga mungkin pernah mendengar bahwa hanya orang gemuk saja yang 'terserang' kolesterol tinggi.

Apakah itu fakta? Belum tentu. Kadar kolesterol tinggi memang dapat menyebabkan segudang penyakit berbahaya seperti stroke dan serangan jantung. Namun, tahukah Anda bahwa tak selamanya kolesterol itu berbahaya.

Ada beberapa fakta yang perlu Anda ketahui di balik mitos-mitos seputar kolesterol yang beredar di masyarakat. Berikut 8 mitos yang dirangkum dr Fiona Amelia dari situsKlikDokter beserta faktanya:

Kolesterol itu jahat

Salah besar jika ada anggapan yang menyebut kolesterol selalu buruk bagi kesehatan. Faktanya, tubuh membutuhkan sejumlah kolesterol untuk menjalankan beberapa fungsi penting, seperti memproduksi berbagai hormon dan vitamin D, menjaga keutuhan dinding sel, serta membantu pencernaan. Kolesterol juga berperan dalam membentuk daya ingat.

Namun memang, kadarnya yang berlebihan akan meningkatkan risiko Anda mengalami penyakit jantung dan pembuluh darah.

1 dari 8 halaman

Sumber utama kolesterol berasal dari makanan

Ilustrasi makanan mengandung kolesterol. ©Shutterstock.com

Faktanya, kolesterol berasal dari dalam dan luar tubuh. Sekitar 70% kolesterol dibentuk oleh tubuh sendiri. Barulah 30% sisanya berasal dari makanan. Jadi, orang yang kurang makan sumber kolesterol tetap dapat mengalami kolesterol tinggi.

Sebaliknya, ada pula orang yang tidak mengalami peningkatan kadar kolesterol, meski mengonsumsi makanan kaya kolesterol setiap hari.

2 dari 8 halaman

Telur tinggi kolesterol dan perlu dihindari

Ilustrasi telur goreng. Shutterstock/Mariia Masich

Salah. Telur merupakan salah satu makanan tersehat. Si lonjong berkulit cokelat ini mengandung sejumlah vitamin, mineral, dan zat gizi lain yang penting untuk kesehatan mata maupun otak. Satu telur utuh mengandung 186 mg kolesterol, yang dapat ditemukan pada bagian kuningnya.

Berbagai studi telah membuktikan bahwa konsumsi telur tidak meningkatkan kadar kolesterol secara signifikan, khususnya kolesterol jahat (LDL). Sebagai informasi, kebutuhan kolesterol orang dewasa ialah 300 mg per hari. Dengan demikian, konsumsi satu butir telur utuh sehari sudah dapat memenuhi 62% kebutuhan kolesterol harian.

Para pakar dari Universitas Yale, Amerika Serikat, bahkan menyatakan bahwa mereka yang memiliki penyakit jantung koroner tetap dapat mengonsumsi 2 butir telur utuh per hari selama 6 minggu tanpa mengalami peningkatan kadar kolesterol.

3 dari 8 halaman

Lemak paling jahat adalah lemak jenuh

Ilustrasi makanan mengandung lemak ©Shutterstock.com

Kolesterol yang berasal dari makanan bisa didapat dari sumber lemak jenuh seperti daging merah, susu full cream, keju, dan es krim. Namun, berbagai studi menemukan bahwa konsumsi lemak jenuh tidak terlalu meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL), yang dianggap buruk bagi kesehatan. Efek yang ditemukan lemah, tidak konsisten, serta sangat tergantung pada individu. Selain LDL, konsumsi lemak jenuh juga meningkatkan kadar kolesterol baik (HDL), yang bermanfaat bagi kesehatan jantung.

Hasil sebuah metaanalisis terkini dari 21 studi menunjukkan, hingga kini belum ada bukti yang cukup untuk menyimpulkan bahwa konsumsi lemak jenuh meningkatkan risiko penyakit jantung. Meski demikian, konsumsinya tetap perlu dibatasi, yakni di bawah 10% kebutuhan kalori harian.

Lain halnya dengan lemak trans. Lemak ini merupakan lemak tak jenuh yang telah mengalami perubahan bentuk, yakni dari cair menjadi padat. Pada kemasan produk, lemak ini tertulis sebagai lemak terhidrogenasi parsial.

Nah, lemak inilah yang paling berdampak buruk bagi kesehatan, sebab konsumsinya berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit jantung, diabetes, kanker, dan stroke. Lemak jenis ini umumnya ditemui pada margarin, makanan kemasan, makanan siap saji, dan kue-kue kering.

4 dari 8 halaman

Makanan bebas kolesterol artinya sehat

Ilustrasi kolesterol. ©shutterstock.com/Robert Pernell

Tidak selalu. Banyak produk makanan yang diklaim rendah kolesterol atau bebas kolesterol namun memiliki kadar lemak jenuh dan/ atau lemak trans yang tinggi. Kadang-kadang, produk yang diklaim rendah lemak pun masih mengandung kadar lemak yang tinggi.

Oleh sebab itu, selalu perhatikan dengan saksama seberapa besar kandungan lemak jenuh, lemak trans, dan total kalori dalam satu porsi sajian. Periksa pula takaran saji produk untuk satu porsi sajian.

5 dari 8 halaman

Makanan terbaik adalah yang rendah lemak

Ilustrasi kolesterol. ©2015 Merdeka.com/shutterstock/alexskopje

Tidak juga. Anggapan bahwa makanan rendah lemak lebih sehat membuat produsen makanan kerap menghilangkan atau mengurangi kandungan lemak dari produknya. Yang menjadi masalah, kelezatan makanan jelas berkurang tanpa adanya lemak.

Untuk menyiasatinya, produsen makanan menambahkan sejumlah gula guna mengompensasi lemak yang hilang. Karena itu, bila Anda perhatikan, sebagian besar produk rendah lemak umumnya tinggi gula. Hal ini tentunya lebih berbahaya bagi kesehatan.

6 dari 8 halaman

Orang kurus tidak memiliki kolesterol tinggi

Ilustrasi wanita langsing. Shutterstock/Gelpi JM

Fakta menyebutkan, semua individu baik yang gemuk maupun kurus dapat mengalami kolesterol tinggi. Namun, individu yang kurus umumnya lebih kurang waspada tentang tubuhnya, serta cenderung kurang memperhatikan seberapa banyak sumber kolesterol yang dikonsumsi.

Pada dasarnya, tidak ada seorang pun yang dapat mengonsumsi apa pun yang mereka inginkan namun tetap sehat. Karenanya, periksakan kadar kolesterol Anda secara teratur, terlepas dari berat badan, pola makan dan aktivitas fisik Anda.

7 dari 8 halaman

Kolesterol tinggi hanya menyerang orang dewasa

Ilustrasi dokter. ©2012 Merdeka.com

Kondisi kolesterol tinggi dapat diturunkan, dan karenanya dapat dialami oleh anak. Kelainan yang disebut dengan familial hiperkolesterolemia ini cenderung tidak terdeteksi sedari dini, sehingga anak-anak yang mengalaminya sangat berisiko terkena penyakit jantung dan stroke di usia muda. Oleh sebab itu, kadar kolesterol perlu diperiksa pada mereka yang:

1. Memiliki orangtua, kakek atau nenek dengan bukti penyumbatan pembuluh koroner jantung, pembuluh kaki atau mengalami stroke, menjalani prosedur pembuluh koroner seperti operasi bypass atau pemasangan stent dengan kateterisasi jantung, atau mengalami serangan jantung atau kematian jantung mendadak sebelum usia 55 tahun.

2. Memiliki orangtua dengan riwayat kadar kolesterol total 240 mg/dL atau lebih.

8 dari 8 halaman

Kolesterol tinggi disertai gelaja-gejala tertentu

Pegal leher. Shutterstock

Nyeri tengkuk, nyeri dada, atau pegal-pegal kerap dianggap sebagai gejala dari kolesterol tinggi. Padahal, peningkatan kadar kolesterol tidak menimbulkan gejala apa pun. Jikapun timbul gejala, itu merupakan gejala penyakit yang menyertai kondisi kolesterol tinggi, seperti diabetes mellitus atau hipertensi. Untuk mengetahui kadar kolesterol dengan pasti, Anda perlu melakukan pemeriksaan darah di laboratorium.

Itulah mitos-mitos seputar kolesterol yang tak perlu Anda percaya. Jangan “menelan” bulat--bulat berbagai informasi yang beredar sebelum mengetahui fakta yang sebenarnya. Alih-alih sehat, Anda malah rugi loh nantinya.  [ita]

Baca juga:
Cegah kolesterol tinggi pada anak sedini mungkin
Turunkan kolesterol jahat dengan rajin makan bawang putih
Rajin berdiri, cara alami turunkan kadar gula darah dan kolesterol sekaligus
Ini dia 4 dampak buruk dari naiknya kolesterol pada kesehatan tubuhmu

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini