Memahami Pentingnya Vaksin dan Pencegahan KIPI dalam Proses Vaksinasi

Rabu, 18 November 2020 16:46 Reporter : Harwanto Bimo Pratomo
Memahami Pentingnya Vaksin dan Pencegahan KIPI dalam Proses Vaksinasi Direktur RSSA Malang dan Ketua Tim Tracing gugus tugas COVID-19 Jatim Kohar Hari Santoso. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Vaksin menjadi solusi kunci menghadapi penyakit infeksi untuk menghindari terjadinya epidemi hingga pandemi. Beragamnya virus yang ada, harus disesuaikan dengan vaksin yang tepat, seperti campak dan rubella yang menggunakan vaksin MR.

Namun beragamnya kultur dan keyakinan, sering menjadi tantangan para tenaga kesehatan dalam melakukan vaksinasi. Seperti yang terjadi di Jawa Timur dahulu, sebelum berhasil memberikan vaksin MR kepada masyarakat.

"Kadang kala, kita tidak bisa edukasi langsung ke masyarakat, tapi dengan pendekatan kultural. Jadi kita merapat kepada tokoh masyarakat, tokoh agama, para pimpinan wilayah, kemungkinan berikan pemahaman dulu pada tokoh-tokoh tersebut. Kemudian mereka akan berikan sosialisasi, pemahaman ke masyarakat," ungkap Direktur RSSA Malang dan Ketua Tim Tracing gugus tugas COVID-19 Jatim, Kohar Hari Santoso, dalam dialog produktif dengan tema 'Belajar dari Sukses Vaksin MR di Jawa Timur dan Peran Media dalam Vaksinasi' di Media Center Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), ditulis Rabu (18/11).

Tak hanya berhenti pada edukasi vaksin, namun masyarakat juga harus mendapatkan penjelasan yang cukup mengenai KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi), yang bisa terjadi. "Kita sudah siapkan tim, ahli-ahlinya, para dokter untuk antisipasi kalau ada efek samping, kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI). Itu kita sudah siapkan," ujarnya.

KIPI sendiri bukanlah hal yang menakutkan, karena biasanya bersifat ringan. Namun, pencegahan untuk mengurangi resiko kejadian ikutan ini tetap harus dilakukan.

"Sebelum disuntikkan (vaksin), yang bersangkutan harus kita periksa dulu, apakah kondisinya cukup fit, cukup sehat. Sehingga kalau kita suntikkan vaksin, bisa tumbuh daya tahannya, atau kekebalannya, atau antibodinya," tegas Kohar.

"Kalau dia kondisi sakit, padahalkan kita masukkan penyakit yang sudah kita lemahkan, itu malah bisa menjadi kejadian ikutan (KIPI). Tapi kejadian ikutan yang paling sering terjadi adalah reaksi panas dan pada umumnya bisa diatasi dengan diberikan obat," tambahnya.

Adanya anggapan bahwa biaya vaksin mahal juga keliru. "Saya setuju bahwa biayanya (vaksin) tidak sedikit. Tapi mahal itu kan menjadi relatif, dibandingkan dengan nanti kejadian benar, kalau sampai sakit, atau cacat, itu bebannya lebih tinggi, lebih mahal lagi biayanya. Berhitungnya lebih sulit lagi," jelasnya.

Masyarakat harus sadar bahwasanya mencegah jauh lebih baik daripada mengobati. Tak hanya terhindar dari rasa sakit, namun juga lebih murah dari segi biaya. [bim]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini