Masalah Disfungsi Ereksi Kemungkinan Bawaan dari Gen Seseorang

Jumat, 7 Desember 2018 14:09 Reporter : Rizky Wahyu Permana
Masalah Disfungsi Ereksi Kemungkinan Bawaan dari Gen Seseorang Penyelundupan sabu lewat sepatu. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Sebuah varian genetis tertentu telah ditemukan ahli sebagai penyebab dari disfungsi ereksi pria. Penemuan ini dapat menjadi jalan dari penyembuhan berbasis getenis pada pasien.

Impotensi merupakan sebuah masalah yang umum terjadi pada pria dan lazim terus meningkat seiring usia. Mengetahui penyebab utama dari disfungsi ereksi juga cukup pelik karena masih belum jelasnya kriteria mengenai hal tersebut dan sedikitnya laporan.

Kondisi ini sendiri didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk menghasilkan serta mempertahankan ereksi selama berhubungan seksual. Kendati hal ini normal untuk dialami kini dan nanti, disfungsi ereksi ditampakkan dengan kehadirannya yang rutin dan berakibat pada kehidupan seks seseorang, hubungan, dan citra dirinya.

Tim peneliti mengidentifikasi seseuatu yang diketahui sebagai "T-risk allele" ketika memeriksa informasi genetik. Alele dapat diterangkan sebagai bentuk variasi dari sebuah gen yang pada hal ini merupakan sebuah variasi yang dekat dengan gen SIM1.

Eric Jorgensen, peneliti utama dari temuan ini menyebutnya sebagai sebuah 'penemuan yang menarik' yang dapat berujung pada terapi baru yang menargetkan genetik.

"Mengidentifikasi SIM1 sebagai faktor risiko dari disfungsi ereksi merupakan sebuah hal besar karena ini membutuhkan pembuktian yang panjang bahwa terdapat komponen genetik pada penyakit," jelas Jorgensen.

Pria yang memiliki varian gen ini memiliki risiko lebih tinggi 26 persen mengalami disfungsi ereksi. Pria yang memiliki dua varian ini kemungkinan risiko meningkat hingga 59 persen, bahkan setelah memperhitungkan faktor lain.

"Kami mengetahui bahwa terdapat faktor risiko lain tentang disfungsi ereksi, termasuk merokok, obesitas, diabetes, dan penyakit cardiovaskular," terang Jorgensen.

"Yang paling menonjol mengenai bagia dari gnome manusia yang diidentifikasi adalah karena itu bertikndak secara independen dari faktor risiko yang telah diketahui. Lokasi genetik ini muncul secara spesifik pada fungsi sosial," sambungnya.

Hampir separuh dari seluruh pasien yang didiagnosis disfungsi ereksi mengaku tidak membaik setelah menjalani perawatan yang ada sekarang. Jika sumber dari masalah ini dipercaya karena tekanan psikologis, dokter akan menyarankan pertemuan dengan terapis.

Pada kasus lain, pasian mungkin diberikan obat atau bahhkan diberikan pilihan untuk dioperasi. Penanganan ini dapat menimbulkan efek samping seperti pusing, nyeri otot, dan infeksi.

Salah satu cara yang dipilih oleh para ahli agar terhindar dari disfungsi ereksi ini adalah dengan melakukan gaya hidup sehat. Berolahraga secara teratur, menjaga berat badan, menghindari rokok dan obat-obatan merupakan cara yang direkomendasikan untuk mencegah Disfungsi Ereksi. [RWP]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini