Kolonoskopi turunkan risiko kematian kanker usus besar
Merdeka.com - Jutaan orang di dunia telah melakukan kolonoskopi dan percaya bahwa prosedur tersebut mampu menjauhkan mereka dari kanker usus besar. Pada akhirnya, penelitian pun di lakukan di beberapa negara di Eropa dan Amerika. Para ilmuwan kemudian berhasil membuktikan bahwa kolonoskopi memang mampu menurunkan risiko kematian dari kanker usus besar.
Beberapa orang sayangnya sering melewatkan tes kolonoskopi karena rasa sakit yang dialami selama prosesnya.
"Benar, rasanya memang sakit. Orang-orang selalu mengeluh demikian sepanjang waktu. Sakit, benar-benar sakit dan tidak nyaman," tutur Dr. Sidney Winawer, salah seorang peneliti dari Memorial Sloan-Kettering Cancer Center di New York, seperti yang dikutip dari ABC News.
Kanker usus besar merupakan penyakit pembunuh ke-4 di dunia. Namun dengan adanya proses kolonoskopi yang dijalani oleh para pasien, jumlah penderita yang meninggal dapat ditekan karena beberapa jaringan kanker telah berhasil diangkat sebelum menyebar ke bagian tubuh yang lain.
Pemerintah Amerika telah merekomendasikan warganya untuk menjalani 3 buah pemeriksaan dalam kanker usus besar. Pertama, tes darah setiap tahun, sigmoidoskopi tiap lima tahun sekali dan tes tinja atau bisa juga kolonoskopi setiap sepuluh tahun sekali. Dari ketiga jenis pemeriksaan tersebut, kolonoskopi paling banyak berperan dalam menurunkan risiko kematian penderita kanker usus besar.
Kolonoskopi adalah suatu prosedur kesehatan yang dilakukan dokter dengan memasukkan suatu tabung panjang penglihat yang lentur ke dalam rektum dan memeriksa bagian dalam usus besar. Kolonoskopi memang dianggap lebih akurat daripada barium enema x-rays, terutama dalam mendeteksi polip-polip kecil, baik yang jinak maupun yang bersifat kanker.
Kolonoskopi telah berperan menurunkan risiko kematian dan mencegah perkembangan kanker usus besar pada pasien. Namun belum diketahui apakah penderita kanker usus besar stadium lanjut masih tetap bisa tertolong jiwanya jika menjalani kolonoskopi. Para peneliti dari Sloan-Kettering pun menegaskan bahwa perlu diadakan penelitian yang lebih lanjut mengenai masalah tersebut. (mdk/riz)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya