Ketahui Penyebab Munculnya Masalah Penyempitan Saluran Kemih Bagian Bawah pada Pria

Senin, 27 Desember 2021 16:00 Reporter : Rizky Wahyu Permana
Ketahui Penyebab Munculnya Masalah Penyempitan Saluran Kemih Bagian Bawah pada Pria Ilustrasi kencing. © Thevarsity.ca

Merdeka.com - Permasalahan dalam buang air kecil bisa dialami pria karena sejumlah akibat. Hal ini termasuk akibat terjadinya penyempitan saluran kemih bagian bawah.

Penyempitan saluran kemih bagian bawah atau striktur uretra biasanya ditemukan pada pria akibat berbagai macam keadaan dan kondisi. Umumnya, jaringan parut dapat terbentuk di bagian dalam saluran kemih bagian bawah atau uretra sehingga mempersempit saluran tersebut.

Dilansir dari Antara, sejummlah penyebab penyempitan saluran kemih bagian bawah antara lain prosedur medis yang melibatkan memasukkan alat (sistoskopi) ke dalam uretra, penggunaan kateter intermiten atau jangka panjang yang dimasukkan melalui uretra untuk mengalirkan urin dari kandung kemih.

Penyebab lainnya yakni trauma atau cedera pada uretra atau panggul, pembesaran prostat atau operasi sebelumnya untuk mengangkat atau mengurangi pembesaran kelenjar prostat, kanker uretra atau prostat, infeksi seksual menular dan terapi radiasi.

Terdapat sejumlah kondisi yang bisa dialami oleh pasien akibat masalah infeksi saluran kemih ini. Kondisi ini bervariasi, mulai dari aliran urin berkurang, pengosongan kandung kemih yang tidak maksimal, aliran urin bercabang, mengejan atau sakit saat buang air kecil, meningkatnya keinginan untuk buang air kecil atau lebih sering buang air kecil dan adanya infeksi saluran kemih.

2 dari 2 halaman

Cara Mengatasinya

Masalah kesehatan ini bisa diatasi dengan terapi minimal invasif berupa meneropong saluran kemih dan memperlebar saluran yang dinilai sempit sehingga aliran urin lebih lancar. Tindakan ini biasanya dilakukan pada penyakit struktur uretra pada temuan pertama, penyempitan yang pendek atau kurang dari 1 cm dan jaringan parut yang minimal.

Pada sisi lain, terapi operasi terbuka (uretroplasti) dapat dilakukan pada kasus-kasus dengan riwayat trauma dan striktur uretra yang lebih kompleks yakni di atas 1 cm dan jaringan parut yang luas. Tindakan ini dilakukan dengan memotong saluran kemih yang menyempit dan menyambungkan kembali kedua tepi uretra yang sehat.

Dokter spesialis urologi dari Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), dr. Gampo Alam SpU(K) menyampaikan kedua tindakan ini dapat dilakukan sesuai dengan indikasi tiap-tiap pasien agar mendapatkan hasil yang terbaik dan kekambuhan yang minimal.

“Baik operasi minimal invasif atau terbuka sudah rutin dilakukan di RSUI dengan hasil yang memuaskan, operasi yang dilakukan dengan menggunakan teknik terkini dengan peralatan terbaik agar dapat memberikan manfaat dan hasil yang maksimal untuk pasien” ujar dia.

Menurut dokter spesialis urologi RSUI, dr. Dyandra Parikesit, BMedSc, SpU, penyembuhan pasca operasi ini tidak memerlukan waktu yang lama. Operasi dilakukan sekitar 1-3 jam. Setelahnya, pasien akan dipasang kateter pasca operasi, lalu dirawat jalan setelah 1 hari pasca operasi minimal invasif dan 2-3 hari setelah operasi terbuka.

"Meski proses penyembuhan tidak memerlukan waktu yang lama, pasien perlu menghindari kegiatan berat selama 30 hari,” terangnya. [RWP]

Baca juga:
Kanker Payudara Bisa Dialami Juga Oleh Pria, Kenali Gejalanya
Penelitian Buktikan Bahwa Pria Ternyata Lebih Emosional ketika Patah Hati
Mengapa Perut yang Mulas ketika Kejantanan Terbentur?
Jarang Mandi dan Ganti Celana Dalam saat di Rumah Saja, Ini Bahaya yang Mengintai
Bukan Hanya pada Wanita, Pria Juga Bisa Alami Kesakitan saat Bercinta, Ini 8 Penyebab

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini