Gambaran Citra Tubuh Ideal Berotot pada Pria bisa Bikin Stres

Selasa, 11 Desember 2018 16:10 Reporter : Rizky Wahyu Permana
Gambaran Citra Tubuh Ideal Berotot pada Pria bisa Bikin Stres Tubuh Cristiano Ronaldo. ©jumpropedudes.com

Merdeka.com - Standard kecantikan atau ketampanan seseorang terus berubah seiring waktu dan trend yang beredar. Standar penampilan yang kerap berubah ini ternyata tak hanya berpengaruh besar pada wanita saja namun juga pada pria.

Terkait perubahan pada citra diri dan gambaran trend ini, pria saat ini digambarkan lebih kekar dibanding pada masa lalu.

"Jika dilihat perubahan yang dialami oleh pria pada Hollywood, kartun, majalah, dan mainan selama 30 hingga 45 tahun ini berubah. Tubuh pria saat ini terlihat ditampilkan lebih kekar," ujar dr. Harrison pope dari Universitas McLean, Massachusetts.

Untuk mengetahui kepedulian pria dengan usia muda terhadap citra diri, peneliti melakukan riset pada 2.500 pria Amerika dengan rentang usia 18 hingga 25 tahun. Penelitian terbaru ini dilakukan oleh Harvard University dan Norwegian University of Science and Technology (NTNU).

Banyak partisipan yang merasa mendapat tuntutan untuk tampil lebih kekar, dengan beberapa pria mulai mempertimbangkan pilihan seperti menggunakan steroid. Pesepakbola Cristiano Ronaldo dianggap sebagai gambaran ideal tubuh pria yang harus diwujudkan.

Bahu yang lebar dengan otot yang besar merupakan dua hal dasar yang dianggap harus dimiliki untuk mewujudkan tubuh pria yang sempurna. Pada penelitian terbaru, ketidakpuasan dengan tubuh tampak lebih banyak muncul pada partisipan dengan usia yang lebih muda.

"Kita sudah menyadari mengenai masalah makan pada gadis untuk waktu yang lama, dan sungguh sangat tak baik untuk tumbuh dengan panutan yang bertubuh sangat kurus," jelas Trine Tetlie Eik-Nes, peneliti dan profesor NTNU.

Masalahnya, saat ini hal tersebut juga mulai dialami oleh para pria sama seperti wanita.

"Anak laki-laki tidak berkeinginan untuk kurus. Mereka ingin memiliki otot yang besar. Jadi pertanyaan yang diberikan pada gadis tidak bisa diterapkan pada anak laki-laku untuk mengetahui cara mereka melihat tubuh sendiri," ujarnya.

Penelitian juga menemukan bahwa pria biseksual dan gay memiliki dorongan lebih besar untuk membesarkan otot dibanding pria heteroseksual. Namun faktor lain seperti tingkat pendidikan disebut tidak berpengaruh dalam menentukan ketidakpuasan terhadap citra diri.

Pria yang memiliki obsesi untuk membesarkan otot cenderung mengalami risiko depresi lebih tinggi, kebiasaan minum-minum, dan diet yang tak berhubungan dengan obesitas. Mereka juga cenderung lebih mudah dalam menggunakan suplemen baik legal maupun ilegal.

Cara paling baik dan direkomendasikan untuk memecahkan hal ini adalah berupa komunikasi antara orang tua dan anak untuk membahas masalah ini. Selain itu penting diperhatikan kendati olahraga itu menyehatkan, namun harus diperhatikan jika seorang pria sudah terlalu mati-matian dan cenderung mencederai diri sendiri ketika ingin menghasilkan otot yang besar.

"Orang tua juga harus sadar bahwa sudah pada tingkat berbahaya jika anak remaja mereka yang pergi ke gym setiap hari hanya mau makan ayam dan brokoli serta mengonsumsi protein shakes atau suplemen sepanjang waktu," saran Eik-Nes. [RWP]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini