Deteksi Dini Bisa Turunkan Angka Morbiditas dan Mortalitas Akibat Hipertensi

Selasa, 9 Maret 2021 09:00 Reporter : Rizky Wahyu Permana
Deteksi Dini Bisa Turunkan Angka Morbiditas dan Mortalitas Akibat Hipertensi Ilustrasi Hipertensi. ©CC0 Public Domain

Merdeka.com - Memburuknya kondisi infeksi COVID-19 yang dialami oleh seseorang bisa tak lepas dari penyakit bawaan yang dimiliki. Jenis penyakit ini bisa sangat menentukan seberapa parah seseorang mengalami kondisi ketika terinfeksi COVID-19.

Indonesian Society of Hypertension (InaSH) mengatakan bahwa hipertensi atau tekanan darah tinggi dapat memperburuk perjalanan COVID-19 sehingga diperlukan suatu kewaspadaan khusus tentang hal ini.

Sekretaris Jenderal InaSH, dr. Eka Harmeiwaty, SpS, mengatakan bahwa upaya deteksi dini dapat menurunkan angka kesakitan (morbiditas) dan angka kematian (mortalitas) akibat hipertensi.

“Untuk menurunkan angka morbiditas dan mortalitas akibat hipertensi perlu dilakukan deteksi dini pada kelompok usia dewasa yang berumur 18 tahun ke atas,” ujar Eka dalam keterangan pers.

Namun, tambahnya, kadang di lapangan terdapat kendala dalam menegakkan diagnosis pasti hipertensi karena dari hasil pengukuran ada kategori lain yaitu white coat hypertension (hipertensi jas putih) dan masked hypertension (hipertensi terselubung).

“Hipertensi jas putih sering ditemukan pada pasien hipertensi derajat 1 (tekanan darah diastolik 140-159 dan atau tekanan sistolik 90-99 mmHg) pada pemeriksaan di klinik, tapi pada pengukuran di rumah, tekanan darah normal.”

Pengobatan pada individu dengan jenis hipertensi jas putih tidak perlu dilakukan, katanya. Namun perlu pemantauan jangka panjang karena berisiko terjadi hipertensi di kemudian hari.

“Prevalensinya diperkirakan 2,2–50 persen dan sangat dipengaruhi oleh cara pengukuran di klinik,” lanjutnya.

2 dari 2 halaman

Hipertensi Terselubung

Sebaliknya, lanjut Eka, hipertensi terselubung menunjukkan tekanan darah normal saat diperiksa di klinik, tapi pengukuran di luar klinik hasilnya menunjukkan tekanan darah yang meningkat.

Dari berbagai studi, prevalensinya adalah 9-48 persen. Hipertensi terselubung ini mempunyai risiko tinggi kerusakan organ.

“Untuk mengetahui hipertensi jas putih dan hipertensi terselubung dibutuhkan pemeriksaan tekanan darah di rumah yang selanjutnya disingkat dengan PTDR,” terang Eka.

“Di tengah pandemi PTDR ini sangat bermanfaat , karena sebagian pasien enggan ke rumah sakit terutama pasien lanjut usia (lansia). Hasil PTDR bisa dikonsultasikan kepada dokter yang merawat secara online baik via media sosial atau telemedicine,” sambungnya,

PTDR ini disarankan pada pasien hipertensi terutama bagi pasien hipertensi dengan gangguan ginjal, diabetes, dan wanita hamil. Hal ini juga perlu dilakukan pada pasien dengan kepatuhan pengobatan yang buruk.

Reporter: Ade Nasihudin Al Ansori
Sumber: Liputan6.com [RWP]

Baca juga:
Sedang Ramai Dibahas, Menurut ahli Gizi Ini Bahaya Cara Diet ala Tya Ariestya
Olahraga Berlebih Bisa Berdampak Buruk bagi tubuh, Ketahui Apa yang Harus Dilakukan
Ketahui Sejumlah Hal yang Penting Diketahui Orangtua dalam Pemberian MPASI
Pasien Diabetes Lupa untuk Suntik Insulin sebelum Makan, Apa yang Harus Dilakukan?
Hemofilia yang Tidak Ditangani Bisa Berdampak Mematikan
Cedera saat Berolahraga, Sebaiknya Jangan Dipijat secara Sembarangan
Ketika Alami Burnout Atau Kelelahan Kronis, Psikolog Sarankan Lakukan Hal Ini

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini