Bisakah Diabetes Dicegah? Begini Kata Ahli

Selasa, 15 Desember 2020 11:23 Reporter : Iwan Tantomi
Bisakah Diabetes Dicegah? Begini Kata Ahli ©Merck Indonesia

Merdeka.com - Mendengar kata diabetes, mungkin yang akan langsung terpikir di benak sebagian besar orang adalah penyakit yang sulit disembuhkan, penyakit yang berkaitan dengan gula darah, penyakit yang bisa menurun dari orang tua dengan penderita diabetes mellitus, dan sebagainya.

Bukan tanpa alasan kenapa anggapan tersebut sampai terjadi. Berdasarkan data International Diebetes Federation (IDF), Indonesia menempati urutan ke-7 dari 10 negara dengan jumlah pasien diabetes tertingi di dunia.

Selain itu, dr. Laurentius Aswin Pramono, Sp. PD (Spesialis Penyakit Dalam) yang menjadi pembicara di Merck Life Festival dengan topik seputar diabetes, menjelaskan jika prevalensi pasien pengidap diabetes di Indonesia mencapai 6,2 persen. Ini artinya sebanyak 10.681.400 orang menderita diabetes per tahun 2020.

Hal ini belum ditambah bila seseorang secara keturunan memiki riwayat penderita diabetes, maka risiko mengidap penyakit ini menjadi semakin besar. Lantas, apakah diabetes bisa dicegah?

merck baru
©Merck Indonesia

dr Aswin menjelaskan jika diabetes bisa dicegah dengan beberapa langkah. Pertama lewat pengaturan pola makan. "Kita bisa menghitung takaran gizi seimbang saat makan menggunakan Plate Method. Jadi, dalam satu piring saja, isilah separuh piring dengan sayuran tak bertepung atau non-starchy vegetables, seperti selada, tomat, kacang hijau, wortel, brokoli, serta buah-buahan seperti apel, buah pir atau grapefruits. Isi seperempat bagian piring lainnya dengan sumber protein, seperti ayam, ikan laut, kalkun, tahu, telur dan kacang-kacangan, seperti tempat. Baru seperempat bagian piring sisanya diisi dengan karbohidrat kaya serat, seperti beras merah, roti gandum, atau quinoa," jelasnya.

Sementara menurut anjuran Terapi Nutrisi Medis oleh PERKENI pada 2019, yang terpenting prinsip pengaturan makanan untuk mencegah diabetes ini harus seimbang komposisinya, termasuk karbohidrat, lemak, protein, natrium (garam dapur), serat dan pemanis alternatif bila dibutuhkan. Bila perlu konsultasikan dengan dokter maupun ahli gizi untuk mengetahui kebutuhan kalori dan nutrisi masing-masing pasien.

"Usahakan juga agar selalu makan teratur. Dianjurkan makan 3 kali sehari, selingi camilan seperti buah," imbuh dr Aswin.

merck baru
©Merck Indonesia

Di samping menjaga pola makan, juga harus memperhatikan aktivitas fisik dalam hal ini olahraga. Menurut dr Aswin, lakukan aktivitas fisik dengan intensitas sedang seperti jogging, aerobik, sepeda santai, sepeda statis, berenang sebanyak 150 sampai 300 menit dalam seminggu.

"Program latihan fisik teratur dilakukan 3-5 hari dalam seminggu, atau sekitar 30-45 menit per hari. Perhatikan, jarak latihan tidak boleh melebihi dua hari. Fungsinya, untuk menjaga kebugaran tubuh, menurunkan berat badan, serta memperbaiki kendali gula darah dalam tubuh. Namun, ingat, pekerjaan rumah bukan termasuk olahraga, karena olahraga tetap ada gerakannya sendiri," ungkap dr Aswin.

Lebih lanjut, dr Aswin juga menjelaskan jika melalui pemeriksaan kadar gula dalam darah, kita dapat mengetahui kondisi kesehatan kita, apakah berpotensi mengidap diabetes atau tidak. Pemeriksaan gula darah ini bisa dilakukan secara mandiri menggunakan glucometer.

Selain itu, terdapat kondisi Pre-diabetes, yaitu kondisi ketika kadar gula dalam darah sudah melebihi batas normal, tetapi tidak setinggi pada penderita diabetes tipe 2. Kondisi ini dapat berkembang menjadi diabetes tipe 2 jika penderita tidak segera mengubah pola hidupnya menjadi lebih sehat.

merck baru
©Merck Indonesia

"8 dari 10 orang dewasa dengan pre-diabetes, bahkan tak menyadari jika dirinya mengalami pre-diabetes," ungkap dr Aswin. Menurutnya, saat pre-diabetes hasil tes gula darah sesorang sebelum makan pada 100-125 mg/dL, dan mencapai 140-199mg/dL setelah makan. Sementara pada pasien diabetes, hasil tes gula darah mencapai 126 mg/dL atau di atasnya sebelum makan, dan mencapai angka 200 mg/dL atau di atasnya setelah makan.

Selain itu, risiko seseorang menderita pre-diabetes akan semakin tinggi bila ia memiliki riwayat pre-diabetes atau diabetes dalam keluarga, memiliki berat badan berlebihan, berusia di atas 45 tahun, jarang beraktivitas fisik atau berolahraga, menderita diabetes saat kehamilan (diabetes gestasional) bagi perempuan, serta kebiasaan merokok.

dr Aswin juga menambahkan jika secara umum, pre-diabetes tak menunjukkan gejala tertentu, seperti diabetes tipe 2, yang ditunjukkan dengan gejala mudah lela, sering merasa haus dan lapar, sering buang air kecil, penglihatan kabur, hingga luka tak kunjung sembuh. Meski begitu, harus tetap waspada, dengan melakukan pemeriksaan gula darah secara berkala. Terlebih, pemeriksaan gula darah ini bisa dilakukan secara mandiri dengan glucometer di rumah.

merck baru
©Merck Indonesia

"Memeriksa gula darah menggunakan alat glucometer tak harus periksa darah vena, cukup kapliler saja, sudah bisa melihat gula darah normal atau tidak. Prinsipnya, kalau bangun tidur, pagi-pagi belum makan, angkanya 100 atau lebih itu sudah pre-diabetes, kalau pasca makan mencapai 198 itu sudah dalam fase pre-diebetes, jadi harus segera periksa ke dokter," jelas dr Aswin.

Pada akhirnya menurut dr Aswin, dokterlah yang akan menentukan apakah seseorang mengalami pre-diabetes, diabetes atau tidak. Serahkan pengobatan pada dokter, sementara untuk melakukan tindakan pencegahan agar pre-diabetes tak sampai menjadi diabetes, bisa menerapkan beberapa hal yang sudah dijelaskan sebelumnya. Seperti mengatur pola makan, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, rutin berolahraga, menjaga berat badan tetap ideal, memeriksa kadar gula darah secara rutin, serta berhenti merokok.

Sebagai informasi tambahan, Merck Life Festival merupakan sebuah festival sains dan kesehatan yang diadakan secara virtual oleh Merck Indonesia pada 12 Desember 2020. Selain menghadirkan dr. Laurentius Aswin Pramono, Sp. PD (Spesialis Penyakit Dalam), Merck Life Festival juga menghadirkan berbagai pembicara lain yang mengulas perubahan dan dinamika yang terjadi dalam ranah sains dan kesehatan, serta dampaknya terhadap berbagai aspek kehidupan manusia.

merck baru
©Merck Indonesia

Turut membuka acara Merck Life Festival, Menristek Indonesia Prof. Bambang P. S. Brodjonegoro, Ph.D. "Indonesia memiliki visi untuk keluar dari jebakan pendapatan kelas menengah di tahun 2035 dan menjadi negara maju di tahun 2045. Untuk mendorong terwujudnya ekosistem inovasi yang kondusif, dibutuhkan sinergi triple helix antara akademisi, pemerintah, dan industri, untuk mendorong inovasi yang diciptakan untuk dapat dihilirisasi masyarakat dan menjadi penggerak sendi-sendi perekonomian." [tmi]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Advertorial

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini