Bayi Menangis ketika Orangtua Menjauh, Kenali Terjadinya Separation Anxiety

Senin, 15 Agustus 2022 19:00 Reporter : Rizky Wahyu Permana
Bayi Menangis ketika Orangtua Menjauh, Kenali Terjadinya Separation Anxiety Ilustrasi bayi menangis. ©Shutterstock.com/06photo

Merdeka.com - Pernahkah kamu menyadari bahwa bayimu biasanya bakal menangis ketika kamu menjauh? Hal ini umum terjadi pada bayi dan balita terhadap orang terdekat mereka dan dikenal sebagai separation anxiety.

Dilansir dari Medical Daily, kecemasan ini umumnya dialami oleh bayi dan balita ketika orang tua mereka tidak berada di dekatnya. Pada usia ini hal itu disebut sebagai hal yang lumrah.

"Antara usia enam bulan hingga tiga tahun, beberapa rasa tak nyaman ketika kamu terpisah dari orang yang dicintai merupakan sesuatu yang alami. Hal ini juga menunjukkan emosi yang bagus dan keterkaitan sosial dari anak terhadap orang yang mengasuh mereka serta figur orang dewasa," jelas Judy Ho, psikologis klinis dan forensik dari California.

Pada beberapa anak, kecemasan ini tidak tampak berkurang bahkan ketika mereka semakin dewasa. Perpisahan pada periode singkat ini tak dapat dicegah dan mempengaruhi kehidupan sehari-hari serta kadar emosi menandai bahwa anak itu menderita kecemasan akan perpisahan.

Seringnya, anak yang mengalami hal ini tidak dapat beraktivitas secara nyaman di sekolah ketika mereka terpisah dengan orang yang dicintainya. Walaupun pada beberapa kasus hal ini dialami dengan orang tua, namun juga dapat terjadi pada figur pengasuh lain seperti nenek atau pengasuh mereka.

2 dari 2 halaman

Gejala Separation Anxiety

Dari bermacam gejala yang muncul, pasien umumnya melaporkan bahwa hal terjadi kecemasan secara berkepanjangan dan tak beralasan dari ketakutan ditinggalkan oleh orang yang mereka cintai. Sebagai contoh, anak ini mungkin selalu takut orang tua mereka meninggal karena kecelakaan atau diculik walaupun tak ada penyebab kuat bahwa hal itu bakal terjadi.

Masalah ini mungkin dapat semakin menguat dan bahkan memunculkan mimpi buruk serta gejala fisik seperti pusing, mual, sakit perut, serta insomnia. Walaupun kasus kecemasan akan perpisahan pada sebagian besar dialami anak kecil, namun tak menutup kemungkinan bahwa hal ini juga dapat terjadi pada remaja dan orang dewasa.

Pada orang dewasa, munculnya masalah kecemasan pada perpisahan ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor.

"Perubahan hidup yang signifikan seperti mulai berkuliah atau memiliki anak dapat memicu kecemasan akan perpisahan pada orang dewasa, terutama pada mereka yang memang menderita gangguan kecemasan," jelas Allison Forti dari Wake Forest University, North Carolina.

Jika pada anak-anak, masalah ini dapat berdampak pada bidang akademis, pada orang dewasa hal ini dapat menimbulkan masalah pada pekerjaan. Perilaku mereka juga dapat berpengaruh secara negatif pada figur yang mereka cintai.

Ketika telah menjadi orangtua, hal ini bisa membuat mereka berlebihan dalam memberikan perhatian pada anak dan menjadikannya stres. Ketika kamu mengenali tanda-tanda adanya masalah ini, sebaiknya segera berkonsultasi dengan psikolog untuk menanganinya. [RWP]

Baca juga:
ASI Merupakan Imunisasi Pertama bagi Bayi
Anemia Bisa Jadi Penyebab Tidak Bertambahnya Berat Badan Bayi
Mengapa Bayi di Bawah 1 Tahun Belum Bisa Mengonsumsi Susu Sapi?
Ibu Disarankan Tidak langsung Menyusui Anak ketika Dia Menangis
Kenali Penyebab Terjadinya Gigi Gigis pada Anak-anak

Baca juga:
ASI Merupakan Imunisasi Pertama bagi Bayi
Anemia Bisa Jadi Penyebab Tidak Bertambahnya Berat Badan Bayi
Mengapa Bayi di Bawah 1 Tahun Belum Bisa Mengonsumsi Susu Sapi?
Ibu Disarankan Tidak langsung Menyusui Anak ketika Dia Menangis
Kenali Penyebab Terjadinya Gigi Gigis pada Anak-anak

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini