Anak Mulai Belajar Berpuasa, Konsumsi 3 Jenis Makanan Sahur Ini

Selasa, 20 April 2021 16:00 Reporter : Rizky Wahyu Permana
Anak Mulai Belajar Berpuasa, Konsumsi 3 Jenis Makanan Sahur Ini ilustrasi puasa. ©blogspot.com

Merdeka.com - Ketika anak baru belajar berpuasa, tentu terdapat sejumlah halangan yang mungkin muncul. Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk menyiapkan makanan yang tepat untuk sahur dan buka anak.

Prof Dr dr Aryono Hendarto SpA(K) MPH mengingatkan pentingnya anak untuk mengonsumsi sedikitnya tiga dari empat kelompok makanan berikut ini saat sahur selama Ramadan:

1. Roti dan sereal gandum

2. Daging dan kacang-kacangan

3. Buah dan sayuran

4. Susu dan produk olahan susu lainnya.

Tetapi konsumsi makanan tersebut tetap harus menerapkan diet seimbang dan memerhatikan kandungan nutrisi yang cukup untuk tubuh anak.

Selain konsumsi makanan anak ketika sahur, kebutuhan cairan anak juga perlu dipantau. Sebab, anak-anak sangat mudah terserang dehidrasi, dilihat dari banyaknya aktivitas fisik yang mereka lakukan. Sehingga, orangtua harus mengusahakan agar kebutuhan cairan si Kecil terpenuhi mulai dari waktu berbuka puasa hingga akhir waktu sahur.

Aryono juga menyarankan untuk memberikan anak makanan yang kaya akan kandungan cairan seperti tomat, timun, seledri, bayam, semangka, dan sebagainya. Serta menjaga anak untuk tidak mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung kafein dan soda.

2 dari 2 halaman

Lakukan Pengenalan Puasa, Orangtua Tetap Perhatikan Kesehatan Anak

Sebagai orangtua, hendaknya memerhatikan kesehatan anak yang baru pertama kali ikut berpuasa.

“Misalnya saja anak dengan riwayat penyakit kronis tentu, pastinya pengenalan puasa dilakukan dengan cara yang berbeda. Begitu pula pada anak yang sensitif terhadap penyakit,” ujar Aryono dalam Seminar Awam dan Media ‘Tips Sehat Puasa ala Guru Besar FKUI’ beberapa waktu lalu.

Orangtua juga sebaiknya mengenali tingkat aktivitas fisik sang anak. Masa kanak-kanak memang berkaitan erat dengan aktivitas fisik yang tinggi, tapi antara anak yang satu dengan yang lain memiliki tingkat aktivitas fisik yang berdeda, bahkan pada saudara kandung sekalipun.

Saat mengajarkan anak berpuasa, ajarkan anak untuk mengurangi aktivitas fisik selama puasa. Jangan sampai anak melakukan aktivitas fisik seperti hari biasa ketika tidak berpuasa. Jika tidak, maka aktivitas fisik yang berlebih dapat mengonsumsi energi anak lebih besar.

Selain mengajarkan anak untuk mengurangi aktivitas fisik, ajarkan pula anak untuk menoleransi rasa lapar. Tujuannya, agar frekuensi makan anak dapat terkendali selama berpuasa.

Dokter Aryono menyarankan orangtua yang baru pertama kali mengajarkan anaknya berpuasa untuk jangan memaksakan anak. Kenalkan puasa kepada anak secara perlahan.

Misalnya, puasa pada tiga jam pertama setelah sahur, kemudian hari berikutnya bertambah menjadi empat jam pertama setelah sahur, begitu seterusnya sampai pada puasa berhenti setelah pukul 12.00. Setelah anak sudah terbiasa dan mampu beradaptasi, barulah anak dapat diajarkan untuk melakukan puasa penuh hingga waktu berbuka.

Pada saat tiba waktunya untuk berbuka puasa, pastikan untuk memperhatikan jumlah makanan dan minuman yang dikonsumsi anak. Selain itu, jangan paksa anak makan terlalu banyak karena justru bisa memicu gangguan pencernaan.

Reporter: Rissa Sugiarti
Sumber: Liputan6.com [RWP]

Baca juga:
Mulai Biasakan Anak Berpuasa, Ini Tips yang Diberikan oleh Psikolog
Waspada! Gangguan Pendengaran pada Anak Bisa Hambat Perkembangan Bicara
Tak Konsumsi Susu Sapi Rentan Buat Anak Kekurangan Zat Besi, Begini Cara Mengatasinya
Dalam Mengatasi Masalah Stunting, Keterlibatan Anak Juga Diperlukan
Pelaku Ditahan Tak Berarti Kasus Usai, Korban Perdagangan Anak Trauma Seumur Hidup

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini