2 Alasan Mengapa Bakteri Difteri Perlu Sangat Diwaspadai

Jumat, 25 Oktober 2019 11:26 Reporter : Rizky Wahyu Permana
2 Alasan Mengapa Bakteri Difteri Perlu Sangat Diwaspadai Ilustrasi mulut. Shutterstock/Robert Kneschke

Merdeka.com - Beberapa waktu belakangan persebaran difteri terjadi dengan cukup masif di Kota Malang. Sebagai dampaknya, bahkan satu sekolah yaitu MIN 1 Kota Malang hingga diliburkan untuk mencegah penyebaran dari penyakit ini.

Difteri sendiri merupakan sebuah penyakit infeksi akut yang bisa sangat berbahaya terutama pada anak-anak. Penyakit ini bisa sangat mengancam nyawa jika tidak segera ditangani.

Difteri biasanya terjadi pada tenggorokan, hidung, terkadang pada kulit dan telinga. Ketika tidak segera ditangani, penyakit ini bisa menyebabkan sejumlah komplikasi.

Difteri merupakan penyakit yang sangat menular dan bisa berakibat fatal, seperti disampaikan anggota Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. DR. dr. Sri Rezeki Hadinegoro, SpA(K).

Sri menjelaskan ada dua hal yang membuat difteri bisa menyebabkan kematian pada anak, yakni:

1 dari 2 halaman

Difteri Menyebabkan Tersumbatnya Jalan Napas

Kuman penyebab difteri selain ada di hidung juga di tenggorokan. Ditandai dengan kehadiran selaput putih di tenggorokan. Kondisi tersebut yang membuat seoerang anak jalan napasnya terganggu.

"Kalau sudah menutupi (jalan napas), kan oksigennya jadi kurang. Seseorang kalau oksigen kurang yang meninggal dong kalau tidak cepat-cepat ditolong," kata Sri saat dihubungi Health-Liputan6.com.

Itu sebabnya jika seorang anak terkena difteri harus segera mendapatkan pertolongan medis. Salah satu bentuk pertolongan adalah dengan membuat lubang di tenggorokan agar anak bisa bernapas.

"Selaput putih (akibat kuman penyebab difteri) itu enggak bisa hilang dengan pengobatan satu atau dua hari. Kami obati dulu mungkin selama lima hari lama-lama selaputnya hilang," katanya.

2 dari 2 halaman

Kuman Difteri Mengeluarkan Racun

Kuman penyebab difteri yakni Corynebacterium diphtheriae itu mengeluarkan racun yang masuk ke dalam aliran darah.

Bila anak terserang difteri hingga dua minggu, racun tersebut bisa merusak aliran listrik yang membuat jantung bisa berdenyut. Hal ini membuat denyut jantung bisa berhenti.

"Mula-mula denyut jantungnya enggak karuan, lama-lama tidak berdenyut (meninggal)," jelas wanita yang juga Staf Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI ini.

Reporter: Benedikta Desideria
Sumber: Bola.net [RWP]

Baca juga:
Menurut Dokter, Sedia Air Putih untuk Cegah Dehidrasi saat Cuaca Panas
Ini Penyebab Mengapa Kita Merasa Ingin Buang Air Besar Saat Berolahraga
Ini Alasan Mengapa Kamu Kalap Makan Terlalu Banyak pada Malam Hari
Hindari Penggunaan Tas di Satu Sisi Bahu Karena Risiko Kesehatan Jangka Panjang

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini