Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Profil

Sartono Kartodirdjo

Profil Sartono Kartodirdjo | Merdeka.com

Prof. Dr. A. Sartono Kartodirdjo adalah sejarawan Indonesia sekaligus pelopor dalam penulisan sejarah dengan pendekatan multidimensi. Sebelum menjadi guru, pria yang akrab disapa Sartono ini menyelesaikan pendidikan di HIS, MULO, dan HIK. Saat bersekolah di HIK (sekolah calon bruder), pria kelahiran Wonogiri, 15 Februari 1912 ini dilatih kepekaan batin dan ketajaman intuisinya yang menuntunnya menjadi sosok ilmuwan yang asketis.

Saat usianya menginjak 44 tahun, Sartono menyelesaikan pendidikan sarjana di Fakultas Sastra Universitas Indonesia di sela-sela kegiatan mengajar di salah satu sekolah yang ada di Jakarta. Lalu melanjutkan pendidikan master degree di Universitas Yale, Amerika Serikat setelah sebelumnya mengajar di Universitas Gajah Mada Jogjakarta dan IKIP Bandung. Ia lulus pada tahun 1964 disusul melanjutkan pendidikan doktoralnya dua tahun kemudian.

Pada tahun 1968, Sartono dikukuhkan sebagai guru besar Universitas Gajah Mada Jogjakarta. Dalam disertasi (The Peasants’ Revolt of Banten in 1888, It’s Conditions, Course and Sequel: A Case Study of Sosial Movements in Indonesia) yang ia buat untuk meraih gelar doktoralnya dinilai banyak orang sebagai jembatan perkembangan ilmu sejarah di Indonesia. Ia menganggap bahwa disertasinya merupakan bentuk protes terhadap penulisan sejarah Indonesia yang konvensional dan Neerlandosenteris.

Dalam disertasinya tersebut ayah dari dua anak ini mencoba mengubah pandangan dengan keberanian dari gerakan sosial yang dilakukan oleh petani untuk melawan ketidakadilan. Ia juga mencoba menghilangkan virus inferior pada bangsa asing yang saat itu banyak menjangkiti masyarakat Indonesia.

Sebagai sejarawan generasi pertama, Sartono telah melahirkan banyak murid yang menjadi benang merah penyambung gagasan-gagasan yang sering ia lontarkan. Tak hanya di Indonesia, dunia Internasional pun mengakui kehebatan Sartono dalam ilmu Sejarah. Kehebatan itulah yang mengantarkannya menerima Benda Prize yang dianugerahkan oleh sejarawan H.J. Benda pada tahun 1977.

Semasa hidupnya, Sartono dikenal sebagai asketisme intelektual. Dalam berbagai kesempatan, ia selalu mengingatkan akan pentingnya sikap asketis dalam diri seorang profesional. Menurutnya, seseorang yang menjalani sikap asketis adalah orang yang melakukan latihan olah jiwa untuk menahan diri dari hawa nafsu jasmaniah. Sehingga aspek kognitif yang dihasilkan berupa sikap logis, kritis, analitis, dan diskursif. Tak hanya itu, semasa hidupnya, ia juga menelurkan karyanya dalam puluhan buku dan ratusan artikel. Salah satu bukunya yang terkenal adalah Pengantar Sejarah Indonesia Baru, Jilid I Zaman Kerajaan dan Jilid II Pergerakan Sejarah Nasional.

Pada tanggal 7 Desember 2007 Sartono menghembuskan napas terakhir di RS Panti Rapih, Jogjakarta dalam usia 87 tahun. Sepanjang hidupnya, ia tak hanya memberikan contoh dan teladan sebagai sejarawan Indonesia tapi juga memberikan inspirasi dan pemikiran bagi kehidupan bangsa.

Dalam sebuah kutipan, Sartono mengungkapkan bahwa ilmu sejarah bukan sekedar narasi. Tidak hanya kisah-kisah serba menyenangkan. Karena itu pendekatannya jangan melulu dari ilmu sejarah, tetapi harus memanfaatkan bantuan ilmu antropologi, sosiologi, berikut disiplin ilmu-ilmu lain. Selain itu, karena menulis sejarah Indonesia, maka cara pendekatannya memang harus Indonesiasentris dan jangan sampai terpesona dengan aneka ragam kisah raja-raja atau orang besar. Sebab rakyat, petani, dan wong cilik juga punya peran sangat bermakna yang juga ikut membentuk sejarah.

 

Oleh: Atiqoh Hasan

Profil

  • Nama Lengkap

    Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo

  • Alias

    No Alias

  • Agama

    Kristen

  • Tempat Lahir

    Wonogiri

  • Tanggal Lahir

    1921-02-15

  • Zodiak

    Aquarius

  • Warga Negara

    Indonesia

  • Istri

    Sri Kadarjati

  • Biografi

    Prof. Dr. A. Sartono Kartodirdjo adalah sejarawan Indonesia sekaligus pelopor dalam penulisan sejarah dengan pendekatan multidimensi. Sebelum menjadi guru, pria yang akrab disapa Sartono ini menyelesaikan pendidikan di HIS, MULO, dan HIK. Saat bersekolah di HIK (sekolah calon bruder), pria kelahiran Wonogiri, 15 Februari 1912 ini dilatih kepekaan batin dan ketajaman intuisinya yang menuntunnya menjadi sosok ilmuwan yang asketis.

    Saat usianya menginjak 44 tahun, Sartono menyelesaikan pendidikan sarjana di Fakultas Sastra Universitas Indonesia di sela-sela kegiatan mengajar di salah satu sekolah yang ada di Jakarta. Lalu melanjutkan pendidikan master degree di Universitas Yale, Amerika Serikat setelah sebelumnya mengajar di Universitas Gajah Mada Jogjakarta dan IKIP Bandung. Ia lulus pada tahun 1964 disusul melanjutkan pendidikan doktoralnya dua tahun kemudian.

    Pada tahun 1968, Sartono dikukuhkan sebagai guru besar Universitas Gajah Mada Jogjakarta. Dalam disertasi (The Peasants’ Revolt of Banten in 1888, It’s Conditions, Course and Sequel: A Case Study of Sosial Movements in Indonesia) yang ia buat untuk meraih gelar doktoralnya dinilai banyak orang sebagai jembatan perkembangan ilmu sejarah di Indonesia. Ia menganggap bahwa disertasinya merupakan bentuk protes terhadap penulisan sejarah Indonesia yang konvensional dan Neerlandosenteris.

    Dalam disertasinya tersebut ayah dari dua anak ini mencoba mengubah pandangan dengan keberanian dari gerakan sosial yang dilakukan oleh petani untuk melawan ketidakadilan. Ia juga mencoba menghilangkan virus inferior pada bangsa asing yang saat itu banyak menjangkiti masyarakat Indonesia.

    Sebagai sejarawan generasi pertama, Sartono telah melahirkan banyak murid yang menjadi benang merah penyambung gagasan-gagasan yang sering ia lontarkan. Tak hanya di Indonesia, dunia Internasional pun mengakui kehebatan Sartono dalam ilmu Sejarah. Kehebatan itulah yang mengantarkannya menerima Benda Prize yang dianugerahkan oleh sejarawan H.J. Benda pada tahun 1977.

    Semasa hidupnya, Sartono dikenal sebagai asketisme intelektual. Dalam berbagai kesempatan, ia selalu mengingatkan akan pentingnya sikap asketis dalam diri seorang profesional. Menurutnya, seseorang yang menjalani sikap asketis adalah orang yang melakukan latihan olah jiwa untuk menahan diri dari hawa nafsu jasmaniah. Sehingga aspek kognitif yang dihasilkan berupa sikap logis, kritis, analitis, dan diskursif. Tak hanya itu, semasa hidupnya, ia juga menelurkan karyanya dalam puluhan buku dan ratusan artikel. Salah satu bukunya yang terkenal adalah Pengantar Sejarah Indonesia Baru, Jilid I Zaman Kerajaan dan Jilid II Pergerakan Sejarah Nasional.

    Pada tanggal 7 Desember 2007 Sartono menghembuskan napas terakhir di RS Panti Rapih, Jogjakarta dalam usia 87 tahun. Sepanjang hidupnya, ia tak hanya memberikan contoh dan teladan sebagai sejarawan Indonesia tapi juga memberikan inspirasi dan pemikiran bagi kehidupan bangsa.

    Dalam sebuah kutipan, Sartono mengungkapkan bahwa ilmu sejarah bukan sekedar narasi. Tidak hanya kisah-kisah serba menyenangkan. Karena itu pendekatannya jangan melulu dari ilmu sejarah, tetapi harus memanfaatkan bantuan ilmu antropologi, sosiologi, berikut disiplin ilmu-ilmu lain. Selain itu, karena menulis sejarah Indonesia, maka cara pendekatannya memang harus Indonesiasentris dan jangan sampai terpesona dengan aneka ragam kisah raja-raja atau orang besar. Sebab rakyat, petani, dan wong cilik juga punya peran sangat bermakna yang juga ikut membentuk sejarah.

     

    Oleh: Atiqoh Hasan

  • Pendidikan

    • Universitas Amsterdam, Belanda (1966)
    • Universitas Yale, Amerika Serikat (1964)
    • Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1956)

  • Karir

    • Peneliti ahli Institute of South East Asian Studies, Singapura
    • Koordinator Nasional UNESCO
    • Dosen dan Guru Besar Universitas Gajah Mada 
    • Guru SMA di Jakarta

  • Penghargaan

    Penghargaan:

    Benda Prize, 1977

     

    Buku:

    • Indonesia Historiography, 2001
    • Modern Indonesia, Tradition and Transformation, 1984
    • Ratu Adil, 1984
    • Protest Movement in Rural Java, Oxford University, 1973
    • The Peasant Revolt of Banten in 1888, 1966
    • Pengantar Sejarah Indonesia Baru, Jilid I Zaman Kerajaan dan Jilid II Pergerakan Sejarah Nasional
    • Pemberontakan Petani Banten 1888: Kondisi, Jalan Peristiwa dan Kelanjutannya - Sebuah Studi Kasus mengenai Gerakan Sosial di Indonesia, 1984
    • Pemikiran dan Perkembangan Historiografi Indonesia: Suatu Alternatif, 1982
    • Sejarah Nasional Indonesia, 1976
    • Arit dan Bulan Sabit: Pemberontakan Komunis 1926 di Banten, 1982
    • Sejarah Perkebunan di Indonesia: Kajian Sosial Ekonomi
    • Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah, 1993
    • Ungkapan-ungkapan Filsafat Sejarah Barat dan Timur, 1986
    • Revolusi Prancis, 1989
    • Kebudayaan Pembangunan dalam Perspektif Sejarah: Kumpulan Karangan, 1987
    • Masyarakat Kuno dan Kelompok-kelompok Sosial, 1977
    • Dari Raja Ali Haji Hingga Hamka: Indonesia dan Masa Lalunya, 1983
    • Kepemimpinan dalam Dimensi Sosial, 1984
    • Elite dalam Perspektif Sejarah, 1981
    • Sejak Indische sampai Indonesia 
    • Komunikasi dan Kaderisasi dalam Pembangunan Desa
    • Modern Indonesia, Tradition & Transformation: A Socio-historical Perspective
    • Perkembangan Peradaban Priyayi
    • Pembangunan Bangsa tentang Nasionalisme, Kesadaran dan Kebudayaan Nasional
    • Multidimensi Pembangunan Bangsa: Etos Nasionalisme dan Negara Kesatuan
    • Ideologi dan Teknologi dalam Pembangunan Bangsa: Eksplorasi Dimensi Historis dan Sosio-kultural : Kumpulan Tulisan
    • Peristiwa Cimareme Tahun 1919: Perlawanan H. Hasan terhadap Peraturan Pembelian Padi

Geser ke atas Berita Selanjutnya