Merdeka.com tersedia di Google Play


Cerita para tukang ngaji dadakan di TPU Karet jelang Ramadan
Reporter : Desi Aditia Ningrum | Minggu, 5 Juni 2016 13:03




Cerita para tukang ngaji dadakan di TPU Karet jelang Ramadan
Tukang ngaji dadakan di TPU Karet jelang Ramadan. ©2016 merdeka.com/desi aditia ningrum

Merdeka.com - Jelang Ramadan, beberapa tempat pemakaman umum (TPU) dibanjiri oleh pengunjung untuk melakukan ziarah. Salah satunya TPU Karet Tengsin yang ramai didatangi oleh warga.

Hal ini pun dimanfaatkan oleh beberapa orang untuk mengais rezeki di tempat tersebut. Seperti tukang ngaji dadakan bernama Muhaimin (57). Pria asal Serang ini sengaja datang jauh-jauh hanya untuk menjadi tukang ngaji kuburan.

"Saya ke sini seminggu sebelumnya. Awalnya ada yang ngajak buat jadi tukang mengaji dan berdoa. Yaa itung-itung mencari rezeki aja," kata Muhaimin saat berbincang dengan merdeka.com, di TPU Karet Tengsin, Sabtu (5/6).

Tukang ngaji dadakan di TPU Karet jelang Ramadan 2016 merdeka.com/desi aditia ningrum

Meski dibilang memanfaatkan momen jelang Ramadan, namun dia memastikan mampu membaca doa-doa dengan baik. Karena profesi ini pun terkadang dilakoninya di kampung halaman.

"Kalau doa-doa Insya Allah bisa. Karena kalau di kampung juga saya suka dipanggil orang buat mengaji di kuburan," ungkap Muhaimin, yang sehari-hari bekerja sebagai petani ini.

Dia menuturkan, tidak memasang tarif resmi bagi orang yang membutuhkannya. Hanya saja setiap uang yang didapatkan bakal dibagi dengan teman seprofesinya.

"Meskipun lagi ramai kaya gini tidak memasang tarif. Seikhlasnya saja orang mau ngasih. Kadang ada yang ngasih Rp 50 ribu, tapi itu juga dibagi sama teman yang sama-sama ngaji. Karena satu kuburan biasanya ada dua atau lebih yang ikut ngaji dan doa," jelasnya.

Tukang ngaji dadakan di TPU Karet jelang Ramadan 2016 merdeka.com/desi aditia ningrum

Sejauh ini, kata dia, pendapatannya hanya cukup untuk kebutuhannya sendiri. "Paling besar ada yang ngasih Rp 100 ribu tapi itu tadi dibagi-bagi temen. Yaa selama ini cukup buat makan dan beli rokok si," tandasnya.

Sama hal nya dengan Muhaimin, Abdul kabir (60), seorang tukang cukur rambut ikut menjadi tukang ngaji di TPU tersebut. Dia mengatakan, tak ingin melewati kesempatan untuk mencari rezeki.

"Saya sehari-hari cukur rambut. Karena mau puasa biasanya ramai di kuburan jadi saya ikut menjadi tukang ngaji," kata Abdul.

Dia juga tak menyangkal kalau profesi ini disebut dadakan. Karena jika tak hari-hari biasa, dia tak mungkin datang ke TPU tersebut.

Tukang ngaji dadakan di TPU Karet jelang Ramadan 2016 merdeka.com/desi aditia ningrum


"Iya bisa dibilang begitu (dadakan). Biasanya emang saya nggak ke sini saya orang Serang sengaja datang ke sini jelang puasa aja," tukasnya.

Baca juga:
Ki Sunan Sunhaji, merawat tradisi dakwah ala Sunan Kalijaga
Cerita para tukang ngaji dadakan di TPU Karet jelang Ramadan
Persiapan lebaran, Kemenhub inspeksi jalur lintas utara dan selatan
Sunu, berpaling dari yang fana demi akhirat
Razia Pekat jelang Ramadan, pasangan mesum dan PSK diamankan
Jelang Ramadan, komunitas Jurnalis 4x4 santuni warga terisolir
Pedagang: Daging sapi di pasar tradisional belum bisa Rp 80.000

[hhw]



Komentar Anda


READ MORE


Back to the top