Survei Rumah.com: Mayoritas Responden Tunda Beli Properti di Tengah Pandemi

Selasa, 14 Juli 2020 16:24 Reporter : Merdeka
Survei Rumah.com: Mayoritas Responden Tunda Beli Properti di Tengah Pandemi perumahan. ©2012 Merdeka.com/sapto anggoro

Merdeka.com - Tahun 2020 sebelumnya diharapkan menjadi tahun kebangkitan sektor properti Tanah Air. Apalagi setelah selesainya tahapan politik nasional baik pilpres dan pileg yang hiruk pikuk di tahun 2019 lalu serta didorong sejumlah kebijakan terkait perbankan dan properti, sempat mendorong optimisme para pelaku industri properti di Indonesia.

Namun demikian, optimisme tersebut harus tertahan akibat pandemi Covid-19 yang menyebar di seluruh dunia dan berdampak terhadap Indonesia sejak Maret lalu. Industri properti disebut-sebut menjadi salah satu yang paling terkena dampak dari pandemi Covid-19.

Country Manager Rumah.com, Marine Novita mengatakan bahwa kebangkitan industri properti Tanah Air yang sempat digadang-gadang akan terjadi di tahun 2020 ini ternyata harus tertahan karena adanya pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia tidak terkecuali juga di Indonesia. Pasar properti nasional yang tadinya menunjukkan sentimen positif sejak akhir 2019 lalu akhirnya harus mengalami stagnasi sejak bulan Maret 2020 lalu.

"Pandemi Covid-19 mulai terlihat dampaknya pada industri properti Tanah Air. Berdasarkan hasil survei Rumah.com Consumer Sentiment Study H2 2020, secara umum 60 persen responden menyatakan bahwa mereka harus menunda transaksi pembelian properti. Dari 60 persen responden tersebut jika dilihat dari kepemilikan hunian, pemilik rumah cenderung untuk menunda transaksi properti yaitu sebesar 70 persen, dibandingkan mereka yang masih menyewa (50 persen) atau yang masih tinggal dengan orang tua (53 persen)," jelas Marine dikutip keterangan resminya di Jakarta, Selasa (14/7).

Hasil survei kali ini diperoleh berdasarkan 1007 responden dari seluruh Indonesia yang dilakukan pada bulan Januari hingga Juni 2020.

Temuan lainnya yaitu 45 persen responden lainnya mengalami kesulitan untuk melihat properti yang akan dibeli, 40 persen responden lainnya menghindari untuk membeli properti di komplek perumahan yang penghuninya dinyatakan positif menderita Covid-19 sedangkan 33 persen responden lainnya mengalami kesulitan atau keterlambatan dalam mendapatkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Meskipun situasi ekonomi sangat merasakan dampak dari pandemi, namun 60 persen responden memiliki intensi melanjutkan rencana pembelian hunian untuk ditinggali sendiri, baik di tahun 2020 ini maupun tahun 2021 mendatang.

Sementara mereka yang membeli properti untuk investasi hanya 39 persen responden saja yang masih terus akan melanjutkan pembeliannya baik tahun ini maupun tahun depan.

Situasi pandemi Covid-19 yang memaksa masyarakat untuk lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah juga berdampak meningkatnya intensi mereka untuk memiliki hunian sendiri.

Hal ini dinyatakan oleh 34 persen responden sementara 25 persen responden lainnya berminat untuk merenovasi atau menggunakan kembali area tertentu di rumah mereka. Sedangkan 11 persen responden berpikir untuk pindah dari hunian mereka yang sekarang.

Keinginan untuk memiliki hunian sendiri di saat harus lebih banyak menghabiskan waktu di rumah seperti sekarang ini mayoritas dinyatakan oleh mereka dari generasi milenial maupun generasi Z.

Jika dilihat dari segi usia responden maka mereka dari kelompok usia 22-29 tahun, 44 persen ingin memiliki rumah sendiri, kelompok usia 30-39 tahun sebanyak 36 persen responden, kelompok usia 40-49 tahun sebesar 27 persen responden dan kelompok usia 50-59 tahun hanya sejumlah 16 persen responden yang ingin memiliki rumah sendiri.

Menurut Marine, adanya pandemi Covid-19 yang disertai pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Indonesia termasuk social dan phyisical distancing telah mempengaruhi bagaimana pencari rumah mendapatkan informasi tentang hunian yang akan dibeli. Sebagian besar responden yaitu sebanyak 73 persen memilih menggunakan platform media sosial, dan 58 persen responden melalui portal properti daring serta 23 persen responden lainnya memanfaatkan tur virtual maupun video dari properti yang diincar.

Sedangkan informasi tentang hunian yang akan dibeli secara umum masih sama dengan survei pada periode sebelumnya dimana informasi utama yang ingin dicari adalah 91 persen responden ingin mengetahui tentang harga properti, 82 persen responden menanyakan tentang lokasi properti dan 76 persen responden mencari tahu tentang proses dan dokumen legalnya.

Bergesernya komposisi pencari properti dari investor ke pembeli pertama, juga terlihat dari persepsi secara umum tentang kenaikan harga.

"Responden yang meyakini bahwa harga properti akan selalu mengalami peningkatan tahunan minimal 5 persen, dalam setiap survei semakin menurun. Hal ini bukan berarti bahwa harga properti akan turun, melainkan pencari rumah semakin rasional dalam melihat peningkatan harga."

1 dari 1 halaman

Respon Kebutuhan

Ke depannya, pelaku properti harus lebih merespons kebutuhan pembeli pertama yang akan menghuni rumah yang dibelinya, bukan yang membeli semata-mata karena berharap kenaikan harga.

Menurut Marine, di tengah pandemi Covid-19 yang masih berlangsung sampai sekarang ini, apalagi dengan adanya Adaptasi Kebiasaan Baru menuju New Normal, protokol kesehatan yang selama ini sudah berjalan bisa terus diterapkan termasuk di industri properti. Bagi konsumen yang pertama kali akan membeli rumah, saat ini tidak harus langsung mendatangi showroom atau unit contoh yang ditawarkan oleh para pengembang.

Saat ini yang paling penting dilakukan adalah mempelajari dulu proses pembelian rumah, membandingkan suku bunga KPR dari berbagai bank penyedia, dan mempersiapkan keuangan pribadi agar sudah siap secara finansial ketika mengambil KPR. Berbagai hal tersebut bisa didapatkan dengan mengakses portal properti sebagai informasi dasar dalam pencarian properti.

Selain itu juga bisa dengan menggunakan fitur digital 'StoryTeller' dari PropertyGuru FastKey yang baru saja dihadirkan oleh Rumah.com sebagai portal properti terdepan di Indonesia untuk menghadirkan pengalaman site visit secara virtual, di tengah pandemi dan social serta physical distancing yang mempengaruhi aktivitas pembelian properti.

Konsumen juga bisa mengetahui perbandingan harga properti di satu lokasi yang sama, rencana pembangunan infrastruktur di sekitar lokasi, hingga perbandingan harga dengan hunian lain di sekitarnya melalui ulasan tersebut.

"Adanya dukungan teknologi seperti 'StoryTeller' dari PropertyGuru FastKey, maupun informasi seputar infrastruktur wilayah hunian membuat calon pembeli properti bisa melakukan survei properti kapanpun dan di manapun di tengah pandemi Covid-19 seperti sekarang," pungkas Marine.

[idr]
Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Properti
  3. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini