Survei: Jarak Rumah ke Sekolah Belum Jadi Pertimbangan Beli Properti

Kamis, 27 Juni 2019 18:56 Reporter : Siti Nur Azzura
Survei: Jarak Rumah ke Sekolah Belum Jadi Pertimbangan Beli Properti perumahan. ©2012 Merdeka.com/sapto anggoro

Merdeka.com - Survei Rumah.com Property Affordability Sentiment Index H1 2019 menemukan bahwa setidaknya ada 5 besar faktor pertimbangan masyarakat dalam membeli properti. Kedekatan jarak rumah ke sekolah tidak menjadi pertimbangan utama.

Survei berkala ini dilaksanakan oleh Rumah.com untuk mengikuti secara langsung perkembangan yang terjadi di pasar. Survei diselenggarakan dua kali dalam setahun oleh Rumah.com bekerjasama dengan lembaga riset Institut Research, Singapura.

Survei ini diikuti oleh 1.000 responden dari kota-kota di seluruh Indonesia di mana sebanyak 69 persen responden berasal dari rentang usia milenial (22-39 tahun) yang terdiri dari 34 persen milenial muda (kelahiran 1990-1997), sedangkan 35 persen-nya adalah milenial tua (kelahiran 1982-1989).

Head of Marketing Rumah.com Ike Hamdan menjelaskan bahwa mengacu pada hasil survei Rumah.com Property Affordability Sentiment Index H1 2019, ada banyak hal yang menjadi pertimbangan responden saat memilih rumah yang cocok. Di antara pertimbangan-pertimbangan tersebut, jarak ke fasilitas transportasi umum menjadi pertimbangan responden terbanyak, yakni sebesar 76 persen. Kemudian disusul dengan jarak ke tempat kerja, kedekatan ke sarana kesehatan, masing-masing sebesar 47 persen dan 43 persen.

Kedekatan jarak antara rumah dengan sekolah belum menjadi pertimbangan utama karena sistem zonasi sekolah baru diterapkan setahun terakhir ini sehingga orang tua bisa bebas menyekolahkan anaknya di sekolah yang selama ini favorit tanpa harus memiliki kedekatan jarak dengan sekolah tersebut.

"Pertimbangan jarak dan lingkungan yang menjadi pertimbangan utama tersebut berkaitan dengan kelompok usia responden yang berencana membeli rumah dalam enam bulan ke depan, yakni usia 21-39 tahun. Usia ini merupakan usia produktif dan akan atau berkeluarga kecil, sehingga mobilitas dan lingkungan yang ramah anak-anak jadi pertimbangan utama. Selain itu mereka belum terlalu memikirkan pendidikan lanjutan bagi anak-anak mereka untuk jenjang SMP dan SMA sehingga kedekatan rumah dengan sarana pendidikan belum termasuk jadi pertimbangan utama," kata Ike dalam keterangannya.

Kebijakan sistem zonasi saat ini terutama diterapkan untuk sekolah negeri jenjang SMP dan SMA. Sehingga jika melihat perjalanan hidup seseorang secara umum, kebijakan ini memang baru akan berdampak ketika mereka berusia 35-40 tahun ke atas dan memiliki anak usia sekolah tingkat lanjut. Sangat mungkin belum terbayang untuk mereka yang baru membeli rumah pertama kali di usia yang relatif masih muda, misal 25-30 tahun, untuk memikirkan tentang kedekatan rumah dengan sekolah yang diinginkan.

Dengan demikian, ada dua hal yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi masalah ini. Pertama yang wajib dilakukan adalah mempelajari area rumah baru tersebut. Sangat dianjurkan untuk melakukan pengecekan mengenai rencana tata kota daerah yang bersangkutan. Pengenalan mengenai daerah juga bisa ditemukan melalui fitur AreaInsider di Rumah.com.

Hal kedua yang perlu dipertimbangkan adalah seseorang tidak harus tinggal di rumah yang sama seumur hidupnya. Mereka bisa mempertimbangkan untuk melakukan upgrade atau pindah rumah pada saat membutuhkannya. Dalam kasus ini, ketika anak-anak sudah berusia sekitar 9-10 tahun, mereka bisa upgrade atau pindah ke daerah di mana sekolah incaran tersebut berada. Dengan demikian, orang tua anak bisa mengurus sesuai prosedur yang berlaku bila sistem zonasi sekolah tetap diberlakukan. Anak-anak pun bisa beradaptasi dulu dengan lingkungan barunya sebelum memutuskan sekolah mana yang nantinya akan diambil.

Kondisi ini juga selaras dengan hasil survei Rumah.com Property Affordability Sentiment Index H1 2019 lainnya, dimana responden pada kelompok usia 21-39 tahun cenderung untuk lebih memilih properti baru. Pada kelompok usia 21-29 tahun, 55 persen responden memilih untuk membeli properti yang masih baru sedangkan kelompok usia 30-39 tahun, 65 persen responden juga memilih membeli properti baru.

Properti baru memang masih menjadi idaman para responden. Namun, hampir separuh dari total responden mengaku tak bermasalah membeli properti seken. Bagi responden ini, kedekatan dengan sarana-sarana penunjang seperti transportasi umum, pendidikan, kesehatan, dan perbelanjaan tampaknya lebih penting ketimbang kondisi rumah itu sendiri.

Berdasarkan usia, kalangan milenial adalah kalangan yang paling resisten terhadap rumah seken. Total, 61 persen dari kalangan milenial hanya menghendaki rumah baru, hanya 39 persen yang tak keberatan dengan rumah seken. Sebaliknya, dari kelompok umur yang lebih tua (40-59 tahun), hanya 34 persen yang hanya menginginkan rumah baru.

Namun perumahan baru yang ada saat ini biasanya memang memiliki lokasi yang relatif jauh dari sekolah-sekolah negeri sehingga akan menyulitkan orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya di sekolah negeri pilihan mereka jika tidak masuk ke area sistem zonasi sekolah tersebut.

"Oleh karena itu, survei langsung ke lokasi properti idaman penting untuk dilakukan. Selain bisa mengetahui langsung kondisi lingkungan perumahannya, fasilitas dan potensi sekitar, konsumen juga bisa mengukur jarak tempuh dan mempelajari akses transportasi dan fasilitas umum yang ada. Untuk tips dan panduan mencari rumah yang lebih komprehensif bisa dengan mengunjungi www.rumah.com/panduan."

"Harus diakui, kebijakan zonasi sekolah akan mempengaruhi industri properti karena bisa memicu kebutuhan akan hunian di sekolah-sekolah yang selama ini menjadi favorit masyarakat. Dengan memiliki hunian di dekat sekolah pilihan akan memudahkan para penghuninya mendapatkan akses pendidikan terbaik," pungkas Ike. [azz]

Topik berita Terkait:
  1. Perumahan
  2. Properti
  3. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini