CEO Crown Group: Popularitas Rumah Tapak Mulai Tergerus Hunian Vertikal

Senin, 24 Februari 2020 16:04 Reporter : Merdeka
CEO Crown Group: Popularitas Rumah Tapak Mulai Tergerus Hunian Vertikal CEO Crown Group Iwan Sunito. ©2017 istimewa

Merdeka.com - CEO dan pendiri Crown Group, Iwan Sunito menyebut bahwa telah terjadi pergeseran tren hunian di Sydney dalam 2 dekade terakhir. Pertumbuhan penduduk yang pesat mengakibatkan bertambahnya jumlah tenaga kerja usia muda yang memiliki preferensi tersendiri untuk hunian tempat tinggal.

"Hal ini menyebabkan semakin besarnya golongan usia produktif yang lebih menyukai hunian berukuran kompak yang dekat dengan tempat mereka bekerja dan dikelilingi oleh pusat perbelanjaan dan kuliner. Dan ini mengakibatkan tergerusnya popularitas rumah tapak melalui keberadaan hunian vertikal," jelas Iwan Sunito dikutip keterangannya di Jakarta, Senin (24/2).

Menurut laporan yang dibuat oleh Worldpopulationreview.com, dilaporkan bahwa sejak 2015, populasi Sydney telah tumbuh sebesar 381.694 jiwa yang mewakili 1,63 persen dari perubahan tahunan.

"Inilah salah satu penyebab utama pertumbuhan jumlah hunian vertikal di Sydney," tambah Iwan Sunito yang berasal dari Surabaya ini.

Laporan yang dibuat oleh PBB mengungkapkan bahwa pada tahun 2050 nanti, 68 persen populasi dunia akan menempati area perkotaan. Jumlah ini akan meningkat dari saat ini yang hanya sebesar 55 persen. Laporan PBB tersebut juga memprediksikan adanya tambahan 2,5 juta orang yang akan tinggal di kota 30 tahun ke depan.

"Perlu diingat bahwa negara bagian New South Wales yang memiliki populasi sebesar 7,988,241 merupakan lokomotif perekonomian di Australia yang menghasilkan GSP (Gross State Product) sebesar 604 miliar dolar Australia atau 32,7 persen dari total GNP Australia."

Dengan segala kelengkapan yang dimiliki oleh sebuah kota metropolitan ditambah pembangunan infrastruktur transportasi massal yang masif, tidaklah mengherankan apabila Sydney menjadi salah satu kota yang paling diminati untuk dihuni di Australia. "Terbukti selama 10 tahun terakhir, Australia telah menjadi destinasi investasi utama bagi para investor di kawasan Asia umumnya, khususnya Indonesia."

Pasar properti Australia sempat mencapai puncaknya dengan pertumbuhan sebesar 17 persen pada tahun 2017 dan bukanlah hal yang mustahil apabila di tahun 2020 ini pertumbuhan nilai properti akan kembali menyentuh angka dua digit sesuai prediksi dari SQM Research.

1 dari 1 halaman

Pasar Properti Naik

naik

Penasehat investasi terkemuka di Australia, Michael Yardney menyebut bahwa pasar properti Sydney sedang dalam arah yang tepat untuk kembali bangkit berdasarkan data selama 12 bulan terakhir hingga Desember 2019.

"Bahkan selama 40 tahun terakhir, pertumbuhan rata-rata properti yang terjadi di kota Sydney mencapai 7,4 persen yang artinya adalah banyak properti yang nilai nya menjadi dua kali lipat di setiap dekade," katanya.

Pada bulan November 2019 SQM Research yang merupakan badan penelitian investasi di Australia memperkirakan harga rumah tapak dan hunian vertikal kota Sydney akan tumbuh sebesar dua digit pada tahun 2020

Sebagai informasi, harga 1 unit apartemen tipe 1 kamar tidur di V by Crown Group di Parramatta pada tahun 2014 adalah Rp6,25 miliar dan tahun 2018 sudah bernilai Rp7,65 miliar, sementara tipe unit apartemen 1 bed + study di Skye by Crown Group di North Sydney pada tahun 2013 adalah Rp7,6 miliar dan pada tahun 2018 sudah mencapai Rp9,67 miliar. [idr]

Baca juga:
Hunian Vertikal Jadi Pilihan Kaum Milenial
Menengok Apartemen Termewah di Jakarta Rp20 M, View-nya Keren Banget
Cari Hunian Berstandar Jepang di Bekasi Barat dengan Harga Bersahabat? Ini Jawabannya
Terinspirasi Gunung Parahyangan, The MAJ Collections Bakal Jadi Ikon Baru Bandung
Penghuni Apartemen di Jakarta Mendapat Penyuluhan Bahaya Virus Corona

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Apartemen
  3. Properti
  4. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini