Wasekjen Hanura minta pidato 'pribumi' Anies Baswedan tak perlu dibesarkan

Rabu, 18 Oktober 2017 07:26 Reporter : Randy Ferdi Firdaus
Wasekjen Hanura minta pidato 'pribumi' Anies Baswedan tak perlu dibesarkan Hari pertama Anies-Sandi. ©2017 Merdeka.com/Muhammad Luthfi Rahman

Merdeka.com - Baru sehari menjabat Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan sudah mendapat reaksi keras dari sejumlah pihak. Bahkan, Anies dilaporkan ke polisi karena ucapan 'pribumi' saat pidato pertama sebagai gubernur usai dilantik oleh Presiden Jokowi pada (16/10) lalu.

Namun pelaporan Anies Baswedan ke polisi disayangkan oleh Wasekjen Hanura Tridianto. Menurut dia, persoalan 'pribumi' baiknya tak perlu dibesar-besarkan.

Dia mengakui, kata pribumi dalam pidato Anies diucapkan dalam momen yang kurang tepat. Namun sekali lagi, menurut Tri, hal tersebut tak perlu dipolemikkan, karena merugikan bagi rakyat Jakarta itu sendiri.

"Memang istilah itu diucapkan kurang tepat waktu. Bisa banyak penafsiran. Tapi menurut saya tidak perlu dibesar-besarkan, apalagi dilaporkan polisi," kata Tri saat dihubungi merdeka.com, Rabu (18/10).

Kepala Departemen Pidana Hukum dan HAM DPD Banteng Muda Indonesia DKI Jakarta, Pahala Sirait membuat laporan ke Bareskrim Polri terkait ucapan Anies itu. Beberapa orang dari Banteng Muda Indonesia juga mengadukan Anies ke Polda Metro Jaya.

"Tidak usah dilanjutkan kontroversinya. Nanti malah bikin suasana panas lagi di tingkatan rakyat. Kan yang dibutuhkan sekarng ini bagaimana semua pihak berusaha bikin tenang dan damai, biar Jakarta bisa berbenah menjadi lebih baik," kata Tri.

Tri lebih ingin menyoroti tentang bagaimana kepemimpinan Anies ke depan bisa lebih baik dari gubernur-gubernur sebelumnya. Dia juga berpesan, agar ke depan Anies lebih banyak bekerja ketimbang memicu kontroversi di kalangan masyarakat.

"Banyak kerja, tidak banyak bicara lebih pas. Biar Jakarta bisa nyaman buat semua warganya, tanpa membedakan latar belakangnya," kata dia.

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyampaikan pidato politik pertamanya setelah resmi dilantik oleh Presiden Joko Widodo. Salah satu topik dalam pidato yang dibahas Anies adalah membebaskan diri dari kolonialisme.

Di hadapan ribuan warga Jakarta yang hadir di Balai Kota, Anies menyebut penindasan di Jakarta cukup nyata dengan adanya kolonialisme. Dia juga sempat menyinggung perihal pribumi dalam pidatonya.

"Di Jakarta, kolonialisme itu di depan mata, dirasakan sehari-hari. Dulu kita semua pribumi ditindas dan dikalahkan, kini saatnya kita menjadi tuan rumah di negeri sendiri," ujar Anies, Senin (16/10).

Ucapan itu kemudian menuai pro dan kontra. Kemudian, Anies mencoba meluruskan usai memberikan arahan kepada seluruh SKPD, Selasa (17/10).

"Karena saya menulisnya pada era penjajahan dulu, karena Jakarta kota yang paling merasakan, kalau kota-kota lain itu nggak merasakan Belanda secara dekat," kata Anies di ruang Pola, Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (17/10).

Dia menulis pidato yang mencerminkan kota Jakarta saat di jajah Belanda. Karena wilayah-wilayah lain di Indonesia tidak merasakan dijajah Belanda secara langsung.

"Pokoknya itu digunakan untuk menjelaskan era kolonial Belanda karena itu memang kalimatnya di situ," jelasnya. [rnd]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini