Upaya Sudirman Said rebut kursi Gubernur Jateng dari Ganjar Pranowo

Sabtu, 14 Oktober 2017 06:30 Reporter : Rizky Andwika
Sudirman Said-Ganjar Pranowo. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said kian getol mengkritik kinerja Gubernur petahana Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Sudirman yang berniat maju dalam Pilkada Jawa Tengah tahun 2018 ini menyebutkan pelbagai latar belakang profesi di Jawa Tengah ingin punya sosok pemimpin baru.

Dia mengklaim hal tersebut usai melakukan kunjungan ke 23 Kabupaten di Jawa Tengah dalam rangka tebar pesona. "Saya udah tiga bulan bolak balik. Sudah 23 Kabupaten saya datangi. 17 Pesantren ada. Tujuh sampai delapan perguruan tinggi. Tokoh-tokoh saya temui, juga kelompok masyarakat. Komunitas tani, masyarakat, buruh pabrik segala macam. Nelayan," kata Sudirman di Jalan Tirtayasa II Nomor 12, Jakarta Selatan, Jumat (13/10).

"Yang saya rasakan ketika berkeliling tadi, memang suasana itu cukup kuat. Bukan yang hanya dikatakan oleh partai tapi juga Kiai, tokoh-tokoh masyarakat, akademisi kampus juga mengatakan begitu. Kurang lebih (ingin Gubernur baru)."

Menurut Sudirman, kondisi petani di Jawa Tengah selama dipimpin Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo masih dalam kondisi terbelakang. Oleh sebab itu, menjadi tugas pemerintah dan negara dalam hal ini Pemrov Jateng jika dirinya nanti dipercaya dan ditunjuk sebagai Calon Gubernur (Cagub) yang akan bertarung di Pilgub Jateng 2018 mendatang.

"Petani di mana-mana mengalami masalah seperti itu. secara pendidikan, petani paling terbelakang akibatnya daya tawar sama suara pengambil kebijakan lamat-lamat begitu kan. Nah menjadi tugas negara, tugas pemerintah untuk turun mengintervensi," katanya.

Sudirman mengungkapkan ada sebanyak tiga persoalan yang membuat para petani di Jateng masih dalam posisi terbelakang. Persoalan pertama adalah, tidak adanya akses petani pada teknologi dan peralatan pada saat pascapanen.

"Menurut saya problemnya tiga. Nomor satu, pengelolaan pasca panen yang selalu ketinggalan. Akses kepada teknologi, akses kepada alat-alat," terangnya.

Persoalan yang kedua, Sudirman membeberkan yaitu persoalan pada paska panen, terutama saat para petani ini menjual padi yang mereka panen dengan harga yang sangat murah.

"Kedua, pada waktu mereka panen mengalami tekanan. Jadi mereka dipaksa menjual murah produk yang dipanen. Akibatnya, mereka kadang berutang, utang bertambah malah tambah miskin. Problem kedua adalah bagaimana mempunyai akses pada sumber daya keuangan," bebernya.

Kemudian persoalan yang terakhir yang disampaikan oleh Sudirman adalah tidak adanya pengorganisasian petani dalam upaya mempertahankan lahan pertanian mereka dan mendapatkan akses yang kuat untuk memperoleh bantuan dari lembaga keuangan yang dipercaya.

"Yang ketiga, pengorganisasian. Kenapa pengorganisasian makin penting? Lahan sawah semakin penting, beranak pinak kemudian dibagi-bagi menjadi semakin kecil. Ukuran kecil ini menjadi tidak bankable. Kalau ini diatasi atau disiasati dengan masing-masing petani mengorganisasi diri, apakah bentuk koperasi atau bentuk kelompok tani akan lebih punya akses kepada lembaga keuangan," terangnya.

Sudirman menambahkan, jika ketiga persoalan petani di Jateng ini adalah kewajiban pemerintah dalam hal ini Pemprov Jateng untuk membantu meningkatkan kualitas dan mengubah nasib para petani di Jateng.

"Tiga ini harus menjadi perhatian pemerintah untuk membantu atau mengintervensi kehidupan petani. Jadi tugas negara, tugas pemerintah itu member perhatian yang besar kepada kelompok-kelompok yang secara daya kurang. Termasuk petani," katanya.

Pondok Pesantren memprihatinkan di Jateng

Sudirman telah berkeliling di beberapa Pondok Pesantren(Ponpes) di Jateng. Rata-rata, kondisi ponpes yang ada di Jateng menurut Sudirman, sangat memprihatinkan.

"Saya mengalami dan banyak menemukan pesantren-pesantren yang memprihatinkan. Itu harus jadi perhatian siapapun yang nanti memimpin Jawa Tengah," kata Sudirman usai safari politik dan diskusi di Pondok Pesantren Ndelik di Gunung Pati, Kota Semarang, Jawa Tengah Jumat (17/8) malam.

Sudirman mengungkapkan, banyak ponpes yang sampai saat ini sama sekali belum tersentuh oleh pemerintah. Dirinya sangat menyayangkan karena ponpes sebenarnya mempunyai andil besar dalam membangun jiwa bangsa Indonesia saat ini.

"Saya juga banyak sekali masuk pesantren dan saya merasa bahwa pesantren belum mendapatkan sentuhan lebih baik. Karena jumlah anak-anak didik yang belajar di sana luar biasa besar dan sebetulnya kontribusi untuk membangun jiwa bangsa itu dari pesantren besar sekali," tegasnya.

Mau berantas kemiskinan

Satu hal yang sangat Sudirman inginkan jika terpilih sebagai Gubernur Jateng nanti. Dia mengaku ingin fokus dalam mengatasi kemiskinan di tanah kelahirannya itu. Apalagi pembicaraan tentang kemiskinan di Jawa Tengah ada di berbagai kalangan.

"Jateng ini menyimpan 15 persen penduduk miskin di Indonesia. Kita masih punya data desa-desa termiskin di Jawa Tengah," katanya.

Menurut Sudirman kemiskinan menjadi isu yang selalu dibicarakan, namun solusinya tidak hanya cukup dibicarakan tapi harus dikerjakan. Jika dia punya kewenangan, bisa membagi anggaran serta membuat program.

"Ini salah satu alasan saya masuk ke Jawa Tengah, agar bisa berkontribusi mengatasi kemiskinan," ujarnya.

Lebih lanjut Sudirman mengatakan, masalah lain yang harus segera direalisasikan adalah konektivitas infrastruktur antar wilayah utara dan selatan.

"Utara selatan itu kalau bisa disambung dengan jalan-jalan yang baik akan membantu beban daerah utara. Kemudian di beberapa titik juga perlu disiapkan pelabuhan udara dan pelabuhan utama harus dikembangkan di luar Tanjung Emas. Yang lebih mendasar adalah pembangunan sumber daya manusia (SDM), karena kita yakin kalau SDM kuat, maka potensi yang kita punya bisa dipacu dengan waktu," ujarnya. [rzk]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.