Tepis SBY, Ma'ruf Amin Pastikan Mengkampanyekan Program Ketimbang Politik Identitas

Senin, 12 November 2018 09:12 Reporter : Ahda Bayhaqi
Tepis SBY, Ma'ruf Amin Pastikan Mengkampanyekan Program Ketimbang Politik Identitas Cawapres Maruf Amin. ©Istimewa

Merdeka.com - Calon Wakil Presiden Nomor Urut 01 Ma'ruf Amin membantah ucapan Ketum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang menyatakan Pilpres 2019 kian marak pertarungan politik identitas ketimbang program. Ma'ruf mengklaim pihaknya sudah mengkampanyekan program.

"Saya kira enggak ada politik identitas. Justru adu program. Bagaimana apa yang sudah dan apa yang akan," kata Ma'ruf di rumah Situbondo, Jakarta Pusat, Senin (12/11).

Ma'ruf menuturkan timnya selama ini memperjuangkan landasan, capaian dan perolehan pemerintahan Jokowi. Dia mengaku selalu menekankan bahwa apa yang sudah dikerjakan ini untuk manfaat lebih besar di kemudian hari.

"Memperbesar kemaslatan, menambah atau melakukan penyesuaian atau mengadjust, menyempurnakan. Itu pendekatannya programming, pendekatan konsep bagaimana membangun ke depan, enggak ada identitas," kata Ketua MUI ini.

Ma'ruf membantah jika deklarasi ulama dan kiai dikaitkan dengan politik identitas. Menurutnya, itu karena pihak yang mendeklarasikan dukungan memiliki kesamaan dengan pasangan calon presiden.

"Tapi kalau misalnya orang NU mau mendukung orang NU itu kan wajar saja. Misalnya pemimpin NU-nya dia mendukung, itu bukan politik identitas tetapi merasa ada kesamaan," kata dia.

Ma'ruf ogah berkampanye dengan politik identitas. Kedua belah pasangan calon pun sudah sepakat tak memainkan politik identitas.

"Kita kan sudah sepakat tidak membawa politik identitas pendekatakannya. Ya enggak tahu yang lain tapi dari kita, dari 01 tidak," pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono menilai pertarungan di Pilpres 2019 lebih ke arah politik identitas daripada program dan solusi yang ditawarkan. Ia terus berharap pemilu berlangsung demokratis dan damai.

Menurutnya kontestasi Pilpres 2009 sampai 2014 silam memang keras dan konfrontatif, tapi bisa berjalan damai dan demokratis. Demokrat, kata dia, tidak ingin kontestasi Pileg dan Pilpres 2019 yang prosesnya dimulai sejak sekarang tidak mengarah ke disintegrasi, mengganggu kerukunan dan persatuan bangsa.

"Menangis kita kalau itu terjadi," sebut SBY di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu (10/11). [gil]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini