Tak Ada Laporan Kerja, Rekam Jejak Caleg Petahana DPR Sulit Ditemukan

Selasa, 9 April 2019 15:54 Reporter : Fikri Faqih
Tak Ada Laporan Kerja, Rekam Jejak Caleg Petahana DPR Sulit Ditemukan dpr. Merdeka.com/Imam Buhori

Merdeka.com - Indonesia Corruption Watch (ICW) dan Indonesia Budget Center (IBC) menyusun catatan rekam jejak DPR 2014-2019. Salah satu yang menjadi sorotan adalah masih banyaknya anggota legislatif yang melakukan tindak pidana korupsi.

Direktur IBC Roy Salam mengatakan, salah satu faktor penyebab adanya korupsi di legislatif adalah tidak adanya kontrol masyarakat. Pasalnya hasil kinerja anggota dewan masih jarang terpublikasi.

"Jadi DPR maupun DPRD ini masih jauh dari kontrol publik. Itu titik tekannya. Kita enggak pernah tahu apa yang dikerjakan, sekalipun tahu juga minim. Publikasi soal kerja mereka juga minim sekali. jadi membuat mereka mudah melakukan korupsi," katanya saat dihubungi, Selasa (9/4).

RUU yang berhasil disahkan DPR hingga April 2019 hanya 26 Undang-Undang, termasuk penetapan Peraturan Pengganti Perundang-undangan (Perppu) menjadi UU. Jika di rata-rata, DPR RI hanya menyelesaikan 5 pembahasan UU atau revisi UU setiap tahunnya, di luar RUU Kumulatif yang disahkan.

Untuk itu, Roy menyarankan masyarakat untuk memperhatikan rekam jejak dari para calon anggota legislatif. Walaupun, dia menyakini, hal tersebut akan sulit untuk dilakukan karena tidak adanya informasi mengenai capaian kerja calon legislatif, terutama petahana.

"Kalau petahana cari laporan hasil kerjanya akan sulit untuk melihat apakah dia bekerja atau tidak, itu sangat sulit. Salah satunya karena tidak ada laporan kepada masyarakat," ujarnya.

Kemudian, dia menyarankan, agar masyarakat memperhatikan visi misi yang disampaikan oleh caleg. Sehingga memastikan perwakilan di DPR ataupun DPRD mau melakukan perbaikan terhadap lembaga legislatif.

"Perhatikan juga saat dia (caleg) kampanye apakah dia cukup punya kekuatan untuk melakukan perubahan. Terutama caleg yang ingin melakukan reform di DPR dan DPRD agar lebih transparan dan menyampaikan laporan kerja kepada masyarakat," jelasnya.

Selain itu, Ray juga menyarankan agar memperhatikan mengenai Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) para caleg. Karena setidaknya sebagai pejabat publik, caleg harus jujur mengenai kekayaan mereka.

KPK menyebut bahwa tingkat kepatuhan pelaporan LHKPN oleh DPR/D tergolong rendah. Untuk pelaporan LHKPN 2018 yang batas pelaporannya 31 Maret 2019, sebanyak 207 anggota DPR RI tercatat belum melaporkan LHKPN. Sedangkan di tingkat DPRD, tercatat 5.543 anggota DPRD belum melapor LHKPN.

"Kita mendorong KPU menunjukkan calon petahana di DPR atau DPRD yang tidak melaporkan LHKPN. Karena itu kepatuhan awal untuk melaporkan kekayaan itu. LHKPN itu masih perlu terobosan. Sikap itu sangat penting bagi seorang pejabat publik," tutupnya. [fik]

Topik berita Terkait:
  1. DPR
  2. Pemilu 2019
  3. Caleg
  4. LHKPN
  5. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini