Syukuran hasil bumi, warga Magelang gelar kirab Tumpeng Jongko

Rabu, 24 Desember 2014 13:36 Reporter : Hery H Winarno
Syukuran hasil bumi, warga Magelang gelar kirab Tumpeng Jongko Ritual Nyadran Pengikut Bonokeling di Banyumas. ©2012 Merdeka.com

Merdeka.com - Masyarakat kawasan Gunung Andong di Dusun Mantran Wetan, Desa Girirejo, Kabupaten Magelang, Jateng, Rabu, menggelar tradisi merti dusun 'Tumpeng Jongko'. Hal ini dilakukan sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan atas hasil pertanian sayuran yang menjadi penghidupan mereka setiap hari.

Prosesi tradisi dimulai dengan kirab gunungan tumpeng berupa nasi putih setinggi sekitar 1 meter yang dihiasi dengan empat ingkung dan berbagai sayuran hasil bumi Dusun Mantran Wetan, Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang. Kirab sejauh sekitar 1 kilometer dimulai dari halaman rumah warga setempat, melewati jalan-jalan dusun itu, hingga halaman rumah Kepala Dusun Mantran Wetan Handoko (48).

Saat kirab, setiap warga membawa tumpeng dan ingkung dari rumah masing-masing. Warga setempat berjumlah 142 keluarga atau sekitar 560 jiwa, yang hampir semua bekerja sebagai petani sayuran.

Mereka melantunkan tembang bernuansa Islami sepanjang kirab, sedangkan jalan dusun dihiasi dengan ancak, berupa sesaji nasi tumpeng ukuran kecil, bunga, dan dupa. Gunungan tumpeng ukuran besar ditandu oleh empat laki-laki, seorang lainnya berjalan paling depan sambil membawa wadah berisi kemenyan.

Modin dusun, Muhammad Thohir (45), memimpin doa kenduri di halaman rumah kadus setempat, sedangkan Kadus Handoko dan pemuka warga, Supadi Haryanto (44), menyampaikan pidato berbahasa Jawa tentang penjelasan atas tradisi merti dusun 'Tumpeng Jongko'.

Handoko menjelaskan tradisi turun-temurun tersebut sesungguhnya dilaksanakan pada setiap Rabu Pahing pada Sapar dalam kalender Jawa, tetapi pada Sapar tahun ini tidak ada Rabu Pahing, sehingga tradisi itu jatuh pada Rabu Pahing pada Mulud.

"Acara warga ini melestarikan warisan leluhur dusun, untuk doa kepada arwah leluhur, doa untuk keselamatan warga dan menguatkan semangat persaudaraan warga dusun dan kita semua," katanya dalam bahasa Jawa.

Supadi Haryanto yang juga Ketua Sanggar Andong Jiwani (kelompok kesenian petani setempat) menjelaskan tentang tradisi 'Tumpeng Jongko' sebagai ungkapan doa dan syukur atas berkah Tuhan selama ini, dengan harapan segala keinginan baik masyarakat pada masa mendatang bisa terkabul.

"Supaya warga mendapatkan berkah yang melimpah, penghidupan yang cukup, kehidupan keluarga yang selalu bahagia dengan pertaniannya dan terus menghidupi kesenian tradisional. Juga terbebas dari sebagai bencana," katanya.

Masyarakat setempat, katanya, saat ini sedang masa tanam aneka sayuran, antara lain kubis, cabai, terung, wortel, buncis, kentang, dan tomat. Panenan mereka, selain untuk kebutuhan rumah tangga, juga untuk dipasok ke berbagai pasar sayuran di sejumlah kota.

Rangkaian tradisi merti dusun "Tumpeng Jongko" dimeriahkan dengan pementasan berbagai kesenian tradisional, antara lain Jaran Kepang Papat, Warok Anak, Topeng Ireng Putra dan Putri, dan Leak Kuda Lumping (Mantran Wetan).

Selain itu, Kuda Lumping Putra dan Putri (Dusun Padan, Desa Nglarang, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang dan Desa Polobogo, Kecamatan Getasan), serta performa Truntung Gejayan (Dusun Gejayan, Desa Banyusidi, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang).

Belasan pedagang berasal dari berbagai desa tetangga memanfaatkan keramaian tradisi di dusun setempat dengan menggelar aneka dagangan, seperti mainan anak, makanan serta minuman. [hhw]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Tradisi Jawa
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini