Sylvi tanya kekerasan verbal ke wanita, Ahok sindir serangan fitnah

Jumat, 10 Februari 2017 21:34 Reporter : Fikri Faqih
Sylvi tanya kekerasan verbal ke wanita, Ahok sindir serangan fitnah Kandidat debat Pilgub DKI. ©2017 merdeka.com/Muhammad Luthfi Rahman

Merdeka.com - Di sesi saling tanya jawab, Calon Wakil Gubernur DKI Sylviana Murni tak menanyakan program ke pasangan nomor dua Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat. Sylvi menyinggung Ahok yang pernah memaki perempuan di depan umum.

"Bagaimana gubernur menurunkan tingkat kekerasan perempuan padahal gubernur lakukan kekerasan verbal?," tanya Sylvi saat debat cagub DKI, Jumat (10/2).

Ahok yang mendengar pertanyaan itu pun tertawa. Ahok menyayangkan pasangan nomor urut satu tak bertanya soal program.

"Ini terus fitnah dipakai tak program lucu juga. Saya menyadari LSM di Jakarta banyak kenapa kekerasan di DKI, KDRT tinggi karena berani melapor. Makanya saya dulu izin ingin membangun apartemen di tanah polisi dan TNI. Karena kami ingin menumpang buat titip korban kekerasan," kata Ahok.

Mengenai tuduhan Sylvi, Ahok menjelaskan, kasus tersebut terlalu dibesar-besarkan. Perempuan itu, kata Ahok, mau ambil Kartu Jakarta Pintar (KJP) secara kontan yang jelas dilarang.

"Buktinya ibu-ibu demen foto sama Ahok berbondong-bondong. Kalau saya lakukan kekerasan istri saya bakal kabur duluan kali. Jangan pakai fitnah buat jatuhkan lawan, tetapi pakai program. Nomor 1 ini program juga ngambang kayak CCTV. Asal tahu saja Ibu Sylvi ini enggak mau kenal sama PNS yang golongan rendah makanya dia enggak tahu ada penyandang disabilitas di Pemda," kata Ahok.

Agus kemudian menanggapi jawaban Ahok. Agus pun tak terima dibilang menebar fitnah. Padahal, kata Agus, peristiwa tersebut telah menjadi viral di mana-mana dan bukan hoax.

"Itu Bapak pertontonkan kekerasan verbal, dipertontonkan judgement depan publik. Kekerasan verbal lebih sakit daripada kekerasan fisik apalagi dipamerkan depan publik," kata Agus.

Agus menambahkan, bagaimana mungkin dalam keluarga dekat bila kita ingin melindungi wanita tetapi malah melakukan kekerasan verbal. Selain itu, Agus juga menuding Ahok dan Djarot tak mempunyai program baru.

"Bapak bilang program bagus, sebetulnya tidak ada yang baru," ucapnya.

Djarot kemudian menanggapi penyataan Agus. Menurut Djarot, kata-kata tegas memang diperlukan dalam melakukan pendidikan di Jakarta. Tujuannya, agar mendidik moral yang jujur dan bertanggungjawab.

"Tetapi bukankah sekarang Pak Ahok sudah jadi Basuki. Proses ini bagian penting untuk benar-benar tindakan korektif. Kami antikorupsi, kami antipenyelewengan, untuk pendidikan di Jakarta harus shock terapi. Saat ini data menujukan tidak ada penyalahgunaan KJP. Artinya KJP ditunjukan buat kepentingan anak bukan ibunya," tandas Djarot. [eko]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini