Survei LSI: Partai dan capres Islam semakin tak diminati

Senin, 15 Oktober 2012 03:21 Reporter : Nurul Julaikah
Survei LSI: Partai dan capres Islam semakin tak diminati Pilkada. www.antaranews.com

Merdeka.com - Hasil Survey Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menyebut, elektabilitas calon presiden dan partai Islam terus menurun. Turunnya elektabilitas capres ini karena tokoh-tokoh populer partai Islam kalah pamor dari tokoh-tokoh dari partai nasionalis.

"Tokoh-tokoh partai Islam seperti Hatta Rajasa, Suryadharma Ali, Muhaimin Iskandar dan Lutfi Hasan memiliki tingkat pengenalan rendah, rata-rata masih di bawah 60 persen," ujar peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Adjie Al Alfarabi, saat menyampaikan hasil survei di kantornya, Jakarta Timur, Minggu (14/10).

Sementara, tokoh-tokoh partai nasionalis seperti Megawati Soekarnoputri, Aburizal Bakrie, Prabowo Subianto dan Wiranto tingkat popularitasnya di atas 60 persen. Rendahnya popularitas tokoh partai Islam berpengaruh terhadap dukungan publik pada mereka.

"Hatta Rajasa 3,2 persen, Muhaimin Iskandar 0,3 persen, Suryadharma Ali 2,1 persen dan Lutfi Hasan Ishaaq 0,8 persen," tandasnya.

Ada pun dukungan terhadap tokoh dari partai nasionalis rata-rata mencapai persentase di atas 15 persen. Yakni Megawati Soekarnoputri 20,2 persen, Prabowo Subianto 19,3 persen dan Aburizal Bakrie 18,1 persen.

Jika kondisi dalam survei ini tetap bertahan, lanjut Adjie, maka peluang tokoh partai Islam untuk maju sebagai calon Presiden pada Pemilu 2014 mendatang sangat kecil. Karena dengan perolehan suara seperti itu, maka tokoh partai Islam hanya akan menjadi capres divisi tiga.

"Capres divisi tiga adalah capres yang dukungan terhadap partai politik maupun kandidat presidennya masih kecil. Capres divisi tiga juga bukan berasal dari tiga partai besar perolehan suara," imbuh Adjie.

Terkait elektabilitas partai Islam yang terus menurun, hasil survey menunjukkan jika Pemilu digelar hari ini perolehan suara untuk partai Islam hanya 21,1 persen. Padahal pada pemilu pertama tahun 1955, partai Islam secara keseluruhan memperoleh suara 43,7 persen.

"Pada Pemilu pertama tahun 1955, secara keseluruhan partai Islam memperoleh suara 43,7 persen, perolehan ini terus menurun dari waktu ke waktu," tambahnya.

Pada Pemilu 1999 atau Pemilu pertama setelah masa Orde Baru, kata Adjie total suara partai Islam juga mengalami penurunan menjadi 36,8 persen. Perolehan suara ini sempat mengalami kenaikan pada Pemilu selanjutnya, yakni pada Pemilu 2004 di mana partai Islam mendapatkan perolehan suara 38,1 persen.

Namun jumlah itu kembali mengalami penurunan tajam pada Pemilu 2009 menjadi 25,1 persen.

Survei yang dilaksanakan LSI pada 1 hingga 8 Oktober 2012 dengan mengambil sampel 1200 responden, perolehan suara partai Islam menunjukkan kembali tren penurunan menjadi 21,1 persen.

"Ini fakta menarik. Penduduk kita mayoritas Islam, tetapi tidak menjadikan partai Islam sebagai pilihan. Islam menjadi aspek yang lebih bersifat pribadi dan tidak terwujud dalam aspirasi masyarakat," jelas Adjie.
Hasil survey ini menegaskan, parpol Islam tidak masuk dalam 5 besar jika Pemilu diselenggarakan hari ini. Hal ini, justru berbanding terbalik dengan partai berbasis nasionalis, seperti Partai Golkar, PDIP, Partai Demokrat, Partai Gerindra 5,2 persen, dan Partai Nasdem.

"Parpol berbasis nasional atau kebangsaan adalah partai yang berasaskan pancasila atau basisnya adalah non agama," kata dia.

Beberapa alasan mendasar yang menyebabkan turunnya partai Islam, seperti menyangkut keinginan masyarakat yang tidak menginginkan politik nasional beraroma agama. Penegasan ini didasarkan atas angka sebesar 67,8 persen pemilih muslim yang lebih memilih partai nasionalis.

"Islam Yes, Partai Islam No, jargon ini sudah menjadi kenyataan. Bukan sekedar ide atau gagasan yang disampaikan Cak Nur (Nurcholish Madjid)," imbuhnya. [lia]

Topik berita Terkait:
  1. Pemilu 2014
  2. Survei LSI
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini