Soal Nasionalis Gadungan, PSI Dinilai Singgung PDIP

Rabu, 13 Februari 2019 13:57 Reporter : Muhammad Genantan Saputra
Soal Nasionalis Gadungan, PSI Dinilai Singgung PDIP Ferdinand Hutahaean. ©2019 Merdeka.com/Nur Habibie

Merdeka.com - Kadiv Advokasi dan Bantuan Hukum DPP Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean melihat pernyataan Ketum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie soal nasionalis tapi gadungan menyinggung rekan koalisinya sendiri, yaitu PDI Perjuangan.

Sebelumnya, Grace mengatakan, banyak partai yang mengaku nasionalis tapi gadungan. Contohnya karena partai tersebut kerap melakukan korupsi.

"Saya lebih melihat itu sebetulnya ya Grace membicarakan partainya, kalau dia mau menyindir teman koalisinya yang lain ya mungkin juga, apalagi PDIP kan kita lihat bicara nasionalis tapi koruptor nya paling banyak ditangkapin sekarang kan yang terbaru (Bupati Kotim Korupsi) Rp 5,8 Triliun ya. Jadi mungkin juga Grace menyindir PDIP," katanya saat dihubungi, Rabu (13/2).

Dia memandang PSI sakit hati karena Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok masuk PDIP. Padahal, menurutnya, PSI selama ini identik dengan partai yang kerap membela sosok Ahok.

"Karena kan saat ini PSI berharap bahwa Ahok akan di sana, memang partai itu kan boleh kita katakan partai Ahokers, tapi Ahok nya sendiri lari ke PDIP, mungkin saja karena faktor faktor sakit hati dan dia menyindir PDIP sebagai partai nasionalis gadungan karena koruptor nya banyak belakangan ini," jelasnya.

Meksi begitu, Jubir Prabowo-Sandi ini menambahkan, tidak ada partai nasionalis gadungan. Sebab, partai-partai lain platformnya jelas yakni Indonesia raya, Pancasila, UUD 45 dan NKRI.

"Sebenarnya mereka ini sumber dananya siapa dari mana kan kita belum tahu ini, sementara mereka terlihat begitu wah dan begitu mewah," ujar Ferdinand.

Sementara itu, Politisi PDI Perjuangan Eva Kusuma Sundari mengatakan, partainya adalah partai nasionalis religius. Menurutnya, korupsi adalah masalah umum termasuk partai Demokrat yang pernah mengalami.

"Konstitusi PDIP tetap nasionalis religius, tidak ada pergantian ideologi. Soal korupsi adalah anomali kader," tegasnya saat dihubungi.

Menurutnya, banyak kader PDIP yang berintegritas dan menyuarakan keras soal anti korupsi. Partai berlambang banteng tersebut juga berhasil melakukan capaian capaian tentang keberhasilan mencegah korupsi melalui sistem yang terukur.

"Masih banyak yang baik seperti Risma, Ganjar, Azwar Anas yang dijadikan model oleh KPK karena kebijakan kebijakan publiknya mengatasi korupsi. Jadi PDIP melalui sistemnya sudah berhasil menelorkan kader kader terbaik model tersebut walau ada yang offsides. Yang penting upaya PDIP terukur, dan ada hasilnya ada," tutup Eva.

Sebelumnya, Grace menjelaskan, kombinasi antara kian maraknya gerakan kebencian dari kaum intoleran dengan perilaku koruptif figur publik khususnya pejabat pemerintah, telah secara langsung melemahkan rasa persatuan di dalam masyarakat.

Hal ini disampaikan Grace dalam pidato politik di Festival 11 Yogyakarta di Graha Pradipta Jogja Expo Center pada Senin 11 Februari 2019. Acara tersebut dihadiri sekitar 2.00 peserta yang terdiri dari pengurus, kader, dan simpatisan PSI asal Yogyakarta dan sekitarnya.

"Mengaku nasionalis tapi ikut meloloskan perda-perda agama yang diskriminatif. Mengaku nasionalis tapi ambil bagian dalam kekuatan politik tengah yang bungkam ketika rumah-rumah ibadah ditutup dan orang-orang seperti Ibu Meliana dipersekusi. Mengaku nasionalis tapi rutin mengirim kader-kader mereka ke KPK," sindir Grace. [fik]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini