Simbol politik Jokowi di balik pernikahan Kahiyang-Bobby

Kamis, 9 November 2017 10:51 Reporter : Rizky Andwika
Pernikahan Kahiyang-Bobby. ©2017 istimewa

Merdeka.com - Pernikahan anak kedua Presiden Joko Widodo ( Jokowi) Kahiyang Ayu dan Bobby Alif Nasution disebut mempertontonkan simbol politik yang kental di dalamnya. Pernikahan yang digelar di Graha Saba Buana, Solo, Jawa Tengah, Rabu (8/11) tersebut 'menghadirkan' sejumlah simbol politik. Apalagi, menjelang pemilihan presiden tahun 2019.

Pengamat Politik Universitas Padjajaran Muradi menilai pernikahan Kahiyang dan Bobby Nasution sebagai ajang untuk menguatkan posisi Jokowi dalam Pilpres tahun 2019.

"Pernikahan tak serta semata-mata hanya bicara soal pernikahan laki-laki dan perempuan. Kita lihat konteks politik simbolis politik jawa untuk penguatan 2019," kata Muradi saat dihubungi merdeka.com, Kamis (9/11).

Muradi melihat simbol politik dari Jokowi saat prosesi akad nikah. Dalam akad nikah, Wakil Presiden Jusuf Kalla menjadi saksi dari mempelai perempuan. Sementara, Menko Perekonomian Darmin Nasution menjadi saksi dari mempelai pria.

Simbol politik terlihat kala ada nama Ketua Umum MUI yang juga Rais Aam PBNU Ma'ruf Amin dan nama mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif menjadi pendamping dalam akad nikah.

Keduanya dianggap sebagai perwakilan dua ormas Islam terbesar di Indonesia yaitu NU dan Muhammadiyah untuk memberi gambaran bahwa Jokowi telah 'merangkul' kedua ormas. Sebelum akad nikah, diawali pula oleh doa secara bergantian dari Ketua Umum PBNU Said Aqil dan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nasir.

"Ini simbolis dalam politik jawa. Itu menjadi penting untuk memperkuat basis," kata Muradi.

Rangkul Militer

Selain merangkul dua ormas Islam terbesar di tanah air, Muradi menilai Jokowi ingin pula merangkul kalangan militer. Dia mencontohkan, kala Jokowi menunjuk nama mantan Panglima TNI Jenderal (purn) Moeldoko sebagai perwakilan keluarganya memberikan sambutan dalam resepsi yang digelar pada malam hari.

Penunjukan Moeldoko yang mewakili kalangan militer juga dinilai langkah cerdas Jokowi. Muradi menilai Moeldoko menjadi sosok segar dari kalangan militer untuk menguatkan basis kekuatannya.

"Karena kalau munculkan nama LBP (Luhut Binsar Pandjaitan) kan jenuh," kata Muradi.

Selain untuk menghindari 'jenuh' apabila menampilkan nama Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, penunjukan Moeldoko sebagai perwakilan keluarga sekaligus langkah tepat.

Sebab, Moeldoko merupakan orang jawa. Ada pula nama Pangkostrad Letjen Edy Rahmayadi yang mendapat tugas dalam pernikahan. Meski, nama Ketua Umum PSSI itu mendapat tugas dari pihak Bobby Nasution.

"Moeldoko (orang) jawa. Jokowi paham betul untuk memperkuat basis politik ke depan," ujarnya.

Pengamat komunikasi politik dari Universitas Paramadina Hendro Satrio menambahkan Jokowi memilih Moeldoko mewakili keluarganya dalam resepsi merupakan sebuah kode keras dan membuktikan bahwa ada keistimewaan hubungan antara Jokowi dengan Moeldoko.

"Ini kode keras dari Jokowi yang akan meminang Moeldoko masuk Istana," katanya.

Menurut Hendro, Jokowi ingin meminang Moeldoko untuk memperkuat pemerintahan. Dia menilai, nama Ketua Umum HKTI itu dapat menghadapi isu-isu tertentu karena memiliki latar belakang militer apalagi mantan Panglima TNI.

"Sosok Moeldoko mungkin diharapkan bisa memperkuat Istana dalam menghadapi isu toleransi dan keberagaman yang belakangan jadi mainan politik pihak tertentu. Bisa saja Moeldoko mengisi salah satu pos kementerian atau memimpin lembaga baru. Saya memperkirakan kemungkinan memimpin kementerian," ujarnya.

Tamu undangan

Selain simbol politik dari sejumlah tokoh yang mendapat 'peran' dalam pernikahan, Muradi menilai tamu yang diundang oleh Jokowi juga sebagai sebuah simbol.

Muradi melihat langkah Jokowi yang mengundang tamu dari pelbagai lapisan. Mulai dari tokoh politik, kalangan militer, polisi, artis, relawan hingga kalangan warga biasa. Hal ini menunjukkan bahwa Jokowi memberi simbol sebagai sosok yang diterima mau pun dapat merangkul seluruh kalangan.

"Ini menegaskan bahwa kemarin itu untuk penguatan politik. Secara simbolik Jokowi diterima dari bagian semua lapisan, dari lapisan yang bawah sampai atas," kata Muradi. [rzk]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.